bagian 6

Ronggur terbangun. Menggigil kedinginan, walau dia dan Tio berpelukan di bawah telungkupan perahu. Perlahan

diungkapnya pinggir perahu, lalu dijulurkannya kepala melalui celah, yang sudah ditopang oleh batu yang diganjalkan.

Dia telah mengenal kabut pegunungan dan danau sejak kecil. Tapi, kabut yang begini rupa tebalnya dan lamanya belum pernah ditemui sebelum itu. Atau, awan rendah belum pernah melingkupi tanah serendah itu. Langit seperti di atas kepala saja dan dapat dijangkau tangan. Tapi, bila tangan digapaikan ke atas, yang ada hanyalah kehampaan yang tidak bertepi.

Perlahan melepaskan pelukan Tio. Waktu itulah Tio bangun. Bermalas-malas. Kembali tangannya dilingkarkan di leher Ronggur, lalu seperti! anak kecil, dia menciumi pundak Ronggur. Dari mulutnya perlahan berbisik, “Kenapa kau buru-buru bangun? Apalagi yang mengejarmu? Bukankah sudah semua kita lalui dan sekarang kita hanya tinggal menantikan yang akan terjadi, permulaan dari segalanya?”

Ucapan manja bercampur kekanakan, membangkitkan iba Ronggur. Tapi, dengan tegas dia menyahut, “Semalam atau ya saat lalu, kita sudah berpendapat bahwa kita tidak akan melihat dan mengecap saat lain lagi. Kita sudah beranggapan bahwa tidak ada lagi hari, tapi sampai kini masih hidup dan mengenal hari.”

“Apa sudah pagi?” tanya Tio.

“Aku tidak tahu. Tapi, katakanlah dulu sudah pagi. Hingga waktu lewat, hari lalu, dan waktu kini, hari yang kita nantikan kemaren. Hari yang kita harapkan membawa perobahan pada nasib yang mendatangi diri. Atau, perobahan pada yang hendak kita temui. Lihatlah sekitar. Masih disungkup kabut atau awan rendah yang masih tebal. Cahaya putih yang lemah sudah ada lagi, hanya masih begitu lemah. Masih seperti saat lalu.”

“Wajahmu capek kelihatan,” kata Tio.

“Tidak mengapa. Dibaliknya terkandung kegembiraan dan harapan selalu.”

“Kita masih mengharapkan?”

“Selalu. Harapan, satu-satunya api yang dapat membakar semangat hidup. Tapi, janganlah pergunakan harapan untuk harapan saja. Harapan harus dapat melahirkan sesuatu yang berwujud dalam kenyataan kerja.”

“Cakapmu tidak dapat kuartikan,” kata Tio. Tapi, Tio tersenyum. Merapatkan kepalanya ke pundak Ronggur.

Mereka mencuci muka dengan melapkan tangan saja karena wajah mereka tetap basah. Dengan mengulurkan lidah, beberapa titik air dapat ditelan sebagai sarapan pagi.

Ronggur berusaha menatap sekitar, namun pandangnya masih tetap disungkup diputihan. Perlahan dirasakannya angin bangkit. Di arah darimana bermula angin itu. Tio terus merapatkan tubuhnya ke tubuh Ronggur, karena dia tetap kedinginan yang tambah lama tambah bermaksud membekukan diri. Panas tubuh mereka berdua yang merapat, bisa sebagai bedeng, bisa menimbulkan panas.

“Lihat,” kata Ronggur kemudian, “apa kau pikir itu?”

“Apa maksudmu?” tanya Tio.

“Lihat. Tidak kau lihat? Lihat ke bawah sana. Lurus ke depan.”

Tampak oleh mereka berdua sebuah benda putih yang kecil tapi bundar, putih dan lebih putih dari semua, bergerak dengan lamban seperti bermalas-malas. Namun tetap naik atau berusaha naik ke atas, mengatasi segalanya. Begitu putih hingga memijarkan sinar, tapi sinar lemah. Sinar yang dipancarkannya sedang mengadakan perlawanan atau berusaha menghancurkan kabut putih atau awan rendah itu. Untuk menyingkirkannya. Agar bisa dapat dilihat mata apa sebenarnya yang ada di sana, seperti itulah gayanya. Deru

yang terus menderu di depan memberi gendang layaknya. Tidak mati-mati. Biar sesaat pun. Kuping benda bundar putih tidak memperdulikannya.

Benda putih bundar itu merangkak perlahan, mendaki ke ketinggian. Mata mereka terus mengikuti gerak malas dari benda putih yang bundar itu. Hati mereka menjadi tambah menduga. Mereka belum pernah melihat tamasya alam begitu rupa. Sesuatu benda putih yang bundar mengadakan perlawanan terhadap sesuatu yang melingkupi segala dengan warna putih, tapi tidak berwujud. Bundarnya, hampir menyerupai bundar matahari yang mereka kenal, sewaktu ditutupi awan di langit. Tapi, mereka tahu, matahari tetap berada di atas.

Mereka tidak pernah memikirkan bahwa pada satu saat dan tempat yang berobah, rnatahari bisa dilihat seperti berada di bawah. Namun mata mereka terus mengikuti gerak lamban dan malas dari benda putih yang semakin tinggi itu. Mulut mereka ternganga. Bila butiran air tambah menebal melengket di wajah, di rambut hingga menyusahkan mata untuk menatap, sekali hapus saja akan hilang tapi cepat melengket di sana butir air yang lain. Mulanya tipis. Lama kelamaan menjadi tebal. Dan, bila sudah menebal, dihapus dengan telapak tangan.

Tidak disadari mereka, entah berapa lama mereka tenggelam dalam keadaan begitu. Tidak disadari mereka, kenapa pandang mereka terpaut mengikuti gerak perlahan yang menanjak itu. Mereka belum dapat menduga, warta yang akan timbul darinya. Mereka memang tidak tahu lagi, apalagi yang harus mereka hadapi. Hati berdenyut juga walau sudah punya tekad, bersedia menerima segala tiba.

Detak hati yang menandakan diri anak manusia biasa. Dari tubuh Ronggur sendiri, segala perasaan mencurah keluar, mengikuti perjalanan benda bundar yang lemah itu. Dalam saat begitu rupa, dia memerlukan kelembutan yang bermula

dari tubuh Tio. Dia tambah mengeratkan pelukannya ke pinggang Tio. Kalau mati, marilah mati berpelukan, kata hatinya ke diri sendiri. Dia tidak mau mengatakannya pada Tio, takut kalau Tio menjadi takut, dan merasa ngeri. Tio mendekatkan pipinya ke pipi Ronggur. Mata mereka terus mengikuti gerak perlahan yang terus menanjak di depan bermalas-malas, dengan tidak mau tahu pada mereka berdua yang mengikuti geraknya terus menerus.

Perlahan sekali sehingga tidak terasa, sungkupan awan rendah bercampur kabut tambah menipis juga dari sekitar. Perobahan yang tidak tersadari. Mulut jurang sungai tambah berbentuk. Begitu pula mulut jurang di sebelah kanan. Si belang turut duduk dekat mereka, tidak bergerak. Melihat ke arah yang mereka tatap. Lidahnya dijulurkan. Seperti menanti sesuatu yang menentukan akan tiba.

Tebing jurang tambah menghitam, namun dasarnya belum tampak atau memang tidak punya dasar. Apakah benda putih itu akan menyuluh jurang yang tidak berdasar? Pandang sudah bisa mereka campakkan barang sepuluh depa ke depan, ke samping dan ke sekitar. Tambah jauh jarak yang dapat ditangkap pandang.

Bila cuaca bertambah terang, si belang mulai sering melangkah ke depan dan ke belakang, seperti melemaskan otot. Tapi, cepat Tio memanggil kembali, takut kalau si belang terjerumus ke mulut jurang yang belum tampak dasarnya.

Benda bundar yang putih itu bertambah tinggi juga. Bertambah garang cahaya yang memancar darinya. Mereka ikuti terus dengan tabah. Jarak yang dapat ditangkap pandang bertambah jauh dan luas. Jauh ke belakang dapat dilihat Ronggur, di sana tebing tidak berapa curam. Bisa dituruni, bila hendak turun ke lembah di seberang kanan. Tapi, dasarnya belum tampak sama sekali. Tapi, suatu harapan telah menggeliat dalam hatinya. Tebing yang tidak berapa curam itu

menurut perhitungannya, bisa dituruni secara perlahan. Tidak berapa sulit malah.

“Ronggur,” pekik Tio meninggi sambil mempererat pelukannya ke pinggang Ronggur, “itu matahari! Itu matahari! Mula hidup! Itu matahari!”

Cepat Ronggur berpaling. Terbelalak mata mereka melihat sinar yang tambah terang. Sungkupan kabut dan awan rendah tambah menipis dan terangkat.

“Dan, – dan —” dengan gugup, gugup sekali, karena tidak menduga walau itu yang dicari dan diharapkan, karena dengan itu mereka telah dibebaskan dari kungkungan yang mencekam dan mengancam. Karena dengan itu, mereka telah menemui, jauh di bawah, melalui tingkatan pundak bukit, terhempang kehijauan yang sangat luas. Kehijauan yang maha lebat lagi datar.

Dapat ditangkap dengan pandang sekarang, itu dedaunan dari pucuk pepohonan yang tinggi. Pucuk dedaunan itu seperti berombak ditiup angin lalu, angin pagi. Angin pegunungan. Sejauh mata memandang, yang dapat dilihat kehijauan yang merata, lebat berimbun.

“Ronggur, itulah tanahmu. Ronggur, itulah tanah habungkasanmu. Ronggur, itulah yang ditunjukkan mimpi dan perkataan gaib dalam mimpimu. Dia telah membawamu ke tanah habungkasan yang maha luas.”

Ronggur gugup. Tidak dapat menyahut dengan segera. Matanya menitikkan air bening. Semangatnya kembali hidup secara perlahan. Api dalam dirinya kembali menyala atau bara yang untuk beberapa saat tertimbun oleh debu, sekarang debu itu telah menyisih sehingga merahnya bara kembali rrienjilamkan panas menyala, membuat suhu tubuhnya menjadi naik. Dapat dirasakan Tio. Lalu dia mengatakan perlahan:

“Tio, tidak tanah itu saja yang ditunjukkan mimpi padaku. Tidak tanah habungkasan itu saja.”

“Apa lagi?” tanya Tio terbodoh.

Lama Ronggur menumpa pandang ke biji matanya, lalu, “Juga kau. Kau, sayang!”

Pandang lama bertemu, lalu Ronggur melingkarkan tangannya ke tubuh Tio dengan ketat, yang sekarang, sudah bisa pula melemas.

“Tio, marilah mengucapkan sukur pada Mula Jadi Na Bolon, yang telah mengirim matahari untuk kita, yang membuat kita dapat melihat tanah habungkasan yang dijanjikannya dan membuat aku dapat dengan jelas melihat wajahmu, menanamkan pandang ke dasar bening matamu.”

Mereka bersujud ke arah matahari. Perlahan, Ronggur menegakkan Tio dari sujudnya. Setelah memberi kecupan pada bibirnya, dia mengatakan pula, “Itu bukan tanahku, Istriku. Tapi, juga tanahmu. Tanah kita berdua. Tanah anak kita. Tanah keturunan kita, yang pasti banyak dan akan terus berkembang. Tapi, juga tanah orang lain, yang mau bungkas ke sana.”

Beberapa saat keduanya terdiam. Tapi, kata Ronggur kemudian, “Perjalanan kita masih jauh. Kita harus menyelidiki keadaan tanah di sana. Apakah baik dijadikan tanah persawahan. Apakah hutannya banyak menyimpan binatang buruan. Tapi, sebelum itu, sebelum kita memulai perjalanan ke sana, izinkanlah aku mengatakan sesuatu kata yang telah lama terpendam di hati, “aku cinta padamuTio.”

Tio menggigit bibir. Matanya menitikkan air bening. Sambil tersedu karena terharu, dia menelungkupkan kepala ke dada Ronggur yang bidang. Ronggur membiarkannya begitu beberapa saat. Tidak mengganggu. Tangannya terus menerus mengelus rambut Tio yang panjang lagi lembut dan lemas, tapi basah.

“Kita akan terus mengikuti aliran sungai menuju tanah landai,” kata Ronggur kemudian, “lihat terus ke sebelah timur sana, sesuatu garis putih yang membelah kehijauan, ialah terusan Sungai Titian Dewata.”

Tio mengikuti arah yang dimaksudkan Ronggur. Melalui dinding batu yang tidak berapa curam, mereka dapat melihat gundukan perbukitan di sebelah kanan.

“Itulah jalan yang baik ditempuh,” kata Ronggur.

Lalu dia mengikat pinggangnya dengan tali. Dia turun sendirian ke gundukan tanah pertama. Membuat anak tangga. Jalan ke gundukan pertama, agak curam. Tapi, dari sana, dia ketahui, menurun ke gundukan kedua, lebih landai. Begitu seterusnya, sampai tiba ke tanah datar di bawah. Kembali dia memanjat. Lalu menyuruh Tio turun, sedang ia memegang ujung tali, ujung yang lain diikatkan ke pinggang Tio. Kemudian diturunkannya satu-satu peralatan, Tio menerima di bawah, sampai akhirnya perahu sendiri. Kemudian dia sendiri turun sambil menuntun si belang.

Mereka sudah sama berada di gundukan pertama, yang mempunyai tanah, tapi masih begitu tipis, tanah melapisi batu. Untuk pertama kali kembali mereka lengkap bersama alatnya, termasuk si belang, memijak tanah, setelah beberapa hari terendam di air, kemudian terdampar ke batu padas, dibasahi titikan air yang terus menghujani mereka. Serpihan air tipis yang menghujani itu tidak sampai lagi ke sana. Sudah bisa mereka berjemur di sana, mengeringkan tubuh dan memanaskan tubuh. Si belang menggoncangkan tubuh, mengibaskan ekor biar cepat kering. Mereka tentukan untuk bermalam di sana. Hari sudah sore.

Rumput kering, dijalin begitu rupa, hingga agak besar. Lalu dibakar menghidupkan api. Betapa nikmatnya panas jilam api, setelah beberapa lama tidak merasainya.

Malam itu keinginan Ronggur untuk meniup seruling memuncak. Lagu yang mesra ditiupnya perlahan. Gemuruh air dibalik bedeng terus kedengaran, sekarang seperti melengkapi irama seruling yang ditiup Ronggur. Tidak menakutkan dan mengancam lagi. Malah seperti menjadi pertanda. Agar seseorang yang menyusuri sungai jangan meneruskan penyusuran lagi, tapi agar memulai menempuh jalan darat. Kemudian Tio mengiringi tiupan seruling itu dengan nyanyi:

Bila bulan di awan purnama Di tepi danau aku menanti Wajahmu menghias tanda masa Mengajak daku ke dunia mimpi

Ronggur berhenti meniup seruling, dia melanjutkan nyanyian itu:

Pohon aren di belah dua Tempat berayun monyet berdua Janji telah memadu Pinang sebelah dibagi dua

Lalu berdua mereka melanjutkan:

Terbang engkau elang Hinggap di kayu rindang  Ke mana engkau sayang

Kasihku tetap mendendang

Kemudian hanya Tio melanjutkan sedang Ronggur kembali meniup seruling:

Kalaulah benar warta impian

Ditimang beta dengan sayang

Sinar purnama empuk menayang

Haribaanmu lagu impian

Tio meletakkan kepala ke pangkuan Ronggur. Memejamkan mata dengan manja. Api unggun yang kecil itu terus menari dan menari. Si belang duduk menjauh, memaling pandang. Malam terus melanjut.

Pagi terbit lagi. Pemandangan seperti pagi kemaren. Bola putih itu pada mulanya lemah sinarnya dan berada seperti di bawah mereka. Kemudian secara berangsur perlahan, keadaan sekitar bertambah terang.

Sehabis sarapan pagi mereka melanjutkan perjalanan. Seperti taktik kemaren juga. Begitulah secara perlahan dan hati-hati, akhirnya sampai juga mereka ke tanah landai di bawah. Di atas kepala, memayung dedaunan hijau, sedang kemaren dedaunan itu masih berada di bawah mereka, perobahan tempat mengadakan perbedaan.

Sinar matahari hanya dari celah dedaunan saja sampai ke tanah. Tanah cukup lembab dan basah. Dilapisi dedaunan yang gugur sudah membusuk. Membentuk lapisan tanah yang lembut dan berair. Kaki mereka terbenam sampai ke lutut terkadang. Membuat mereka agak susah bergerak. Tapi, di

sana bisa mereka tarik perahu bersama peralatan lain, tanpa takut dasar perahu bolong.

Mereka meneruskan perjalanan yang agak melingkar, karena suara gemuruh bertambah hebat dan terasa menggoncangkan. Berpedoman pada ingatan pemandangan kemaren sore di mana terusan sungai berada, agar kembali tiba ke sungai. Si belang berlari ke sana ke mari dan menggonggong. Kekayuan yang tinggi dan besar batangnya seperti tiang abadi yang bergaya mendukung langit, agar tidak runtuh lalu menimpa bumi serta penghuninya. Getaran bumi tambah terasa. Tergoncang.

Di satu tempat di arah depan, sinar matahari lebih leluasa tiba ke tanah. Ke sana mereka menuju, walau suara gemuruh tambah jelas dan memekakkan telinga. Dan, betapa ternganga mulut mereka melihat benda itu. Sesuatu benda putih mengapas putih melambung ke atas. Kemudian jatuh ke bawah bergulung-gulung, itulah air terjun yang tidak hentinya menerjunkan diri. Membuat dedaunan sekitarnya bergoyangan, membentuk telaga yang agak luas pada tempat jatuhnya, tapi airnya berputar dengan cepat. Di sana-sini terbentuk curup di lingkungan yang gelisah itu yang bisa menenggelamkan apa saja yang jatuh ke tengah curup itu.

Tio merapatkan tubuhnya pada Ronggur. Tapi, mata terus ditancapkan pada benda jatuh itu. Kala di bawah arusnya melingkar dan membikin kepala pusing bila lama-lama menatapnya, la mengalir dengan besarnya ke arah timur. Itulah kelanjutan sungai.

Mereka menyisih cepat dari sana. Merasa takut kalau batu yang membentuk jaluran kejatuhan air itu akan runtuh lalu menimpa mereka. Jalanan terus menurun.

Seperti menuruni pundak perbukitan, tapi sudah ditumbuhi kekayuan yang tua. Di sana-sini dedaunan gugur membentuk lapisan tanah yang lembut.

Di arah depan kembali kedengaran suara gemuruh, tapi tidak sekuat yang tadi lagi. Arus sungai kembali menggila, membuat mereka tidak langsung berkayuh melalui sungai. Tapi, tetap mengikut pinggiran sungai. Kembali mereka temui air terjun, jarak jatuhnya lebih pendek dan lebih landai dari yang pertama. Sehingga busa air tidak terlalu hebat sewaktu jatuh.

Dengan memilih jalan agak melingkar mereka menurun terus ke bawah. Sampai akhirnya berada di tempat jatuhnya air kedua. Mereka menatap ke atas, benda putih mengkabut bermula dari air jatuh pertama. Terus mereka menghilir mengikuti tepian sungai. Sampai akhirnya arus sungai tidak beriam lagi. Menurut perhitungan Ronggur sudah dapat memulai pelajaran dari sana. Tapi, karena hari sudah agak sore, mereka memutuskan untuk bermalam di sana.

Si belang melompat ke depan. Masuk semak. Biarpun Tio memanggilnya. Beberapa saat kemudian, si belang keluar dari semak mengejar seekor kijang, la meloncat ke depan. Dan, tercengang melihat Tio dan Ronggur. Ronggur tidak melewatkan kesempatan baik itu. Dengan tombaknya cepat dia membunuh kijang yang tercengang itu. Kijang terguling ke tanah, ujung tombak tertancap di dadanya.

Sambil menguliti, Ronggur mengatakan, “Kalau begitu, di sini banyak binatang buruan. Kita tidak menguatirkan mati kelaparan. Lagi masih begitu jinak binatang itu. Tidak punya prasangka pada manusia yang memburunya ”

“Lihat,” kata Tio pula. “Itu pohon aren. Umbinya bisa kita jadikan bahan makanan. Pengganti beras. Bila beras habis.”

Tambah tahulah mereka tanah yang mereka temui itu, mempunyai tumbuhan yang bersamaan dengan tumbuhan yang ada di bidang tanah yang mereka tinggalkan. Binatangnya juga begitu. Mereka tebang beberapa pohon aren. Mereka ambil umbinya. Lalu mereka jemur, dan tumbuk

lalu direndam lagi kemudian ditapis untuk mengambil tepungnya. Untuk beberapa hari mereka tinggal di situ.

Walaupun sudah menghilir arus sungai masih kencang. Sungai terus menerus membelah hutan belantara. Terkadang sungai seperti ditutupi dedaunan hijau yang merimbun di atasnya. Sehingga sinar matahari tidak sampai ke permukaan sungai.

Dan, mereka harus lebih hati-hati menjaga kemudi. Tidak bisa berdiri dengan leluasa. Dedahanan terlalu rendah terkadang. Beberapa buah batu jangkar masih dijatuhkan, menjaga keseimbangan kelajuan perahu. Tio lebih banyak memperhatikan sekitar, karena dia belum perlu mengkayuh. Tapi, biarpun begitu perasaan Ronggur begitu pasti bahwa mereka akan tiba ke tanah yang lebih landai dan lebih baik.

Dengan melampaui riak air yang terkadang menghempas ke batu yang muncul di sana-sini, melalui riam yang liar di tikungan sungai yang patah. Tapi, sekitar mereka sekarang berwarna hijau dan tanah mengambangkan bau kesuburan. Dari celah renggangan dedaunan, sinar matahari terus memberi suluh abadi. Bila cahaya itu melemah, tahulah mereka, hari sudah mengarah sore. Cepat mereka meminggirkan perahu. Memilih dahan kayu yang baik untuk tempat bermalam. Mereka tidak menguatirkan kehabisan bahan bakar. Di sana-sini berletakan ranting kering, bergeletakan dahan kering yang patah dari batangnya. Untuk digantikan dahan lain mendukung dedaunan yang lebih hijau, segar lagi lebat.

Kemana saja mata diarahkan, tetap tertumpu pada pohon yang besar lagi tinggi, seperti raksasa dalam dongeng, menjelma kepada penglihatan, ibarat penopang langit agar tidak jatuh ke atas tanah. Ronggur dapat merasakan bahwa batang kayu yang besar itu dapat digunakan selanjutnya untuk kepentingan kehidupan.

Perjalanan diteruskan menuju ke timur, menghilir sungai. Perasaan dalam dada masing-masing, seperti berlomba keluar untuk disuarakan, meneriakkan kegembiraan. Untuk mencari bentuk kata, kata yang paling sesuai diucapkan dengan yang dirasakan dalam hati, yang ditiupkan musik alam ke dalam diri atau untuk menyiutkan nada musik yang memadat dalam rongga dada. Arus sungai tambah perlahan. Beberapa buah batu jangkar sudah diangkat ke atas. Tapi, masih ada juga dijatuhkan.

Ronggur selalu menghirup udara dalam-dalam. Ingin dia menghirup habis segala kebebasan yang diberikan alam padanya, namun dia tidak sanggup menghabiskannya. Bila mereka menemui gua alam di tepi sungai, dan bila mereka bermalam di sana dan biasanya lebih lama daripada bila mereka tidur di dahan, Ronggur meniup seruling dan Tio bernyanyi. Sedang si belang berlari kian kemari, menggonggong dan menyalak, memelopori sebuah perburuan bila fajar pagi tiba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s