Bagian 7

Bertambah hari, mereka menghilir sungai. Arus sungai tambah perlahan. Batu jangkar sudah diangkat. Luas sungai tambah lebar. Tapi, mereka belum perlu mengayuh. Arus masih dapat menghanyutkan perahu walau dengan perlahan.

Ronggur selalu mengukur dalamnya sungai dengan tali yang di ujungnya diikat batu sebagai pemberat. Di depannya tali yang terbenam, itulah dalam sungai. Bila mereka bosan dengan sungai, mereka mendarat ke tepian.

Sering Ronggur memanjat kayu yang tinggi, menatap dari arah mana mereka datang dan menduga hendak ke mana mereka dibawa sungai yang diikuti itu. Pundak pegunungan

bertambah jauh di belakang sudah membiru. Melalui pengenalan akan pundak pegunungan, Ronggur dapat menduga bahwa di balik pegunungan yang semakin menjauh itu, di situlah kampung halamannya.

Bila mereka hendak pulang ke sana melalui jalan darat, mereka harus menaklukkan pundak bukit itu, atau menembus celah pegunungan yang terdapat pada pertemuan bukit yang memanjang. Lalu menatap ke arah hilir sungai, hutan lebat hijau di mana-mana menampung penglihatan.

Selalu dibuatnya tanda pada pohon kayu yang dipanjatnya. Di garis batangnya melingkar. Sedang pada tepi sungai, ditanamnya batu besar dan disambungkannya pada salah satu bagiannya.

Pancing yang diumpankan Tio selalu mengena. Pancing tidak perlu berlama diumpankan. Dalam waktu singkat ikan sudah ada yang menyambar. Ikan yang cukup besar. Bila dipanggang bara api bisa padam. Karena lemaknya.

Terkadang sampai berhari-hari mereka mengadakan pemburuan, bila bosan dengan ikan sungai. Binatang buruan begitu banyak dan jinak. Si belang sudah mulai gemuk. Bulunya tebal berlinang. Tapi, satu hal makin mereka rasakan, udara bertambah panas. Walau mereka berada di naungan pepohonan rindang, udara panas itu tetap mengganggu, membuat Ronggur tidak kerasan memakai sehelai kain atau kulit binatang di bagian dadanya. Dibiarkannya dada telanjang.

Setiap hari tepian sungai bertambah luas. Pepohonan tidak lagi di tepian sungai seperti di hulu. Sudah agak menjauh. Tanah luas yang berlumpur semakin lebar mengikuti jalur sungai. Arus sungai tambah perlahan. Membuat mereka harus mengayuh terkadang.

Dan, tanah berlumpur yang mengiring jaluran sungai, tambah luas. Ronggur selalu menelitinya dengan seksama.

Digenggamnya tanah itu. Diperhatikan lunaknya. Terkadang diciumnya dengan hidung, apakah bau lumpurnya sama dengan bau lumpur yang ada di kampung halaman. Tapi, dari lumut lumpur dia tahu bahwa tanah yang mereka temui itu lebih lemak dan subur dari tanah di kampung halaman.

Sedang di hutan yang semakin menjauh dari tepian sungai itu, mereka temui pohon yang berbuah. Buahnya lain dari buah mangga yang mereka kenal di kampung halaman. Lebih enak dan lezat. Membuat mereka terkadang seharian hanya memakan buahan saja.

Hanya udara yang bertambah panas itu saja yang membuat mereka agak merasa tidak senang. Udara seperti itu tidak pernah mereka temui di sekitar kampung halaman, walaupun matahari cukup terik. Ini tidak. Walau terkadang matahari dilindungi awan, panas itu masih tetap terasa. Membuat tubuh mereka selalu berkeringat, tapi cepat kering disapu angin lalu. Tubuh seperti berminyak jadinya. Lengket dan tidak mengenakkan perasaan. Membuat mereka sering terjun ke dalam sungai, berenang, dan menyelam, agar keringat melengket itu bisa menghilang untuk datang dan untuk dihilangkan lagi.

Alangkah terkejutnya mereka, pada suatu hari, sewaktu Ronggur berenang mengikuti perahu yang menghilir, sekelompok binatang yang sedang berendam di tanah lumpur, bergerak, lalu mengejar. Cepat Tio mengatakan, “Ronggur, awas. Cepatlah ke perahu.”

Ronggur berenang sekuat tenaga. Binatang itu memburu. Perahu agak oleng sewaktu Ronggur menaikinya dari satu sisi. Lalu terus mengayuh. Binatang itu terus mengejar. Jalan satu¬satunya untuk mempertahankan diri, Ronggur menyuruh Tio terus mengayuh, sedang dia, dengan mempergunakan kampak, tombak, memukuli setiap ada binatang datang mendekat ke perahu, mencucuknya. Panggada juga turut digunakan.

Satu dua ada yang mati di antara binatang itu. Terapung. Binatang itu belum pernah mereka lihat. Begitu pandai berenang. Mulutnya menganga lebar hendak menelan saja. Ekornya bergerigi dan begitu keras tampak. Walaupun belum pernah mengenalnya namun naluri mereka dapat memastikan bahwa binatang itu binatang air yang membahayakan.

Binatang yang mati dan dihanyutkan arus mereka tangkap. Dagingnya kurang enak dimakan. Karena itu daging binatang itu mereka biarkan saja membusuk. Tapi, kulitnya cepat kering dan dapat dilipat, begitu halus. Karena itu kulit binatang itu mereka bawa. Bisa dibuat menjadi kantong tempat menyimpan alat. Bila digantungkan di pinggang kelembutannya selalu mengikutkan gerak-gerik pinggang.

Ronggur tetap memperhatikan dan mempelajari perobahan bentuk tepi sungai. Air sungai tidak sebening di hulu lagi. Sudah mulai keruh dan kotor. Tidak tahu mereka dari mana datangnya air keruh itu. Kenapa air yang tadinya begitu bening, bisa berobah menjadi keruh.

Pepohonan semakin jauh dari tepian sungai. Digantikan gelagah dan daun nipah. Lumpurnya bertambah lembut dan bertambah dalam dasarnya. Bertambah ke hilir bertambah banyak anak sungai bersatu dengan sungai itu.

Bila mereka terus melalui tanah lumpur itu mendekat ke tepian hutan yang semakin jauh, sebelum tiba ke tepi hutan, lebih dulu ada tanah yang hanya ditumbuhi ilalang. Tanah juga lembut. Gembur, bagus untuk ditanami.

“Inilah dia,” kata Ronggur. “Inilah tanah yang kita cari. Tanah landai yang sudah lama kumimpikan. Lihat, tepi hutan tidak berapa lebat. Bisa ditebang pohonnya untuk dijadikan persawahan.”

“Apakah kita sampai di sini saja?” tanyaTio.

“Tidak,” sahut Ronggur. “Kita harus meneruskan perjalanan. Menyusuri sungai. Kita harus tahu, sampai ke

mana sungai ini. di mana muaranya. Itu sangat penting. Di muara tanah landai akan tambah lebar lagi.”

“Biasanya,” kata Tio, “sungai yang ada di kampung halaman, yang tidak sebesar sungai ini, bermula dari kaki bukit. Untuk bermuara ke danau. Apakah sungai ini juga akan bermuara ke danau?”

“Danau apa?” tanya Ronggur pula.

“Aku hanya bertanya.”

“Kebiasaan memang begitu. Tapi, belum dapat kupastikan mengenai sungai ini,”‘ jawab Ronggur.

Lalu mereka meneruskan penyusuran. Bertambah ke hilir, di samping arus semakin perlahan, ada semacam getaran mengganggu jalan perahu. Ada kalanya perahu tidak dapat laju biar setapak pun ke depan. Walau mereka mengayuh sekuat tenaga. Ada semacam tenaga menahan.

Dan, di saat itu, permukaan sungai naik. Air menjadi sangat keruh dan asin. Tanah lumpur dan tumbuhannya, gelagah dan daun nipah menjadi tergenang. Terkadang sampai ke pucuk digenangi air. Ronggur memperhatikan ini semua. Lalu dapat memastikan bahwa tanah lumpur yang di tepian sungai benar, tidak baik dijadikan persawahan. Karena sering tergenang. Bisa membuat padi busuk. Harus lebih ke atas lagi, ke tempat yang tidak dapat memastikan, dari mana air itu datang.

Kenapa permukaan sungai menaik. Dan, sungai menjadi menggeliat. Berombak. Membuat mereka takut pada mulanya. Sehingga mereka harus buru-buru mendarat ke tepi. Langsung mencari tanah yang agak tiriggi. Di sana mereka harus menggali tanah membuat sumur. Supaya ada air tawar. Sambil terus memperhatikan perobahan pada permukaan air.

Dan, setelah beberapa lama, air sungai susut lagi. Di saat begitu arus sungai mengencang ke hilir. Sehingga enak berlayar. Tidak perlu mendayung. Arus menghanyutkan

perahu. Untuk tiba pula pada keadaan, arus mati. Kemudian datang pula saat permukaan air sungai naik. Perahu tidak bisa dikayuh. Malah hendak disorong ke belakang, kembali ke hulu.

Berhadapan dengan keadaan baru ini, Ronggur bertambah was-was. Saat sungai menaik permukaannya dan saat sungai kembali ke tarap biasa, diperhatikan dan disesuaikan waktunya. Dicocokkan dengan waktu peredaran bulan dan bintang. Kemudian diputuskannya untuk terus melayari sungai. Biar permukaan sungai menaik atau menyusut. Agar tahu dengan pasti, apa sebabnya dan apa akibatnya pada orang yang berlayar di saat begitu.

Mereka terus berlayar. Dan, saat permukaan sungai naik telah tiba. Mereka harus mengayuh dengan sekuat tenaga. Gelombang sungai mulai menggeliat. Tapi, terus mereka lawan. Berkayuh dan berkayuh. Walau tidak ada ditemui kemajuan. Malah mereka seperti disorong ke belakang.

Mereka terus melawan. Arus sungai menyongsong dengan kuat. Perahu seperti dihanyutkan kembali ke hulu. Walau mereka sudah berkayuh dengan sekuat tenaga. Tapi, mereka berdua terus berkayuh melawan air yang menyongsong itu. Walau malam sudah bertambah jauh, mereka terus di dalam perahu dan terus mengayuh.

Menjelang subuh, terasalah permukaan sungai kembali menyusut. Sehingga perahu mereka begitu lajunya dihanyutkan kembali ke hilir. Di saat begitu, mereka dapat melepas lelah. Sambil Tio berkata, “Apa lagi yang akan terjadi, dan apa lagi yang akan ditemui pada perobahan sungai?”

“Justru, itu yang perlu kita ketahui,” jawab Ronggur.

Karena begitu capek, mereka tertidur. Kantuk telah membawa mereka ke alam tidur, di mana keadaan sekitar dan kejadian dapat dilupakan. Perahu terus dihanyutkan arus sungai.

Sinar matahari sudah kembali menampari wajah alam dan wajah mereka sendiri yang tertidur di perut perahu. Si belang berada di haluan perahu, mencerminkan mukanya ke permukaan air. Lalu menggonggong panjang, melihat keluasan yang terhampar di depannya. Di sekitarnya.

Karena silau dan karena gonggong si belang, mereka terbangun. Pada penciuman terasa keluasan dan kebebasan udara. Tidak terkungkung sedikit pun. Alangkah terbelalaknya mata Ronggur sewaktu di hadapannya, di sekitarnya, air yang maha luas mengitari mereka, perahunya terapung dan mengangguk-angguk dipermainkan riak. Pada sisi kanan, kiri dan di hadapan, air itu bertemu dengan kaki langit demi kaki langit. Di bagian punggung, jauh sudah, tepian, atau daratan yang hijau. Buru-buru Ronggur menyuruh Tio duduk, lalu:

“Lihat, lihat Tio. Kita menemui danau. Tapi, danau yang maha luas. Airnya, alangkah asin. Tidak bisa diminum.”

Tio memilin mata. Membelalakkan pandang. Sinar matahari mencurah ruah. Kemudian dipantulkan air ke atas kembali. Sehingga lebih silau.

“Danau, tapi danau yang sangat luas,” akhirnya Tio mengatakan dengan kagum. “Danau apa ini?”

“Aku tidak tahu.”

“Marilah ke tepi. Kita tidak tahu ke mana berakhir air yang maha luas ini,” ajak Tio.

Cepat mereka mengayuh ke tepian. Tepian memutih ditimpa sinar matahari penuh. Agak jauh kedalam bermula jajaran pohon kurus panjang dan hanya di bagian puncaknya ada daun kelapa. Nyiur. Berjajar memagar pantai.

Cepat Ronggur dan Tio mengayuh. Benda ditepian yang menerima sinar matahari seperti menyala itu, pasir putih. Beda dengan pasir pantai danau yang mereka kenal di kampung halaman. Mereka mendaratkan perahu jauh ke

darat. Menambatkannya pada pokok kelapa. Tambah siang ombak tambah membesar. Ronggur memanjat kelapa lalu memetik buahnya yang masih muda.

Mereka minum air kelapa muda. Diseling Tio, “Di sini kelapa tidak akan habis. Sekuat kita memakainya, putiknya akan cepat mendatang lagi dan berlipat ganda banyaknya.”

Sambil menatap keluasan air. Yang bergelung-gelung ombaknya dan memecah di pantai, dengan lagunya sendiri. Berdesir angin yang melewati atau membuat daun nyiur melambai. Burung putih berterbangan ke sana ke mari, menari dengan gaya yang bagus dan begitu jinak. Tidak punya prasangka pada Ronggur dan Tio. Sehingga sambil bermalas¬malas, Ronggur dapat melemparnya. Beberapa ekor kena dan jatuh ke tanah. Si belang menjemputnya. Dengan moncongnya si belang menggigit dan membawa ke tempat mereka berdua duduk.

Pada tanah lumpur sekitar muara sungai, bertambah rimbun pohon gelagah dan daun nipah, diselang seling pohon bakau. Walaupun daun nipah sudah kering, namun tetap kuat dan tampak berminyak. Dengan daun nipah itulah, mereka buat atap sebuah dangau. Tiangnya agak tinggi dibuat dari pohon bakau yang panjang dan lurus lagi kuat. jendelanya jauh lebih besar dari jendela rumah yang ada di kampung halaman. Karena udara panas.

Sekarang mereka sudah punya rumah kembali. Sekarang mereka sudah punya danau yang sangat luas malah. Walaupun airnya asin, namun sangat banyak mengandung ikan. Ikan yang besar. Mereka lalu kenal juga binatang laut yang ada di tepian yang juga enak dimakan. Sedang pada hutan di sebelah punggung mereka, dan di tanah yang ditumbuhi ilalang sebagai pinggiran hutan, banyak menyimpan binatang buruan. Mulai dari burung, ayam hutan, kijang sampai pada binatang buas yang ditakutkan: Harimau, gajah,

beruang, dan di tepian sungai berpaya, binatang air itu, buaya.

Pada hari pertama Ronggur tetap memperhatikan mula dan arah angin. Akhirnya dapat mereka ketahui, pasang air sungai yang membuat permukaan sungai naik dan sungai punya arus ke hulu, tidak menetap saatnya. Tergantung pada hari bulan. Begitu pula saat sungai surut kembali.

Bila air sungai pasang, perahu agak tertahan menuju muara. Tapi, bila air sungai surut perahu dilarikan arus ke tengah danau yang maha luas itu. Waktu siang hari angin dari arah danau luas bertiup ke darat. Waktu itu bila berkayuh menuju tepian dari tengah, sangat baik. Arus ombak menghanyutkan perahu ke tepian. Sedang waktu malam hari, menjelang dini hari, angin daratyang bermula dari hutan di punggung mereka, bertiup ke arah danau luas itu.

Waktu itu sangat baik untuk memulai pelayaran ke tengah danau luas itu. Dan, bila pasang naik tanah lumpur itu tergenang, terkadang sampai sedalam dada. Bila air surut permukaan sungai merendah. Tanah lumpur itu, rawa itu kembali tampak. Tapi, walaupun tanahnya lumpur dan lembut karena selalu tergenang, tidak baik dijadikan persawahan.

Bila mereka hendak membuka sawah percobaan, harus memilih tempat yang agak tinggi dan jauh dari pantai, jauh dari tepi sungai, agak menusuk ke tengah hutan. Mereka harus merambah hutan belukar agak ke pedalaman.

Mereka cari tumpukan tanah yang agak datar di hutan dan ditumbuhi ilalang. Agar lebih mudah mengerjakan sawah percobaan itu. Kemudian dari hulu sungai yang belum asin airnya, dibuka aliran parit. Sehingga ada pengairan ke sawah itu, di samping air hujan. Dekat sawah itu mereka dirikan dangau, tempat istirahat atau bermalam, bila merasa malas pulang ke rumah di tepi pantai.

Persemaian telah digarap. Tanahnya cepat lembut. Setelah beberapa lama tanah yang digarap itu digenangi air yang dialirkan ke sana, tanah itu cepat menghitam, mengambangkan kesuburan. Beberapa bidang lagi tanah telah diolah menjadi sawah percobaan.

Waktu menancapkan cangkul ke dada tanah, tahulah Ronggur dan Tio, tanah itu tidak melapisi batu. Tanah itu begitu gembur. Cepat lunak dan cepat menjadi lumpur hitam yang lembut, bila telah digenangi air. Tidak tersangkakan, walau itu yang diharapkan, tanah begitu cepat menerima taburan bibit. Kemudian bermunculan di atas tanah batang padi yang gemuk hijau, menjanjikan akan mendukung bulir padi yang bernas. Merunduk ke tanah karena berisi.

Usaha percobaan itu terus diluaskan ke tanah yang lebih tinggi dan agak susah didatangi air parit. Di sana juga tanah dengan cepat menerima taburan bibit. Walau tidak punya air selain air hujan dan yang dikandung tanah. Itulah ladang, huma, sawah kering. Ini semua menanam harapan yang lebih sempurna dalam dada.

Tanah yang mereka temui tanah yang dimimpikan setiap orang di kampung halaman, yang dapat mengurangi pertentangan yang bisa timbul antara kaum semarga, antara marga, antara suku dan antara luhak. Perang yang bisa terjadi di antara mereka, yang mengakibatkan kematian dan kemelaratan, bisa dihilangkan, bila tanah habungkasan ini ditunjukkan pada mereka.

Bila batang padi telah bertumbuhan di sawah, di ladang dengan hijau gemuk, kerja Ronggur dan Tio tinggal mencabuti rerumputan, agar pertumbuhan batang padi tidak terganggu. Pada malam hari, mengadakan penjagaan yang dibantu si belang, agar rombongan babi hutan tidak turun dari hutan merusak sawah dan ladang percobaan itu.

Kemudian batang padi yang hijau gemuk itu, telah dihiasi bulir padi dengan mencuat ke atas tegak lurus. Ditiup angin

terkadang, dan bulir yang belum berisi itu bergoyangan perlahan, tangkainya kokoh mendukung. Kemudian bulir itu semakin merunduk ke tanah, merunduk menguning kemudian dipanen. Saat mardege tiba. Lalu hasil panen itu disimpan ke dalam lumbung, yang didirikan tidak jauh dari sawah percobaan itu.

Ronggur dan Tio harus memperbesar dangau kecil itu. Mau dijadikan lumbung padi. Kekayuannya mereka ambil dari hutan sekitar yang begitu dekat. Atap daun nipah yang tidak mudah bocor, yang banyak ditemui di muara sungai. Padi yang menguning, kemudian dipanen. Saat mardege tiba. Lalu hasil panen itu disimpan ke dalam lumbung, yang didirikan tidak jauh dari sawah percobaan itu.

Mereka tahu, hasil panen percobaan itu tidak akan habis mereka makan sampai tiga kali jangka musim panen, bila untuk mereka berdua saja. Lagi pula, musim panen lebih pendek masanya di tanah habungkasan itu dari yang mereka kenal di kampung halaman.

Ronggur dan Tio, sambil melepas lelah dari kerja berat di sawah semusim panen itu, seharian mengadakan perjalanan menyusuri tepi pantai. Setiap tambah jauh mereka berkayuh, setiap itu pula, malah berlipat ganda luas air yang mereka temui. Tidak bertepi dan tidak berujung. Bermula dari keluasan dan berakhir pada keluasan. Membuat perasaan lebih kagum lagi atas ciptaan alam yang hebat dan sempurna itu.

Ciptaan Mula Jadi Na Bolon, dan hati tambah berterima kasih atas tuntunan Mula Jadi Na Bolon, hingga mereka bisa tiba ke sana. Dan, Ronggur tahu, bila luas danau begitu rupa dihadiahkan pada orang di kampungnya, mereka tidak perlu lagi mengadakan pancang sebagai batas di danau, sebagai pertanda bahwa pancang itu perbatasan antara satu marga dengan marga lain tepi danau mana yang boleh di tempati suatu marga menangkap ikan. Juga pelanggaran perbatasan

di danau di kampung halaman, sering menimbulkan perselisihan dan pertengkaran, yang bisa menimbulkan sesuatu peperangan.

Di danau yang maha luas itu, setiap orang dari setiap marga mana saja pun, boleh pergi ke mana suka. Menangkap ikan sekuat tenaga. Modal yang pokok hanya satu, kemauan bekerja. Sekitar yang bermula dari keluasan itu dan berakhir pada keluasan itu, menjanjikan kebahagiaan pada setiap orang, melanjutkan hidup berkeluarga dan keturunan.

Rangsang lain mulai mempengaruhi pikiran Ronggur. Janji harus ditepati, katanya selalu. Janji yang selalu mengingatkan kampung halaman, yang mempertajam perasaannya akan bahaya yang mengancam kerukunan hidup di kampung halaman. Rindu pada ibu, pada bekas Datu-Bolon yang sudah tua itu, keinginan untuk melepaskan mereka dari berbagai rupa ancaman.

Dia harus mewartakan berita penemuannya itu ke tengah keluarganya, ke tengah marganya yang sudah mencoret namanya dari silsilah marga, karena itu janji. Pada pendengarannya, tambah sering mendengung suara bekas Datu Bolon yang sudah tua itu, “Anakku, bapak yakin, kalian akan menemui tanah habungkasan. Walau begitu pahitnya penerimaan orang di sekitarmu atas cita-citamu, janganlah kau berkecil hati. Seorang manusia yang ditunjuk dewata menemui kebenaran, harus dengan tabah pula menyampaikan warta kebenaran itu pada orang yang ada di sekitarnya. Agar manusia itu dapat pula mencicipi nikmatnya. Walau pada mulanya mereka menentangnya, dan menganggap diri yang dikurnia dewata seorang gila. Mereka tidak perlu dihancurkan, tapi perlu diinsafkan agar mereka tahu, lalu dapat merasakan kenikmatan yang terkandung dalam kebenaran itu. Untuk kelanjutan hidupnya, kelanjutan keluarganya, hingga akhirnya turut merasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh kebenaran itu. Karena itu anakku, bila kau menemui tanah

habungkasan di rantau, kau harus kembali kemari membawa berita ria itu. Berjanjilah anakku, janji seorang lelaki. Karena janji yang dibuat lelaki, janji yang akan tetap ditepati.”

“Aku berjanji, Bapak.”

“Terima kasih, Anakku,” kata orang tua itu, lalu melanjutkan, “Anakku, sesuatu penemuan yang bisa membuat orang gembira dan berbahagia, bila keserakahan diri atau dendam yang bersarang dalam dada, memaksa dan membuat orang yang menemui itu tidak mewartakan-nya pada orang lain, yang memerlukannya, sehingga orang lain tidak dapat menikmati arti dan nilai penemuan itu akan berkurang, malah beralih pada penemuan itu akan mengutuki diri. Karena itu, agar kerjamu tidak sia-sia, janji yang kau buat sebagai lelaki, penuhilah pula sebagai lelaki yang berhati jantan.”

“Aku bapak,” katanya. Lantas selanjutnya dia mengatakan, “Doakanlah aku bapak, agar anakmu ini dilindungi Mula Jadi Na Bolon.”

“Doa dan restuku akanselalu mengiringi perjalananmu.”

Dengungan percakapan itu tambah nyata dan jelas. Memaksanya harus kembali ke kampung halaman, mewartakan penemuan itu. Harus kembali mengarungi sungai ke hulu, melawan arus. tapi, telah dapat diduganya, untuk terus melawan arus, sangat susah.

Karena itu, dia sudah membayangkan bahwa mereka akan menembus jalan darat. Dari pengenalan akan pundak bukit, dan usaha menaklukkannya, dari pengenalan akan celah pertemuan bukit dan usaha untuk menembusnya, dia sudah dapat menggambarkan suasana perjalanan itu dalam kepala. Perjalanan yang tentunya memayahkan, tapi perjalanan untuk memenuhi janji yang dibuhul sebagai lelaki bersikap jantan.

Ronggur telah menentukan kapan mereka memulai perjalanan pulang itu. Tio diam saja mendengarkan sambil menundukkan kepala. Berhadapan dengan kebisuan Tio, yang

tidak menyahut itu, Ronggur lalu berkata, “Apakah kau tidak ingin mewartakan berita ini pada sanak keluarga? Pada setiap orang, yang selalu diancam bahaya di kampung halaman? Agar mereka dapat bebas dari ancaman yang selalu menakut¬nakuti mereka itu?”

“Bukan itu alasannya. Bukan itu,” sahut Tio.

Wajah Tio agak pucat waktu tengadah padanya. Darah Ronggur tersirap dibuatnya.

“Tio, wajahmu pucat. Seperti orang sakit. Kau sakit?”

“Tidak. Tidak sakit.”

“Kenapa wajahmu sepucat itu? Apa yang terjadi?” Wajah Tio seperti menanggungkan sesuatu. Bibirnya gemetaran. Tio merasakan sesuatu menggeliat dalam perutnya. Tambah lama tambah sering dan menimbulkan perasaan nyeri. Sesuatu tekanan mendesak hendak melalui kerongkongan, berupa rintihan dan jeritan. Tapi, ditahan. Namun, sesuatu rintihan lepas juga dari celah bibir yang dikatupkan, digigit oleh gigi sendiri. Tapi, masih tetap berusaha tersenyum, bila pandangnya bertemu dengan pandang Ronggur.

Akhirnya Ronggur tahu, sesuatu akan terjadi. Barulah sadar arti perobahan bentuk tubuh istrinya, yang akhir-akhir ini begitu nyata dan jelas. Sambil tersenyum dan duduk dekat Tio, Ronggur mengatakan, “Kita memang masih belum bisa memulai perjalanan pulang. Kita harus menanti di sini. Biarlah perjalanan pulang ditangguhkan untuk beberapa lama.”

Cepat Ronggur pergi memetik daun ampapaga, yang banyak tumbuh di pematang sawah di antara rerumputan. Daun ampapaga itu di dikeringkan di panas matahari. Bila sudah kering, direbus, airnya sangat baik buat minuman seorang ibu yang hendak dan baru melahirkan. Dan, dingin¬dingin ditelempapkan ke perut Tio dan kening. Dijerangkan terus menerus air panas dalam periuk tanah. Dan, dia tidak mau lagi pergi jauh-jauh dari dekat Tio, walau Tio selalu

mengatakan, “Aku tidak apa-apa. Tidak usah repot. Pergilah berburu, atau menangkap ikan.”

Ronggur pura-pura tidak mendengarkan. Disunggingkan senyum sebagai sahutan. Dalam kepala terbayang seorang anak lelaki yang sehat. Lelaki yang kelak sanggup mengolah tanah yang bidang menjadi persawahan. Lelaki yang dapat memelopori orang menjelajah hutan belantara yang abadi itu. Hendaknya kehijauan daun padi dapat mengimbangi hijaunya daun pepohonan, agar orang tidak takut kelaparan, juga diharapkan agar anaknya seorang lelaki yang sanggup meniti gelombang yang besar di danau luas itu. Mencapai daerah baru.

Saat kelahiran semakin dekat, dan perasaan nyeri tambah memaksa Tio merintih, sering juga membuat Ronggur harus mengatakan dalam kebingungan, “Apa yang harus kuperbuat? ke mana harus kucari dukun?”

Dari sela rintihannya, Tio menyahut, “jangan repot. Semuanya akan menjadi beres, berjalan dengan baik.” Balik Tio yang menasihati dan menenteramkan hati Ronggur.

Setelah melengkingkan sebuah pekikan yang panjang lagi nyaring, Tio lalu memelas, dan segumpal daging telah ditayang Ronggur dengan hati-hati. Dipotongnya jabang bayi dengan bambu yang ditajamkan pada kedua sisinya. Bayi dimandikan. Tio diberinya minum air ampapaga. Kening Tio yang berkeringat, dilap Ronggur dengan sayang. Anak lelaki meneriakkan suaranya pertama, seperti warta pada dunia bahwa dia telah lahir. Tak lama kemudian, Tio sudah dapat senyum. Menoleh ke bayi yang baru dilahirkannya, seorang lelaki, cukup umur, cukup merah. Begitu sehat. Tangisnya pertama menantang gemuruh ombak yang memecah di pantai. Atau, ombak itu menggamitnya, agar memulai perjalanan, meniti ombak demi ombak yang begitu besar.

Hari berikutnya, anak kecil itu sudah digendong Ronggur sambil dinyanyikannya. Tidak jarang, Tio harus senyum pada

Ronggur dalam saat begitu bahagia. Kekerabatan dan keakraban berumah tangga tambah terjalin. Tio sudah menjadi seorang ibu, Ronggur sudah menjadi seorang ayah, ibu dan ayah dari anak lelaki yang sehat. Bergaya seorang yang akan cukup kuat dan punya ketahanan serta keberanian.

Bertambah hari, dan bertambah usia si anak, Ronggur sudah menggendong si anak ke tepi pantai bersama Tio. Ronggur selalu mengatakan, “Tataplah dengan mata kanakmu, luasnya danau yang ada di depanmu, yang menanti dayungmu berkayuh di permukaannya, meniti ombak demi ombak yang bergulung-gulung memecah di pantai, mencapai pantai lain. Tio, katanya, anak kita akan menjadi seorang pengarung danau yang maha luas ini kelak.”

Bila telah dua kali purnama timbul dan tenggelam, maka Ronggur pun kembali mengatakan, “Tio, sudah waktunya kita memulai perjalanan kembali ke kampung halaman. Memberitakan dan mewartakan, akan penemuan-tanah habungkasan, dan danau yang maha luas ini.”

Tio tidak membantah. Dia akan tetap mendampingi Ronggur, ke mana saja pun. Bermulalah perjalanan itu. Mulanya menyusuri sungai ke hulu . . ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s