Bagian 8

Setelah menyediakan segala sesuatu yang perlu dalam perjalanan, mereka pun memulai perjalanan pulang. Tiga pundi padi yang bernas dibawa serta, akan mereka tunjukkan sebagai bukti pada orang di kampung halaman. Bahwa padi yang mereka bawa sepundi dulu sudah menjadi tiga pundi. Sedang yang ditinggalkan di tanah habungkasan masih banyak benar. Tidak habis dimakan sekeluarga dalam jangka tiga kali panen.

Beberapa potong kulit binatang buruan yang halus hulunya dan sudah dikeringkan dibawa serta. Mereka berusaha, agar yang dibawa, seringan mungkin dan yang perlu saja dalam perjalanan. Tio, selalu menggendong anaknya di punggung.

Mulanya mereka menyusuri sungai ke hulu. Sampai tiba ke lempat arus mulai menderas dan susah dikayuh. Baru mereka mulai menempuh jalan darat. Memenggal-meng-gal hutan belantara, yang dilingkungi hamparan dedaunan hijau lebat, permadani alam yang tebal lagi abadi. Jadi, perjalanan pulang itu pun, sendirinya pula usaha merintis jalan darat, yang kelak dapat digunakan jalan pulang pergi antara kampung halaman dan tanah habungkasan, dan lebih aman daripada menyusuri Sungai Titian Dewata.

Mereka sering berhenti di satu tempat sampai dua tiga hari, mempelajari pintasan jalan yang lebih mudah ditempuh. Begitu pula mengadakan tanda tertentu pada sesuatu pohon, yang dipanjat Ronggur untuk menentukan arah tempuh. Mempelajari jalur lembah dangkal yang banyak dalam hutan, dan memilih tanjakan yang tidak menaik untuk didaki.

Tambah jauh mereka menyusup ke pedalaman hutan, bukit dan lembah tambah banyak mereka temui. Lembahnya tambah dalam dan perbukitannya tambah tinggi. Tanah di lembah dipelajari Ronggur baik-baik. Melalui pengenalannya akan tanah, tahulah dia, tanah itu sangat baik dijadikan perladangan atau persawahan, bila kekayuan hutan sudah ditebang. Sedang pundak perbukitan yang juga ditumbuhi kekayuan tua, bukanlah bukit batu seperti bukit tandus di kampung halaman. Tapi, bukit tanah yang gembur, hitam mengandung kesuburan. Tidak tanah tipis melapisi batu alam.

Tidak jarang pula mereka temui parit kecil yang bermula dari sesuatu dinding bukit yang bercelah. Airnya begitu bening dan dingin. Sejuk. Pada sesuatu mata air begitu, Ronggur selalu mengadakan tanda.

Dalam merintis jalan itu, Ronggur selalu berusaha agar mereka dapat tiba kembali ke tempat air terjun itu. Tapi, di tengah hutan tidak jarang mereka bertemu dengan kumpulan binatang buruan yang enak dagingnya. Dan, tidak jarang pula mereka harus mempertahankan diri dari serangan binatang buas: harimau, beruang, dan kelompok gajah. Penciuman si belang banyak membantu keselamatan rombongan kecil itu. Bila si belang meringis dan mengarahkan penciumannya ke satu arah terus-terusan, cepat mereka mengalih langkah. Menyisih dari tempat sesuatu binatang buas, sarang binatang. Tapi, tidak jarang Ronggur dengan dibantu si belang, harus mengadakan perlawanan mempertahankan diri, kalau kepergok. Dalam saat begitu, Tio memeluk anaknya, sambil berjaga.

Mereka terus menyuruk di bawah hamparan dedaunan hijau yang abadi itu. Terus berusaha mengarahkan langkah ke tempat air terjun itu. Dari sana baru mereka tentukan, pundak bukit yang memanjang sebagai pagar dan batas tanah dataran tinggi kampung halaman dengan tanah habungkasan, yang harus ditaklukkan. Atau, celah bukit mana yang harus diterobos menuju kampung halaman. Dedahanan kekayuan yang berjalinan mendukung dedaunan lebat, menghambat sinar matahari menimpa tanah. Sehingga terasa, jangka siang hari, agak pendek di bawah naungan yang tebal itu.

Anak mereka yang sudah mendekat ketiga purnama usianya, dan sudah dapat melempar senyum di saat dia merasa senang, tidak dapat melempar senyum, sebaik dia turut mendengar suara air terjun yang mengguruh.

Tapi, bila lama-lama mereka berada di sana dan tidak ada sesuatu yang menyakiti tubuhnya, dia tersenyum kembali. Sedang Ronggur mengarahkan tatapan si anak ke air terjun yang memutih kapas itu.

Apa yang ditakutkan Ronggur pada mulanya masih tetap tidak terjadi. Batu jaluran yang ditembus air sungai yang

terjun, masih tetap kokoh pada tempatnya. Tidak terjadi reruntuhan. Tapi, gemuruhnya tetap menderu. Dan, benda putih diambangkan ke atas terus menerus. Bila lama kelamaan ditatapi jatuhnya air itu dan kuping biasa kembali mendengar suara mengguruh itu, yang menyerupai aum harimau, mereka namakan air terjun itu, Sampuran Harimau.

“Tio,” kata Ronggur, setelah beberapa lama mereka terpukau di tempatnya tegak.

Tio memaling wajah pada Ronggur tanpa sahutan.

“Kita istirahat di sini untuk beberapa hari. Melepas lelah. Dari sini kita akan mulai mendaki kaki pegunungan, menaklukkan pundak demi pundak bukit, dan berusaha menerobos celah bukit. Jalan memotong ke kampung halaman. Perjalanan begitu tentu berat. Karena itu, perlu kita istirahat untuk beberapa hari. Agar tenaga kita pulih kembali.”

“Harus di sini kita istirahat?” tanya Tio.

“Ya, agar mudah kita memperoleh air. Lagi pula dinding bukit sebelah sana, terdiri dari batu alam yang tidak keras. Mudah digali. Untuk dijadikan lobang perlindungan. Aku akan memburu binatang buruan, agar cukup daging untuk dimakan nanti dalam perjalanan. Di pundak bukit gundul itu, payah ditemui binatang buruan.”

Mereka menggali lobang perlindungan yang agak luas. Agar memberi ruang yang lapang bagi mereka. Ronggur dan Tio bekerja sama menggalinya. Anak mereka ditidurkan di tanah beralaskan kulit binatang buruan yang lembut. Di sampingnya duduk si belang seperti menjaga. Ekornya dikibaskan, agar tidak ada serangga hinggap ke wajah anak yang sedang tidur nyenyak itu. Menjelang senja Ronggur dan Tio berhenti menggali lobang. Mata mereka patok menatapi permainan warna pelangi aneka rupa berpadu dengan air yang memutih kapas. Sambil menggendong anaknya, Ronggur mengatakan, “Lihat, lihat Tio. Betapa indah. Tari warna yang sempurna.

Begitu indah kalau hujan tidak turun atau kalau kabut tidak menyungkup.”

Tio mengikuti telunjuk jari Ronggur.

Nanar mereka menatapi tari warna pelangi yang aneka ragam itu, mengagumi lukisan alam yang sempurna. Beberapa ekor burung terbang di udara, menuju hutan belantara luas, mencapai sarang. Sayang sekali, cicitnya tenggelam ditelan gemuruh air terjun yang jatuh, tidak kedengaran.

Pada hari berikutnya, tinggal Tio saja yang meluaskan mulut lobang perlindungan dan memperluas ruang dalam. Ronggur sudah pergi berburu bersama si belang. Bila anaknya haus, meminta ditetekkan, dia duduk berjuntai di mulut gua. Mencampakkan pandang ke sekitar, di bawahnya tanah habungkasan yang mereka temui. Oi sebelah kanan, air terjun, dan mengitari itu semua, kaki bukit memanjang lagi tinggi, bukit gundul.

Sejak lahir anak itu sudah disusukannya dan sudah berapa lama itu berlangsung. Tapi, bila saat menyusukan tiba, dan mulut anak itu sudah mengisap-isap muncung buah dadanya, sesuatu perasaan selalu menggeliat dalam dada, rasa keibuan, sumber kasih sayang abadi bagi seorang anak yang lahir dari rahimnya. Tahulah dia, kenapa ada nyanyian alam terpendam pada dedaunan yang berdesir bila disentuh angin lalu, tahulah dia, kenapa pekikan keras lagi sakit waktu melahirkan sang anak bercampur nikmat. Tidak jarang dalam saat begitu, dia memicingkan mata menikmati kesempurnaan rasa bahagia di saat mulut anaknya mengisap muncung buah dadanya. Sedang mulutnya akan mendendangkan lagu seorang ibu, lagu yang menyuarakan perasaan kasih sayang:

Pejamlah mata sayang seorang

kenapa harus kerisik seperti

dedaunan berhalau ditiup angin lalu

dunia terhampar di ujung kakimu

Pejamlah mata anakku seorang

menanti bapak kembali pulang

dari tengah hutan belantara

binatang buruan tersandung dibahu

Pejamlah mata intanku sayang

bila malam jatuh, bulan gemintang

kudekap kau pelukanku hangat

Pejamlah mata buah hati bunda

subuh tiba mula hari baru

berjuta utasan cahaya matahari

menyinari padang kembaramu

Tidak jarang Ronggur pergi berburu seharian. Dia sangat giat mengumpulkan daging binatang buruan. Sesekali dijinjingnya ikan yang dipancingnya. Sedang mulutnya akan cepat mengatakan, “kita harus banyak menyediakan daging. Boleh jadi di pundak pegunungan gundul sana, payah dijumpai binatang buruan.”

Mereka potong tipis daging binatang buruan itu. Kemudian mereka panggang di atas bara sampai kering. Sedang di siang hari, Tio menjemurnya di bawah sinar matahari, agar cukup kering dan tahan lama.

Bila Ronggur tidak pergi berburu, dia tambah sering mencampak pandang ke air terjun itu dengan berlama-lama. Begitu tekun. Suatu perasaan merangsang dirinya, terbayang di wajahnya. Dia tidak dapat mengucapkan melalui bentuk kata yang cukup tepat. Tapi, dia telah merasakan. Tio selalu

memperhatikannya di saat begitu. Dan, Ronggur merasakan, alangkah susahnya dia untuk mengucapkan yang sedang bergolak di dadanya, yang ditimbulkan air terjun itu. Sekali waktu Tio mengganggunya dari menung menatapi air terjun itu, “Bertambah hari, kulihat abang bertambah tekun melihatnya. Tak bosan.”

Sambil mengalih pandang pada Tio yaYig berdiri dekatnya, Ronggur menyahut, “memang benar dugaanmu, Tio.”

“Tapi, aku merasa takut digertak suaranya yang terus menerus mengguruh itu. Kalau tidak bersama abang, aku tidak kerasan di sini.”

Lama Ronggur menumpu pandang ke mata Tio. Lama bibirnya bergerak-gerak, namun seucap kata belum melepas dari bibirnya.

“Ada apa Bang?” tanya Tio. Membangunkan Ronggur dari kebisuannya.

“Aku tidak tahu Tio,” sahutnya. “Ada sesuatu yang kurasakan. Yang timbul dari air terjun ini. Perasaan itu melumpuhkan segala ketakutanku pada air terjun itu. Malah dibuatnya sesuatu rasa bersyukur.”

“Kenapa begitu?”

“Perasaan itu seperti membisikkan padaku bahwa air terjun ini mengandung suatu manfaat. Menjanjikan sesuatu kebahagiaan pada manusia.”

“Manfaat apa?” tanya Tio terbodoh.

“Manfaat bagi kehidupan manusia.”

Seketika mereka bertatapan tanpa mengucapkan kata. Biji mata Tio begitu bening tapi jelas tampak tidak mengandung pengertian akan apa yang diucapkan Ronggur. Sedang Ronggur kemudian mengalih pandang ke air terjun itu, sambil mengatakan, “kurasakan, justru karena adanya air terjun ini,

membuat arus sangat deras. Karena tempat jatuhnya begitu tinggi dan curam, binatang air yang menakutkan dan buas itu tidak bisa datang ke DanauToba.”

“Itu boleh jadi,” sahut Tio berusaha mengerti. “Di samping itu, masih ada manfaat lain dikandung air terjun ini.”

“Apa lagi?” tanya Tio mendesak. Akhirnya dia sendiri ingin mendengarkan yang dirasakan Ronggur.

“Kurasakan air terjun ini mempunyai suatu tenaga yang sangat besar dan kuat. Selalu perasaanku berkata begitu. Dan, bila tenaga yang terkandung di air terjun ini digunakan manusia untuk kehidupannya, maka hidup manusia akan lebih berbahagia. Orang kelak akan dapat menggunakannya untuk kehidupannya. Sekarang memang yang kita lihat, darinya timbul bencana saja. Coba kalau diri diterjunkan bersama air terjun pasti lumat. Darinya timbul anggapan selama ini, Sungai Titian Dewata jatuh ke ujung dunia. Hingga tak seorang pun selama ini berani menyusurinya untuk mencapai tanah habungkasan. Tapi, nanti, entah kapan, bila orang menggunakan tenaga yang terkandung di air terjun ini, maka tenaga yang disimpan air terjun ini bisa memberi arti yang bernilai bagi -kehidupan manusia.”

Tidak dapat Tio membumbui cakap Ronggur. Namun dia tidak membantah seperti kebiasaannya yang tidak mau membantah cakap Ronggur, walau dia tidak dapat mengartikannya.

“Karena itu,” kata Ronggur selanjutnya, “jangan lagi takut padanya. Jangan lagi kutuk dia. Tapi, haruslah merasa bersukur karena dia ada. Bersukurlah, karena dia menjanjikan sesuatu kebahagiaan bagi kehidupan manusia di masa datang.”

Tio mencampak pandang ke tempat air terjun itu jatuh. Air yang jatuh berputar pada lingkaran berbentuk kolam, arusnya gelisah membentuk suatu pusingan yang cepat, yang bisa

menenggelamkan lalu menghancurkan sesuatu yang jatuh ke sana. Tio merasa ngeri melihatnya. Tio takut dibuatnya. Tapi, semua perasaan itu ditekannya habis-habis, agar dia tidak membantah yang dikatakan dan dirasakan Ronggur. Malah dia ingin turut merasakan yang dirasakan Ronggur, tapi perasaannya belum juga merasakannya.

Setelah beberapa hari istirahat dan tenaga mereka sudah pulih kembali, mereka melanjutkan perjalanan pulang. Jalanan yang harus ditempuh, langsung mendaki bukit. Sesekali menyusur di tebingnya, mencapai sesuatu celah, lalu menembusnya untuk kemudian terus lagi mendaki sampai pundak bukit ditaklukkan. Perjalanan yang memayahkan.

Perjalanan mereka agak lambat. Dalam sehari, terkadang hanya sepundak atau dua pundak bukit saja yang dapat mereka taklukkan. Ronggur selalu memilih celah bukit tempat bermalam, agar terlindung dari serangan angin yang cukup kuat. Tio menggendong anak mereka. Sedang Ronggur memikul peralatan. Si belang mengikut di belakang, atau terkadang berlari di depan. Menggonggong dan menggunakan penciumannya.

Dengan mengenali pundak bukit mencari celah pertemuan bukit, rombongan kecil itu terus mendaki pundak demi pundak bukit yang berlapis-lapis, menuruni lembah batas perbukitan yang berlapis-lapis itu untuk mendaki lagi. Tidak mengenal lelah, tidak mau henti sebelum matahari tenggelam. Dan, akhirnya lapisan bukit itu dapat ditaklukkan. Lalu lembah dataran tinggi, yang dilingkari lapisan bukit demi bukit melingkar dan memanjang, lembah kampung halaman, telah berada kembali di hadapan pandang. Di tengahnya, tenang, bersama kebiruannya yang damai, danau kesayangan, mengitari Pulau Samosir. Di sekitar tepian danau, bertumpuk rimbunan bambu duri, pertanda perkampungan.

Mereka bertatapan untuk kembali mencampak pandang ke lembah perkampungan yang sudah sekian lama ditinggalkan.

Ronggur mengambil anak mereka dari gendongan Tio. Tangan anak itu dituntunnya menunjuk ke arah perkampungan sambil mulut Ronggur berkata, “Itulah kampung nenek moyangmu, ananda.”

Mereka menarik napas lega, terutama Tio. Dan, karena udara kembali dingin, mereka telah memakai kulit binatang buruan yang halus bulunya. Terlebih anak mereka. Diselimuti baik-baik sehingga tidak merasakan udara dingin. Dalam hayalnya Tio telah mengatakan pada diri sendiri bahwa dia akan membawa sisa anggota keluarga marganya ke tanah habungkasan, agar bisa bebas dari nasib jelek yang menimpa marga. Dia membayangkan betapa bahagia keluarga marganya, mengecap nikmat udara kemerdekaan, setelah sekian lama harus menjadi budak orang lain.

Tiba-tiba saja Ronggur memecah kesunyian itu, “Tio, satu perjalanan panjang, menembus Sungai Titian Dewata, mengarungi rimba alam abadi, telah kita laksanakan dengan berhasil. Walaupun dengan susah payah. Tapi, di hadapan kita, menanti tugas baru. Kita harus menaklukkan dan menguasai alam pikiran orang di kampung halaman, yang mempercayai bahwa Sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia. Bila hasil perjalanan ini kita sampaikan pada mereka, maka sendi kepercayaan mereka berarti digoyang. Pekerjaan begitu tidak akan mudah. Merombak keyakinan seseorang, menggantinya dengan kepercayaan baru tidaklah kerja mudah. Akan jauh lebih payah daripada menaklukkan pundak bukit yang cukup tinggi. Karena itu, kau harus tabah nanti menerima segala sikap yang mengejek dan menantang. Yang mungkin menyakitkan hati, atau membahayakan jiwa. Tapi, ketahuilah Tio, aku cinta padamu. Kaulah seorang perempuan yang telah berani menemani aku menempuh satu perjalanan yang menantang keyakinan orang sekitar yang telah turun temurun menguasai alam pikiran mereka. Kau telah mengorbankan alam pikiranmu sendiiri untuk mengikuti jejakku. Aku berhutang budi padamu dan aku cinta padamu.”

Lama Tio terdiam. Kemudian dengan tidak dapat dilawannya, dia telah menyandarkan kepala ke bahu Ronggur. Dia mengisak di sana. Tanpa mengatakan sesuatu. Ronggur mengelus rambutnya dengan sebelah tangan, sedang tangan sebelah lagi, menggendong anaknya.

Perlahan Tio mengangkat kepalanya. Bertatapan dengan Ronggur. Kemudian sama-sama mereka mencampak pandang ke lembah di bawah, lembah perkampungan. Tangan kiri Ronggur menggendong anaknya, tangan kanannya memeluk pinggang Tio. Oi ujung kaki duduk si belang menjulurkan lidah, menatap ke arah yang sama.

“Ronggur,” kata Tio, “maukah kau membawa sisa warga margamu ke tanah habungkasan?”

“Tentu, sudah tentu,” jawab Ronggur, “mereka anak manusia seperti kita. Mendambakan bahagia dalam hidupnya. Dan di samping itu, mereka jaluran paman anakku. Jaluran famili yang harus kuhormati, apalagi anakku.”

Orang di kampung halaman sebenarnya telah lama melupakan mereka berdua. Tidak menjadi bahan percakapan lagi. Kenangan terhadap mereka bertambah tipis lalu menghilang bersama bertukarnya penanggalan hari, tenggelam, dan timbulnya kembali purnama. Orang melupakan mereka dengan ucapan yang tumbuh dari kepercayaan mereka:

“Dikutuk dewata dan para arwah. Matinya, mati terkutuk. Arwahnya akan disumpahi Mula jadi Na Bolon.”

Sedang ibu Ronggur, karena terus menerus menanggung rindu dan tidak tahan mendengar ejekan yang diarahkan pada anaknya dan padanya sendiri, karena dia seorang ibu yang melahirkan anak durhaka, tidak berapa lama setelah Ronggur dan Tio berangkat dulu, pulang ke tempat asalnya, ke hadapan Mula Jadi Na Bolon.

Pada mulutnya, ibu tua itu masih mengharapkan anaknya cepat kembali. Tapi, setelah beberapa kali purnama tenggelam dan terbit lagi, dan anaknya tidak pulang juga, membuat kemauan hidup melemah. Lalu, berakhirlah hidupnya.

Orang percaya, arwahnya akan tidak diterima Mula Jadi Na Bolon dengan baik. Di saat mati, dia tidak punya apa-apa. Hingga dia dikebumikan tanpa upacara dan gondang. Para dewata tidak akan datang menjemput arwahnya ke tempat yang baik melalui Sungai Titian Dewata. Karena para dewata tidak diberi tahu atas kematiannya, melalui pukulan gondang yang dipalu dan mengorbankan beberapa ekor babi serta ayam putih.

Tapi, bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan, tidak bosannya, setiap hari mencampakkan pandang ke arah matahari terbit. Meneliti pundak bukit dan celah bukit yang ada di sebelah timur. Dia masih tetap percaya, Ronggur dan Tio akan kembali membawa berita ria. Pertanyaan yang sebenarnya berupa ejekan yang diajukan orang padanya, selalu disahutnya dengan baik.

“Sudah pulangkah Ronggur dari tanah habungkasan? Sudah ditemuinya tanah habungkasan yang dijanjikan setan itu? Kapan pulang, si anak durhaka itu?”

“Dia akan pulang membawa berita ria bahwa tanah habungkasan yang dijanjikan para dewata telah ditemuinya. Ronggur anak yang memperoleh petunjuk secara langsung dari dewata. Dia anak yang berbahagia.”

“Apa kau katakan? Para dewata mengganti setan? Patutlah ramalan tenungmu tidak ada yang benar.”

“Bukan setan yang menggoda. Tapi, dia telah dilahirkan untuk menyampaikan kehendak dan pesan dewata.”

Orang lalu tertawa. Kemudian orang itu melanjutkan, “Bukankah kau yang membuat ayah si Ronggur menemui ajal, karena kau ajak dia menyusuri Sungai Titian Dewata?”

“Kami mengalami kegagalan yang mengakibatkan kecelakaan itu. Aku akui, tekadku kurang kokoh waktu itu. Aku meloncat dari biduk membuat keseimbangan biduk hilang. Ayah Ronggur menemui ajal karena kecelakaan itu.”

Mendengar sahutan begitu, orang menjadi ramai tertawa lalu pergi sambil berkata, “Orang gila. Si tua gila.”

Tapi, lama kelamaan orang tidak mau lagi mengganggu, mencakapinya. Orang membiarkan menatap ke arah matahari terbit setiap pagi. Orang tidak mengacuhkannya lagi. Malah orang sudah sependapat, dia seperti tidak ada lagi. Orang tidak memanggilnya ke pertemuan marga dan ke sidang kerajaan marga.

Berita yang datang dari kampung sekitar, baik mengenai perdamaian, begitu pula mengenai peperangan yang terus-menerus meletus, antara satu marga dengan marga lain, antara satu suku dengan suku lain, dan antara satu lunak dengan luhak lain tidak disampaikan orang padanya.

Malah waktu marganya sendiri harus berperang karena memperebutkan hutan di teluk danau itu, yang berakhir atas kemenangan marganya, waktu itu pun, tenaganya tidak diminta orang membantu marga. Marga yang dikalahkan marganya itu, akhirnya harus membayar upeti pada kerajaan marga. Membuat marga mereka menjadi lebih berkuasa, kuat, dan kaya. Persawahan dan perkampungan tambah banyak mereka kuasai. Orang yang kalah, yang dapat dihancurkan kerajaan marganya, bila tertangkap, dijadikan budak belian. Sedang yang sempat melarikan diri, pergi ke kaki bukit terpencil, ke tanah batu yang sama sekali tidak baik dijadikan persawahan, menjadi orang buruan. Sedang kerajaan marga yang tidak sempat dihancurkan, lalu meminta damai setelah melepaskan haknya atas apa yang diperebutkan, harus pula membayar upeti pada kerajaan marga mereka.

Orang tua itu membiarkan rambutnya panjang. Sehingga sudah sampai di pundak. Memutih uban. Pipinya cekung.

Wajahnya bertambah lancip. Tapi, sinar matanya tetap mengandung sinar kepercayaan. Tidak melesu. Dan, pagi itu sinar mata tambah bening dan bersinar. Dijauhan ada tiga benda kecil dilihatnya bergerak-gerak di kaki bukit sebelah timur. Setiap saat benda yang bergerak itu mendekat atau menurun ke lembah perkampungan mereka.

Matahari bersinar terang. Tidak ada awan di langit. Tanpa disadarinya dia bertempik dan berlari ke tengah kampung, sampai orang pada tercengang. Terlebih karena dia meneriakkan, “Mereka telah kembali. Ronggur telah kembali dari tanah habungkasan. Mereka sedang menuruni kaki gunung sebelah timur.”

Orang bertemperasan ke luar rumah lalu terus pergi ke gerbang kampung sebelah timur. Menatap dengan patok ke arah yang dimaksud orang tua itu. Mereka juga memang melihat ketiga titik yang bergerak itu. Belum pernah seorang manusia pergi ke sana. Karena gunung itu gunung angker menurut kepercayaan mereka. Apalagi bila orang menurun dari pundaknya, tempat matahari muncul.

Pagi itu juga kerajaan marga mengadakan sidang. Diputuskan untuk mengirim kurir penunggang kuda, menyelidiki keadaan sebenarnya. Kalau memang itu rombongan Ronggur supaya dibawa pulang.

Sebanyak tiga orang penunggang kuda bergerak. Mereka bawa juga dua ekor lagi kuda, yang tidak punya beban. Hati tiap orang tambah gemuruh. Setiap orang melahirkan anggapan dan duga demi duga. Apa yang akan terjadi. Atau apa yang telah terjadi? Warta apa yang akan datang?

Datu Bolon Gelar Guru Marlasak, masih mengatakan bahwa itu bukan rombongan Ronggur. Tapi, binatang liar lagi buas. Percakapan menjadi simpang siur. Namun setiap orang lebih menginginkan bersikap menanti, apa yang akan disampaikan penyelidik yang sudah dikirim kerajaan.

Sampai sore orang semua tinggal menanti. Tidak ada yang turun ke sawah. Tidak ada yang turun ke danau. Tiap orang seperti terpacak di tempat masing-masing.

Bila senja telah mulai memerah di langit, mencampakkan sinar yang beraneka warna ke permukaan danau, mereka sudah dapat melihat kepulan debu mengepul ke udara. Penyelidik penunggang kuda sudah pulang. Kuda yang dua ekor lagi sudah ada penunggangnya. Tambah lama, bersama dengan bertambah merahnya warna senja, rombongan itu bertambah dekat. Orang terus saja dapat mengenali bahwa penunggang kuda yang keempat, Ronggur. Di belakangnya Tio menggendong bayi. Sedang dipangkuan Ronggur, si belang menjulurkan lidah.

Suasana tambah tertekan. Setiap orang terdiam. Setiap hati tambah bertanya. Anak yang sudah disangka mati dikutuk dewata, telah kembali ke tengah mereka. Anak yang dikenal kecakapan, ketabahan, keberanian, dan kekuatan serta keuletannya, tapi sayangnya pula anak yang telah dicoret dari silsilah marga karena digoda setan, dan berusaha meruntuhkan kepercayaan mereka yang bisa membuat dewata marah, telah kembali di tengah mereka.Tanpa kurang sesuatu.

Ronggur melompat dari punggung kuda. Setelah menuntun Tio turun dari pundak kuda, lalu terus mendekat ke orang banyak. Dia tidak langsung menuju ke tempat raja yang juga hadir di sana. Tapi, mendekat pada orang tua yang berambut panjang putih itu. Mereka memberi sembah. Lalu dari mulut Ronggur keluar kata:

“Bapak, Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan, yang tidak pernah salah tafsir tenungnya. Dengan bantuan doa Bapak, anakmu ini telah menemukan tanah habungkasan yang sangat luas lagi landai, juga menemui sebuah danau yang tidak bertepi tapi airnya asin. Namun sangat banyak ikan. Dataran yang landai, ditumbuhi pohon kelapa berjajar, seperti pagar

tepian danau. Di punggungnya, hutan belantara yang sangat hijau lagi luas, memberi imbangan akan luasnya danau yang ada di depannya. Tanah di sana sangat baik dijadikan persawahan. Bukan tanah tipis menyaputi batu alam. Hutan menyimpan binatang buruan yang jinak. Orang yang pergi ke sana, tidak perlu takut kehabisan makanan. Orang yang pergi ke sana, tidak perlu berkelahi karena setitik air parit. Di sana kedamaian akan tercipta, karena setiap orang rajin bisa membuka tanah persawahan sesuka hatinya. Lagi pula, apa yang kita takutkan bahwa penduduk akan sangat padat sedangkan tanah begitu sempitnya karena penemuan tanah habungkasan ini tidak jadi persoalan lagi. Setiap orang bisa punya anak berpuluh-puluh, namun tidak perlu takut kekurangan tanah. Tanah, alangkah gembur dan subur.”

“Di manakah itu, Anakku?” tanya orang tua itu ber-napsu.

“Di seberang ujung dunia. Sebenarnya bukan ujung dunia, Bapak. SungaiTitian Dewata pada salah satu tempat, memang mempunyai arus yang sangat deras. Karena ada air terjun, air harus menuruni sebuah lembah yang sangat curam. Tapi, itulah pula mula tanah landai, tanah habungkasan. jadi, Sungai Titian Dewata tidak pernah putus. Setelah air terjun, Sungai Titian Dewata terus mengalir, membelah dada hutan belantara yang sangat lebat dan rimbun itu.”

“Anakku, berapa keluarga yang dapat di tampung tanah habungkasan yang kau temui itu?”

“Berapa keluarga? Ah, cobalah bapak bayangkan, sejauh mata memandang hanya tanah yang landai yang tampak, tanah yang hijau tidak bertepi. Sampai bertemu dengan kaki langit. Jadi aku tidak dapat mengatakan berapa keluarga. Tapi, semua keturunan si Raja Batak dapat di tampungnya sekaligus dan bersama keturunan yang akan datang tanpa menakutkan bahwa tanah garapan akan habis. Tanah di sana tidak akan habis.”

Sambil menitikkan air mata bening karena gembira, orang tua itu lalu mengatakan:

“Anakku, kau telah melaksanakan petunjuk dewata, sehingga lahir dalam melaksanakan petunjuk dewata, sehingga lahir dalam kenyataan. Setiap orang seharusnya mengucapkan terima kasih padamu dan pada Mula Jadi Na Bolon yang telah menciptakan tanah habungkasan itu. Pertempuran yang sering terjadi antara satu marga dengan marga lain atau antara satu luhak dengan luhak lain, yang kemudian menimbulkan luka serta duka yang dalam dan lebih kejam lagi yang menimbulkan kemelaratan dan golongan tertindas, akan tidak perlu berulang. Setiap orang akan memperoleh kebebasannya kembali mengerjakan tanah, bukankah begitu, Anakku?”

“Ya, Bapak.”

“Terimalah ucapan terima kasihku padamu, Anakku.”

Orang banyak, baik penduduk biasa, pun kerajaan, semuanya terdiam mendengarkan percakapan itu. Tapi, dari mata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak, memancar sinar kebencian dan dendam. Tiba-tiba saja dia berkata, suaranya terus lantang:

“Ronggur, kau telah mengatakan segala dusta. Apakah buktinya bahwa kau telah menemukan tanah habungkasan seperti yang kau dustakan?”

Ronggur mengeluarkan pundi yang tiga itu, yang padinya begitu bernas, lalu, “Waktu aku berangkat dulu dari sini, hanya sepundi kubawa. Sekarang aku bawa tiga pundi padi yang bernas. Sebenarnya hendak kubawa lebih banyak. Tapi, karena perjalanan begitu jauh, lagi pula harus melalui pundak bukit dan celah bukit, aku memutuskan membawa tiga pundi saja sebagai bukti. Tapi, di tanah habungkasan, kutinggalkan padi bagi keperluan orang yang mau pindah ke sana dalam taraf pertama. Menjamin keperluan mereka sebelum saat

panen tiba. Saat panen lebih pendek di sana daripada di sini. Padi lebih cepat matang. Lihatlah, betapa bernasnya padi ini.”

‘Ke mana pergi gelang yang dipakai si Tio pertanda dia budak?. Dan, anak siapa yang digendongnya itu? Anakmu? Kau mengawini atau memilih seorang budak menjadi ibu anakmu?”

Datu Bolon Gelar Guru Marlasak tersenyum mengejek. Wajah Ronggur memerah padam. Dengan suara menghentak, “Tio telah menjadi isteriku, perempuan yang paling setia dan tabah. Kami telah dipersatukan Mula Jadi Na Bolon secara langsung, sewaktu kami tiba ke tempat jatuhnya air Titian Dewata untuk pertama kalinya. Demi menghormati kesetiaan dan ketabahannya, aku jadikan dia istriku. Dialah isteri paling setia. Dia telah kubebaskan. Dia tidak akan pernah menjadi budak lagi.”

“Aku tidak mempercayai cakapmu. Tiga pundi soal gampang. Bisa saja kau curi dari lumbung orang. Tapi, kau telah mengatakan bahwa Sungai Titian Dewata tidak jatuh ke ujung dunia, jadi persoalan. Kau telah menghancurkan kepercayaan kami. Kau telah mengawini seorang budak belian yang diharamjadahkan orang merdeka. Kau telah membuat segala pekerjaan keji dan mengatakan kata yang keji. Inilah persoalan yang sangat berat. Pada orang yang melakukannya, dapat dijatuhkan hukuman. Dan, itu semua, kutuduhkan padamu dan aku meminta pertimbangan khalayak dan kerajaan, agar memilih bentuk hukuman yang pantas ditimpakan padamu. Kalau tidak, para dewata akan murka. Dan, mengutuk marga ini. Marga yang kuat perkasa lagi kaya ini, marga yang dikurnia oleh dewata.”

Kerajaan yang lengkap cepat saja mengadakan sidang. Dalamm rapat kerajaan, suara Datu Bolon memegang peranan yang penting. Karena persoalan, soal kepercayaan.

“Kita akan dikutuk para dewata dan arwah nenek moyang, bila kita mau mendengar cakap dusta ini. Kita dulu

memutuskan, akan menangkap si Ronggur, akan menjadikannya budak belian, bila dia kembali ke kampung halaman ini. Tapi, sekarang tuntutanku tidak sampai di situ. Karena dia telah mendustai kita dan dia telah membebaskan seorang budak marga tanpa persetujuan sidang kerajaan, tuntutanku:

Menangkap dan menghukum si Ronggur bersama budak belian itu. Hukum mati. Ini perlu, agar para dewata yang telah melindungi kita, yang telah membuat kita menang dalam peperangan tidak memurkai kita. Bukankah kita sudah harus bersyukur pada para dewata dan arwah nenek moyang, karena sebaik kita mencoret nama Ronggur dari silsilah marga, dan tak mau mendengarkan cakapnya, telah dua kali marga kita mengalahkan marga lain dalam peperangan? Hingga marga kita menjadi marga yang berkuasa, kuat, kaya, dan dihormati setiap marga? Dan, luhak kita, menjadi daerah taklukan kita?”

Segala saran yang dilancarkan Datu Bolon gelar Guru Marlasak, mempengaruhi keputusan kerajaan. Lalu mengeluarkan perintah, menangkap Ronggur dan Tio. Telah diputuskan pula, besok pagi, akan dipalu canang ke tiap kampung yang dikuasai marga itu, untuk mengumpulkan mereka, lalu sama menyaksikan hukuman mati yang harus dijalani Ronggur bersama Tio, karena mereka telah menghina kepercayaan. Agar pengaruh yang dibiuskan Ronggur tidak mempengaruhi orang untuk seterusnya.

Ronggur dan Tio diikat pada batang pohon mangga yang besar. Bayi diletakkan di depan, mereka, langsung di atas tanah. Dekatnya si belang. Apak kecil itu menangis sejadinya. Tapi, tak seorang pun dibolehkan menyentuhnya.

Mendengar tangis bayi kecil itu, tidak saja perasaan Tio dan Ronggur serasa disayat. Turut si belang menitikkan butir air dari matanya. Tambah lama, suara anak menjadi parau. Si belang mendekatkan moncongnya ke mulut anak itu. Lalu

lidahnya dijulurkan si belang. Disapukannya ke bibir anak. Sampai basah. Lalu lidah anak itu menjilat bibirnya. Kemudian lidah anak itu secara langsung disapu lidah si belang. Sehingga air dari lidah si belang berpindah ke lidah anak itu. Tangis anak itu mereda. Si belang meringis kecil, merasa gembira dapat mendiamkan tangis anak itu. Bila matanya dicampakkan ke arah Tio dan Ronggur, si belang memperoleh senyum terima kasih dari tuannya.

Segala alat yang dibawa oleh Ronggur dan Tio ditumpukkan depan mereka, juga ketiga pundi padi itu. Semua akan dibakar. Supaya bekas dari kejadian itu tidak tinggal sedikit pun.

Tidak berapa lama setelah senja berganti malam, Raja Panggonggom bersama pengiringnya, masih datang menemui Ronggur, mengusulkan agar Ronggur mencabut kembali semua yang telah diucapkannya.

Hukuman bisa dientengkan, tak perlu hukum mati, asal dia mau. Tapi, Ronggur harus bersedia menjadi budak, begitu pula Tio dan anaknya. Ronggur menolak sarat itu. Malah dikatakannya:

“Aku tidak dapat membenarkan yang salah, begitu pula sebaliknya. Yang benar harus kukatakan benar. Percayalah padaku, Paduka Raja.”

Tapi, Raja Panggonggom tidak mendengarkan. Bila fajar pagi terbit hukuman mati itu akan dilangsungkan.

Cepat saja berita yang dibawa Ronggur dan Tio menjalar ke mana-mana. Sampai ke kaki bukit tempat orang melarat, tempat orang yang tidak berpunya, dan tempat persembunyian orang buruan. Mereka menegakkan kepala mendengar berita itu. Terutama setelah mereka memperoleh penjelasan langsung dari bekas Datu Bolon, setelah saran Ronggur ditolak kerajaan marga mereka.

Bekas Datu Bolon itu mengatakan pada mereka bahwa yang mengetahui jalan ke tanah habungkasan itu hanyalah Ronggur. Bila Ronggur mati dibunuh orang yang tidak dapat mendengarkan penemuannya, maka tanah habungkasan itu akan kembali hilang. Mereka semua akan menjadi orang yang sia-sia turun-temurun. Mereka harus membela Ronggur dan Tio, harus melepaskan mereka dari ancaman maut itu.

Orang melarat dan orang buruan yang tinggal di gua kaki bukit itu akan selalu lari ke mana saja berpencar bila tentara kerajaan marga Ronggur datang menangkap mereka, akhirnya memutuskan:

Daripada mati dibunuh dan diburu di dada tanah batu yang gersang, lebih baik mati menempuh jalan menuju ke tanah habungkasan. Malam itu juga, sepuluh orang lelaki yang kuat tubuhnya, menyelusup ke induk kampung marga Ronggur. Lengkap dengan senjata masing-masing. Dari celah bambu duri, mereka dapat melihat di mana Ronggur dan Tio diikat, dijaga tiga orang pengawal. Unggun api sudah mulai mengecil. Keadaan sunyi. Malam sudah jauh. Tiba-tiba saja si belang menggonggong. Karena mencium bau orang yang datang mendekat. Membuat ketiga pengawal itu terjaga. Setelah mengitari kampung dan meneliti, akhirnya mereka kembali tidur sambil menyepak si belang. Seseorang terus mendekat ke tempat Ronggur, lalu membisikkan, “Ronggur, suruh si belang diam.”

Ronggur memberi isarat. Sehingga si belang duduk dekat kakinya dan diam. Dan, sekali sergap saja, ketiga pengawal yang sedang mengantuk itu tidak berdaya lagi. Mati terbunuh. Tali temali yang mengikat Ronggur dan Tio, mereka putuskan. Mereka gendong bayi lalu mereka melarikan diri. Orang yang tidak berpunya dan orang buruan telah menantikan mereka, bersama bekas Datu Bolon di kaki bukit. Setelah mengucapkan terima kasih, Ronggur bertanya, “Apa. yang harus kita perbuat?”

Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan»berkata, “Berita yang diturunkan para dewata padamu, harus kau sampaikan pada setiap orang. Tanpa memandang dari marga mana mereka, dari golongan mana mereka. Kalau sebagian orang tidak mau merasakan arti yang dikandungnya, tidak dapat menerima kebenarannya, maka orang yang mau mendengarlah yang berhak menerima berkat darinya. Mereka inilah orang yang tidak berpunya, orang buruan ini karena kalah perang, yang mau mendengarkan berita penemuanmu. Merekalah yang berhak menerima berkah darinya. Bawalah mereka ke tanah habungkasan. Sehingga mereka dapat kembali mengecap alam kebebasan. Dan, otot mereka yang kencang itu dapat kembali digunakan mengolah tanah.”

“Bapak juga harus ikut,” kata Ronggur. “Bila mereka menemui Bapak, Bapak juga hendak mereka tangkap dan bunuh.”

“Ya, Bapak akan ikut. Bapak juga walau dengan berjingkat, ingin melihat tanah habungkasan dalam kenyataan, karena aku sudah sering melihatnya dalam mimpiku. Aku ingin melihat apa yang dibisikkan para dewata padaku.”

Bergeraklah mereka malam itu juga. Memegang obor. Menyuluh jalan jurang dan lembah dalam. Sedang di induk kampung marga Ronggur, dipalu gong. Membangunkan setiap orang. Mereka sudah tahu, Ronggur danTio bersama anaknya dan si belang sudah lari. Sidang kerajaan dengan berangsangan, belum pernah marga kita dihina orang begini rupa. Ayo, tangkap mereka, bunuh setiap orang yang memberi bantuan padanya.

Raja Nabegu memerintahkan Hulubalang yang terkemuka, yang dipercayai beserta laskarnya yang terkenal keberanian dan kekuatannya, mengejar dan menangkap Ronggur dan Tio kembali. Membunuh setiap orang yang memberi bantuan pada Ronggur dan Tio.

Sedang Raja Panggonggom, memerintahkan anak lelakinya yang sulung, anak lelaki Raja Nabegu dan Raja Ni Huta, turut serta dalam rombongan yang harus menangkap Ronggur dan Tio serta membunuh setiap orang yang memberi bantuan padanya.

Datu Bolon Gelar Guru Marlasak, cepat mengusung bangkai laskar marga yang telah mati ke Sopo Bolon. Di sana disembayangkan, agar arwah laskar yang wafat itu mengutuk perbuatan Ronggur dan Tio. Malah dimintanya, agar mencelakakan Ronggur dan Tio bersama rombongannya. Kepada ketiga anak raja itu, Raja Panggonggom memesankan dan mengingatkan bahwa Ronggur punya cukup akal yang licik. Dia harus diimbangi dengan kelicikan pula. Yang diharapkan dipunyai oleh anaknya, yang kelak menggantikan sebagai Raja Panggonggom bila dia wafat.

Di kala fajar pagi pertama menyingsing, bergeraklah orang yang bertugas memburu rombongan Ronggur. Sedang Ronggur, tetap menyuruh agar mengadakan tanda, jalan mana mereka tempuh. Supaya orang yang memburu dapat mengikuti jejak dan jalan mereka tempuh.

Rombongan terus bergerak. Orang yang memburu juga terus bergerak. Tempik dan sorak, kemarahan dan hasutan, dialamatkan pada rombongan Ronggur. Mereka harus membunuh setiap anggota rombongan Ronggur dan menawan Ronggur hidup-hidup, untuk dihadiahkan pada sidang kerajaan. Untuk sama-sama dibunuh oleh tiap warga marga.

Matahari semakin tinggi. Pundak bukit pertama telah ditaklukkan. Di sana mereka istirahat. Malah bermalam. Pada pagi berikutnya, rombongan yang memburu telah tampak di kaki bukit yang mereka taklukkan. Ronggur menyuruh, agar orang menghidupkan api, mengepulkan asap. Menandakan pada yang memburu bahwa mereka ada di sana. Rombongannya merasa aneh juga terhadap tindakan begitu. Maunya mereka menghilangkan jejak. Ini tidak. Malah

memberitahukan pada musuh di mana mereka berada. Tapi, karena Ronggur sungguh-sungguh menyuruh, mereka laksanakan juga dengan sebaik mungkin.

Bila rombongan yang memburu mulai mendaki bukit, mereka pun mulai bergerak. Tanpa menjatuhkan batu untuk menghancurkan yang memburu itu. Bila rombongan yang memburu sudah berada di pundak bukit pertama, rombongan Ronggur sudah kembali mendaki ke pundak bukit kedua. Kedua rombongan dapat bertatapan, tapi dipisah lembah yang dalam.

Matahari kembali melemah. Senja memerah. Kemudian malam. Rombongan Ronggur istirahat. Begitu pula rombongan yang memburu. Tidak ada yang berani melanjutkan perjalanan di malam hari. Takut jatuh ke jurang dalam. Rombongan Ronggur menghidupkan api unggun. Begitu pula rombongan yang memburu. Dendam kesumat pada rombongan yang memburu tambah menghebat, karena merasa dipermainkan. Sedang Ronggur hanya tersenyum saja.

Bila fajar kembali terbit, rombongan yang diburu dan memburu kembali bergerak. Begitu terus menerus. Tapi, Ronggur tetap mengusahakan, agar kedua rombongan selalu dipisah lembah. Juga diusahakan, agar rombongannya tidak berada di dasar lembah, bila musuhnya berada di pundak bukit, hingga musuhnya dapat menjatuhkan batu untuk membunuh mereka. Begitu terus-menerus. Terkadang antara kedua rombongan terjadi saling panggil-memanggil. Sambil hasut menghasut.

Pada hari ketujuh, rombongan Ronggur telah melewati celah pertemuan bukit, yang merupakan pintu ke tanah habungkasan. Dari baliknya, dapat dilihat, di bawah melalui pundak bukit yang menurun tanah habungkasan.

Setiba di balik bukit terus jurang dalam. Lapangan datar hanya beberapa depa saja. Bermula terus jurang. Harus memenggok ke kiri, beberapa jauh harus melalui di satu jalan

sempit, yang diapit oleh bukit dan dinantikan mulut jurang menganga. Baru tiba kembali ke jalan yang agak luas, mula jalan menurun yang baik menuju tanah habungkasan. Juga dari sana dapat ditatap air terjun yang memutih. Setiap anggota rombongan Ronggur kagum menatap tanah datar yang luas dan hijau di bawah mereka. Setiap orang ternganga melihat putihnya air terjun yang menerobos bukit sebelah timur. Lalu setiap orang mengucapkan rasa terima kasihnya. Dan, setiap orang yang memakai gelang pertanda budak, disuruh Ronggur membuangnya dan menyampakkannya jauh-jauh. Ke jurang dalam.

Ronggur menyuruh tiap orang berondok ke sisi bukit. Mendaki sedikit ke atas. Tiap orang disuruhnya menyiapkan senjata yang ada di tangan masing-masing. Kemudian orang yang tidak bersenjata, disuruhnya memilih batu alam, yang bisa digulingkan. Sedang dua tiga orang, disuruhnya pergi ke mulut celah bukit. Menantikan rombongan yang memburu. Memberi tanda pada mereka, agar rombongan yang memburu itu mendatangi celah bukit.

Semua orang mengerjakan perintah Ronggur. Setiap orang, baik perempuan. Lengkap senjata terhunus di tangan. Rombongan yang memburu terus saja mengejar dengan semangat meluap. Melewati celah bukit. Dan, mereka telah ada di bawah rombongan Ronggur, pada satu tempat yang tidak menguntungkan. Mereka terjebak sudah. Dengan lantang, Ronggur berteriak, “Letakkan senjatamu. Kalau tidak kamu sekalian akan kami bunuh. Di depanmu jurang dalam. Boleh pilih, menyerah atau mati.”

Rombongan yang memburu mengutuk pada diri sendiri. Dengan terpaksa harus membuang senjata yang ada di tangannya. Tapi, di saat begitu, anak Raja Ni Huta, mengambil kesempatan. Cepat berpaling dan melayangkan tombaknya ke arah Ronggur. Ronggur cepat berondok ke balik batu alam. Dan, sebuah tombak balasan melayang ke bawah mengenai

anak Raja Ni Huta, yang lalu jatuh ke mulut jurang dengan pekikan meninggi. Sekali lagi Ronggur berteriak, “Pilih antara dua, menyerah atau mati. Kalian semua berada di tempat yang tidak menguntungkan.”

Anggota rombongan yang memburu itu, dengan terpaksa mencampakkan semua senjatanya ke mulut jurang. Mereka disuruh Ronggur menghadap ke arah jurang. Lalu kedengaran suaranya meninggi:

“Kau para lelaki yang kuat. Tapi, yang tidak punya kekuatan untuk menerima sesuatu warta kebenaran. Justru karena warta itu bertentangan dengan kepercayaan yang kau anut selama ini. Lihatlah sekarang dengan mala kepalamu sendiri, di depanmu jauh di bawah sana, luasnya tanah hijau yang landai, seperti yang kuceritakan padamu. Dan, di sebelah kananmu itulah air terjun yang kukatakan.”

“Lihatlah, apakah Sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia? Dan, benda memutih dikejauhan yang terus menerobos ke timur, membelah kehijauan hutan belantara itu, kelanjutan Sungai Titian Dewata, merambah jalan ke danau yang maha luas, yang airnya asin, tapi banyak ikannya. Pergunakanlah mata kepalamu. Dengarlah dengan kupingmu sendiri, derum air terjun yang jatuh, warta dari mula kehidupan. Apakah kalian masih belum percaya?”

Orang yang memburu pada terdiam dan tercengang. Sekarang mereka dengan mata kepala sendiri, telah menyaksikan kebenaran cerita Ronggur, di saat mereka terjebak pula. Harus tunduk pada Ronggur. Mulut mereka ternganga.

Hulubalang yang memimpin rombongan itu, berpaling ke arah Ronggur. Setelah menundukkan kepala tanda memberi hormat, dia mengatakan:

“Ronggur, kalau kau sekarang mau membunuh kami, kau telah bisa melakukannya tanpa sesuatu halangan. Dan, itu

memang hakmu. Tapi matiku telah merasa senang. Justru karena aku telah melihat kebenaran ceritamu. Aku akan tidak menyangsikan hidup anakku lagi. Tanah luas masih tersedia untuk mereka walaupun aku mati. Tanah habungkasanmu, Ronggur.”

Ronggur membiarkan Hulubalang itu terus berkata. Yang melanjut dengan, “Kami telah melihat air terjun yang kau ceritakan. Ujung dunia yang kami sangka selama ini, mula tanah datar yang maha luas. Hijaunya telah kutatap, dan bau kesuburan yang mengambang darinya telah kuhirup. Kami telah mengikuti ajaran yang salah, dan kami tidak punya kelapangan hati mendengar warta kebenaran darimu. Untuk itu kami sewajarnya menerima hukuman. Akulah yang pertama harus kau bunuh. Aku pemimpin rombongan yang mengejarmu ini.”

Seketika keadaan hening. Lama Ronggur menatap tawanannya yang hendak menangkap pada mulanya. Yang sebenarnya juga anggota keluarganya. Sesuatu perasaan yang bertentangan tumbuh dalam dada, sebagian ingin menuntut balas, tapi sebagian lagi memberi pertimbangan lain. Dalam keadaan begitulah Ronggur memanggil orang tua, bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan ke dekatnya.

“Bapak,” katanya, “apa yang harus kuperbuat sekarang?”

Lama orang tua itu terdiam. Baru mulutnya mengatakan, “Nasib mereka berada di tanganmu. Kau bisa menentukan, apakah mereka masih berhak hidup atau mati. Tapi, bagi Bapak, ada sesuatu hal yang menguntungkan dalam saat ini. Kau telah gagal mewartakan berita penemuanmu secara langsung. Tapi, sekarang kau memperoleh jalan lain untuk mewartakannya kepada orang lain di kampung halaman. Dengan sendirinya pula mewartakan kepada kelompok marga lain, marga yang masih merdeka.”

“Bagaimana caranya, Bapak?”

“Tawanlah anak Raja Panggonggom, anak Raja Nabegu. Kemudian suruh pulang Hulubalang itu dengan pengiring kecil. Tugaskan padanya agar dia mewartakan pada kerajaan marga atas kebenaran ceritamu, kebenaran penemuanmu. Bila mereka tidak juga mempercayainya, maka nasib anak Raja Panggonggom dan anak Raja Nabegu, akan sama dengan nasib Raja Ni Huta.”

Tersenyum Ronggur memperoleh saran itu. Lalu disambutnya, “Saran yang baik. Dan akan kutambahkan bahwa tidak marga kita saja yang berhak datang ke tanah habungkasan. Semua marga berhak. Semua orang berhak. Tidak memandang apakah dia seorang budak, raja atau apa saja. Semua orang berhak memperoleh tanah, seluas dan selebar yang sanggup dia kerjakan.”

Orang tua itu menundukkan kepala mengiakan.

“Di samping itu,” kata Ronggur pula, “aku harus menuntut pada kerajaan marga, agar mengembalikan tanah persawahanku, yang dulu disita kerajaan dariku. Itu sangat penting. Karena bagaimanapun seperti adat kita, sejauh kita merantau, namun bona nipasogit, tidak boleh dilupakan. Sesuatu harta pusaka turun-temurun yang mulanya dirambah nenek moyang, harus dijaga dan dipelihara. Juga segala harta milik Bapak yang disita dulu, harus dikembalikan. Dan, Bapak tahu aku telah mengambil Tio menjadi istriku.”

“Ya, Bapak tahu,” sahut orang tua itu cepat. “Dan, itu sangat baik.”

“Karena itu, kesatuan marga Tio sudah menjadi moraku. Mora yang harus kuhormati.”

“Ya, memang begitu menurut adat kita.”

“Lalu, aku harus menuntut pula bahwa semua keturunan marga Tio, harus dibebaskan dari perbudakan. Siapa saja di antara mereka yang punya hasrat pindah ke tanah habungkasan harus dibolehkan. Tidak boleh dihalangi. Sedang

orang yang tidak bisa pindah karena sudah tua atau karena alasan lain, harus dibebaskan dari perbudakan.”

Orang tua itu tersenyum. Mengiakan.

Segala hasil pembicaraan disampaikan Ronggur dengan suara lantang pada Hulubalang. Itulah sarat yang harus disampaikan Hulubalang pada kerajaan marga. Yang ditambahnya pula:

“Dalam jangka dua purnama, utusan kerajaan sudah harus ada yang datang menemui mereka ke tanah habungkasan. Mewartakan, apakah saran itu diterima atau tidak. Utusan kerajaan marga, boleh kelak menempuh jalan yang mereka tandai.”

Hulubalang itu menyanggupi akan menyampaikan pesan. Malah dengan sadar dia menambahkan, “Karena aku sendiri telah melihat kebenaran ceritamu, kebenaran penemuanmu, tanpa sarat itu pun, aku akan bekerja keras menginsafkan orang. Berilah kesempatan padaku, untuk berbakti.”

Lima orang dari anggota yang memburu itu, ditunjuk Ronggur mengiringi Hulubalang menuju kampung halaman. Yang lima orang itu pun telah bersedia menjadi saksi atas kebenaran penemuan Ronggur. Sedang rombongan Ronggur, ditambah pasukan kerajaan marga yang sudah insaf menuju ke timur, ke tanah habungkasan.

Kemudian rombongan lain bertambah banyak menuju tanah habungkasan. Selalu mereka mengadakan upacara di pangkal sungai, mempertebal keyakinan bahwa mereka akan dituntun para dewata dan arwah nenek moyang ke tanah habungkasan. Baik melalui sungai atau jalan darat. Sejak itu, nama tempat itu mereka sebut Porsea.

Jalan tempuhan, tambah lama, tidak hanya yang dirintis Ronggur saja yang mereka kenal. Tapi, telah terbuka tembusan jalan baru. Daerah lain tambah banyak ditemui. Bila mereka sudah sampai di tempat yang mereka namakan

Parhitean, mereka terus pergi ke arah timur, akan tiba ke tanah habungkasan yang ditemui Ronggur, di mana rombongan Ronggur membuka perkampungan.

Bila mereka dari Parhitean menuju ke utara, mereka akan tiba ke Daerah Tangga. Dari sana dapat mereka tatap pundak bukit yang tiga, lalu mereka namakan itu Tiga Dolok. Dari sana terus menembus ke daerah Simalungun. Bila terus menyusur bukit sebelah barat, bisa mereka buka dua persimpangan. Satu menuju Tanah Karo, satu lagi menuju Dairi-Pakpak. Dari Dairi, bisa turun kembali ke Pulau Samosir. Dari Tiga Dolok, dapat mereka kenal pundak bukit yang ada di bagian pundak mereka, pundak bukit di lingkungan Danau Parapat. jadi bila mereka menuju ke sana, kembali tiba ke lingkungan Danau Parapat.

Dari Parhitean, bila mereka memenggok ke selatan, mereka akan tiba ke Parsoburan. Terus ke selatan, sampai ke daerah perbatasan Sumatera Barat, yaitu Rao-Rao. Bila mereka meneruskan perjalanan, tiba ke dataran tinggi Bonjol. Sedang bila kembali ke arah utara dari Rao-Rao, berarti turun ke daerah Mandailing Raja. Menembus terus ke daerah Angkola-Sipirok-Pahae dan tembus ke Silindung, Tarutung. Lalu bisa kembali ke Toba.

Dari Mandailing, bila mereka terus menurun, mereka menemui pula sebuah danau yang luas, airnya asin, berteluk indah, pesisir Sibolga. Di sini mereka bertemu dengan rombongan yang sejak Parsoburon terus mengarah Barat. Dan, telah menaklukkan pegunungan Pangaribuan, menurun ke pesisir Barus. Sedang rombongan yang berangkat dari Pangoruran Samosir, bila menuju ke arah barat, akan menaklukkan pegunungan sebelah barat. Mereka tiba ke Pangkat, terus menurun dari sana ke pesisir Barus.

Dari pesisir Sibolga, bila mereka kembali mendaki pegunungan utara, tembus pula ke Rura Silindung, Tarutung. Dari sana, pundak pegunungan Toba telah dapat mereka tatap

dan kenal kembali. Dari Angkola, yaitu dari Tor Simago-mago, bila menembus ke selatan teru s, akan tiba ke daerah dataran yang luas. Padang Lawas. Terus ke selatan, mereka bisa bertemu dengan orang yang berangkat menuju tanah habungkasan yang ditemui Ranggur, daerah Asahan-Labuhan Batu.

Kemauan mempertahankan dan melanjutkan kehidupan, sampai bersedia mengorbankan pertarungan demi peperangan, yang tidak sedikit mengorbankan nyawa, telah dialihkan semangatnya untuk menaklukkan pundak demi pundak bukit. Menerobos celah pertemuan bukit memanjang, merambah jalan di bawah naungan dedaunan belantara yang menghijau lebat, untuk menemui dataran luas, dataran lain, berhutan subur, dan punya binatang buruan yang jinak lagi banyak. Untuk menemui danau yang maha luas, yang menyimpan ikan banyak. Airnya asin mengandung garam. Semuanya untuk kelanjutan kehidupan dan mengembangkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s