Bagian 5

Masih pagi benar. Udara cukup dingin. Tanah lembab pertinggal hujan semalam. Dua tiga biji bambu duri terbelintang di tengah jalan, tumbang. Di darat kabut tipis saja. Hijaunya dedaunan dapat juga dilihat pandang. Bertambah segar karena mengandung butir air. Tapi, permukaan danau, jika bertambah jauh ke tengah, kabut mengental. Beberapa depa saja dapat ditembus pandang. Pulau Samosir Tuktuk Sigaol tidak tampak. Air danau alangkah dinginnya.

Ronggur, Tio, dan si belang sudah berada dalam perahu. Tempat begitu lapang. Pengayuh, galah, penimba air, sudah di tempatnya. Tombak, kampak, panggada, ambalang, dan sesumpit batu sungai yang keras. Beras sesumpit. Disumpit lain daging kering. Juga mereka bawa mata pancing serta talinya.

Pada leher Ronggur membelit ulos batak ragi purada yang dibelitkan ibunya. Begitu juga pada leher Tio, dibelitkan ulos batak ragi purada yang diiringi kata, “Belitkanlah pada tubuhmu, di kala dingin mencekam. Pengganti tangan bunda . . ..” Hanya perempuan tua itu dan bekas Datu Bolon di tepian danau mengantar mereka. Orang lain sudah dilarang untuk mengantarkan mereka. Ronggur menatap pada ibunya, sebelum perahu hilang ditelan kabut. Lalu pada orang tua itu, melalui renggangan batang bambu duri, dicampakkan pandang ke tengah kampung. Mencari bekas kehidupan masa lalu di sana. Tingkah lakunya yang sopan serta ramah-tamah, keberanian yang tidak gentar menghadapi sesuatu soal pada saatnya, memikat hati orang di sekitarnya. Karena itu dia banyak mempunyai teman.

Tapi, di saat dia harus meninggalkan perkampungan itu untuk satu perjalanan yang belum tentu akhirnya, tak terduga

nasibnya, tidak seorang pun dari temannya yang dibolehkan mengantarkan. Melepasnya. Tahulah dia, betapa pahit perasaan mencekam hati untuk meninggalkan tanah tempat lahir, dibesarkan, dan diasuh, punya teman, tapi tidak boleh pamitan.

Di sebelah haluan perahu, Tio berdiri. Matanya jauh mengedari tanah yang sudah cukup dikenalnya. Di mana dia pernah disanjung puja, selagi martabat marganya belum runtuh. Teringat pula saat kejatuhan marganya dan dia sendiri, harus menjadi budak belian. Temannya sebaya banyak yang mati di saat itu. Setetes dua air-mata membasahi pipi. Cepat dihapus agar tidak sempat dilihat Ronggur.

Perahu bergerak perlahan meninggalkan tepian. Tangan mereka membalas lambaian kedua orang tua yang mengantarkan mereka. Sebelum pferahu ditelan kabut, tidak hentinya lambaian dilepaskan dari tepian, tinggi melengking. Si belang pun seperti tahu, perjalanan mereka sekali ini amat panjang. Perlahan perahu memasuki daerah yang dilingkungi kabut tebal. Perlahan pula tepian menghilang dari pemandangan. Untuk digantikan warna putih saja pada akhirnya. Tangan terkulai tak ada lagi yang hendak dilambai.

Tidak dilihat Ronggur lagi, ibunya mencampakkan diri ke pohon hariara yang besar itu. Tersedu di sana. Meratap panjang. Bekas Datu Bolon menyabari. Kemudian menuntunnya pulang ke rumah.

“Mereka akan berhasil, mereka akan pulang membawa berita baik dan menggembirakan,” bujuk bekas Datu Bolon. “Semua yang dikorbankan Ronggur untuk perjalanan ini akan kembali padanya, malah lebih dari itu akan dipunyainya.”

Perempuan tua itu menundukkan kepala, mengiakan, walau sebenarnya dia tidak dapat meyakini bujukan itu.

Bila sinar matahari pagi telah muncul dari puncak Dolok Simanuk-manuk, kabut tambah menipis lalu menghilang.

Kerajaan sudah tahu bahwa Ronggur bersama Tio telah berangkat, maka Raja Panggonggom mencoret nama Ronggur dari silsilah keturunan marga. Ronggur telah dianggap mati. Riwayat Ronggur berakhir di situ saja.

Perahu yang dikayuh Ronggur dan Tio maju perlahan. Tio mendayung ke hulu. Ronggur di buritan langsung menjadi pengemudi. Beberapa biji mata pancing yang sudah diumpani dijatuhkan Tio ke danau. Sambil berkayuh, mereka mengharapkan dapat pula sambil lalu menangkap beberapa ekor ikan. Mereka berdua terus mengkayuh. Antara keduanya belum mengucap sesuatu kata.

Perahu terasa berat dikayuh. Karena dasarnya agak lebar. Haluannya tumpul. Menahan air atau menghempang kelajuan perahu. Tapi, mereka masing-masing melaksanakan tugas, walau perahu agak susah dikayuh dan walau hati masing-masing masih diselubungi sakitnya perpisahan dengan kaum kerabat, dengan tanah tempat dibesarkan, tanpa pamit. Walaupun Tio tetap merasakan bahwa dia akan aman selalu bila berdekatan dengan Ronggur, yang mempunyai otot yang tegap, tekad hati yang bulat, keberanian yang jantan, sikap ramah tamah, dan sopan santun yang manis, namun pada saat itu, setiap perahu tambah jauh dikayuh, hatinya merasa kecut juga mendatangi ajal yang ada di depan.

Tapi, dihiburnya diri, kalau dia tidak ikut, bukankah itu berarti memberikan tubuhnya, hidupnya ke tangan nasib yang telah tertentu belangnya, yaitu menjadi budak belian orang, yang akan memperlakukannya seperti memperlakukan hewan. Bukankah itu berarti penghinaan akan martabat diri, tidak tahu menghargai diri sebagai manusia yang dapat membedakan arti dan hakikat manusia merdeka dengan budak belian?

Ah, katanya dalam hati sendiri, bila diri tahu perbedaan antara menjadi seorang budak belian dengan manusia merdeka dan diri tidak berpihak kemerdekaan itu, seseorang

yang tidak dapat mengucapkan terima kasih pada Mula Jadi Na Bolon, yang telah menciptakannya menjadi manusia. Tidak menciptakannya menjadi hewan.

Satu keuntungan bagi tiap manusia, yang bisa mempergunakan tiap kesempatan yang ada, untuk membebaskan diri dari belenggu yang menindas harga diri itu. Dan, kata Tio selanjutnya pada diri sendiri, kesempatan, kupikir dan kurasakan, ada bila aku bersama Ronggur. Bila aku memilih jalan yang ditempuhnya. Walau apa bentuk nasib yangmenanti di depan. Itulah risiko.

Manusia lahiratau dilahirkan memang untuk menghadapi risiko, mengatasinya, lalU tercapailah idaman hati. Atau, memang diri mampus karena tidak dapat mengatasi risiko itu. Tapi, diri telah melaksanakan tugas kehidupan sebaik-baiknya. Dan, itulah kehidupan. Kabut sudah terangkat, matahari leluasa melemparkan sinarnya.

“Sentak pancing yang ada di sebelah kananmu!” teriak Ronggur yang sekaligus membangunkan Tio dari renungan. Tangannya cepat menggapai tali pancing. Tidak lama kemudian, seekor ikan mas yang sudah cukup besar, menggelepar di permukaan air.

“Tangkap dengan jaring,” kata Ronggur pula.

Tio mengikuti petunjuk itu. Dengan sebuah pukulan panggada pada kepala, ikan itu melepaskan gelepar akhirnya. Isi perutnya dibuang Tio. Disisikinya. Lalu dia bertanya pada Ronggur:

“Kita apakan ikan ini? Kita ura?”

“Ya, ura saja. Banyak bikin asamnya. Biar cepat masak. Tapi, harus rata. Biar masaknya rata pula.”

Dengan sedih akhirnya Tio mengatakan, “Tapi, daun pembungkusnya tidak ada.”

Ronggur mencampak pandang ke pinggir danau. Cepat dia menujukan haluan perahu ke tepian. Lalu melompat dari perahu ke tepian berpasir basah, langsung memanjat sebuah pohon berdaun lebar. Beberapa tangkai dedaunan yang cukup lebar dijatuhkan ke tanah. Cepat dipungut Tio. Ikan diasami. Lalu dibaluri dengan kunyit. Kemudian dibungkus baik-baik. Seolah tidak tertembus hawa.

Mereka melanjutkan perjalanan. Mereka tidak memenggal perjalanan melalui tengah danau. Selalu mengikuti pantai. Hingga perjalanan menjadi bertambah jauh. Beberapa kali mereka berpapasan dengan penangkap ikan. Tapi, tidak seorang pun dari penangkap ikan yang melambaikan tangan dan menyapa mereka. Para penangkap ikan itu menatap dengan dungu ke arah mereka. Lalu, cepat mengkayuh sampan masing-masing, agar cepat jauh dari manusia yang sudah digoda setan jahat itu. Sekarang Ronggur sudah dapat mengartikan, kenapa orang tidak menegurnya dengan ramah lagi.

Matahari tambah tinggi dan terik. Gelombang mulai menggila. Perahu mulaii menunduk nunduk mengikuti alun gelombang. Sampan penangkap ikan sudah sunyi dari danau. Ronggur mengkayuh melalui ke tepian. Tepian yang dipilih ialah lepian yang jauh dan kampung yang banyak bertebar sepanjang pantai danau. Di sana mereka memasak nasi lalu makan siang. Daging kering masih ada. Sedang ikan yang diura itu, baru bebeiapa hari kemudian dapat dibuka dari bungkusannya untuk dimakan.

Bila sinar matahari sudah tidak terik lagi, kembali mereka melanjutkan perjalanan. Matahari leluasa melemparkan sinarnya dan membakar mereka berdua, turut si belang, justru karena perahu mereka tidak punya atap. Si belang tidak sering lagi menggonggong, sudah lebih banyak diam dan tiduran di perut perahu. Pada mulanya dia selalu menggonggong perahu dan sampan yang berpapasan dengan mereka, tapi karena

orang yang ada dalam sampan atau perahu yang digonggongnya tidak melambaikan tangan, membalas gonggongnya, akhirnya si belang sendiri pun tinggal diam saja melihat mereka, sambil menjulurkan lidah.

Setelah dua hari berkayuh, tepian danau kembali dirimbuni rumpun bambu duri dengan rapat. Pertanda perkampungan. Titik putih yang besar itu, dapat mereka terka bahwa itu kuburan nenek moyang yang pertama merambah mendirikan perkampungan. Dapat mereka tentukan melalui titik putih itu bahwa itulah gerbang perkampungan. Kuburan nenek moyang yang pertama membuka satu perkampungan, selalu dikebumikan di gerbang kampung. Titik kecil yang bermunculan di sana menatap ke arah mereka, ada yang menuding. Tapi, tidak ada yang melambaikan tangan.

Tio tidak memikirkan itu. Tapi, pada pikirannya mendatang pengenalan bahwa mereka telah memasuki lekuk danau yang pada salah satu tepiannya, bermula Sungai Titian Dewata. Dia menarik napas yang dalam. Sedang Ronggur memperhatikan permukaan air dengan awas. Meneliti awal sungai.

Pada mulut sungai banyak terdapat gugusan pasir hidup. Perahu dan sampan nelayan yang terdampar ke sana karena tidak hati-hati, secara perlahan-lahan akan ditelan pasir hidup itu. Orangnya bisa selamat kalau pandai berenang. Pasir hidup selalu berpindah tempat, bergerak dibawa arus. Jadi orang yang berlayar di sana harus hati-hati. Tanda pasir hidup dapat diketahui dari permukaan air danau yang agak memutih, bercampur keruh, dan beriak.

“Percepatlah mengayuh Tio,” kata Ronggur. “Sebelum sore benar, kita sudah harus memasuki mulut sungai. Biar kita dapat terus menyusuri sungai sampai ke tempat yang jarang perkampungannya. Juga agar dapat kita bedakan, antara permukaan air yang aman dan jebakan pasir hidup. Kita tak dapat menepi di sini. Terlalu rapat perkampungannya. Siapa tahu, di antara mereka ada yang bermaksud jahat pada kita.”

Tio mempercepat kayuhannya. Si belang kalau sudah capek duduk, terkadang berjalan hilir mudik dalam perahu. Mengibaskan ekor pada punggung Tio, begitu pula pada kaki Ronggur. Tampaknya si belang seperti menyesal, karena tidak dapat membantu tuannya.

Cahaya senja sudah bermain di permukaan air yang beriak. Riak yang seperti disorong ke satu arah, punya arus, tapi masih perlahan. Mula sungai. Riak itu, walau masih perlahan, tetap bergerak, tetap disorong sesuatu tenaga untuk ditibakan ke satu tempat.

Pada kedua tepian pangkal sungai, banyak orang berdiri. Melihat mereka dengan dungu. Dari sekian banyak orang, yang diketahui Ronggur sudah lain dari kesatuan marganya, seorang pun tidak ada yang menyapa mereka. Tapi, orang mencampak pandang ke arah mereka. Menonton tanpa menggunakan perasaan. Oleh tatapan itu, oleh kebisuan itu, Tio menjadi gelisah.

Si belang sudah pernah menggonggong ke arah mereka, seperti menjenggak. Tapi, orang itu tetap juga di tempatnya. Si belang akhirnya capek sendiri. Tio bolak-balik melihat pada orang banyak, kemudian pada Ronggur yang terus mengayuh dan menjaga kemudi dengan hati-hati.

“Ronggur, kau lihat mereka itu?”

“Ya, kulihat. Teruslah mengayuh, jangan ambil perduli.”

“Tidak seorang pun dari mereka yang mengaju tanya pada kita. Sedang mereka sudah berbeda marganya dari margamu. Apakah mereka tidak bisa mengucapkan sepatah kata?”

“Kepercayaan mereka sama dengan yang dianut margaku. Tidak mengapa. Teruskan mengayuh. Kepercayaan itu yang melarang mereka untuk bercakap dengan kita. Atau, kepercayaan itu membuat mereka bisu. Perasaan mereka tumpul dibuatnya. Teruslah mengayuh. Sebelum jauh malam,

hendaknya kita sudah sampai ke tempat yang cukup jauh dari perkampungan mereka.”

“Mata mereka tidak bercahaya. Seperti mata ikan yang mati. Aku ngeri melihatnya dan merasa terpukau berhadapan dengan manusia yang begitu banyak, tapi yang begitu diam dan bisu, seperti patung. Tidak berkerisik.”

“Teruslah berkayuh, Tio. Biar cepat kita jauh dari tatapan mereka. Agar godaan darinya tidak lama mempengaruhi tekad diri.”

Tio meneruskan mengayuh. Untuk akhir kalinya, si belang sekali lagi menggonggong ke arah tumpukan orang yang diam bisu itu, sebelum mereka menjauh benar. Arus sungai masih lemah. Belum bisa menghayutkan perahu. Mereka masih harus mengayuh kuat-kuat, agar perahu melaju.

Senja di langit bertambah tua. Merahnya mewarnai segala. Dan, dari satu tempat yang ketinggian lagi sunyi, seseorang memanggil nama Ronggur. Mulanya begitu lemah dan jauh. Seperti suara setan yang bangkit dari dunia jauh. Ronggur mendongakkan kepala, mencari dari mana suara itu datang. Si belang mempertajam penciuman. Menggonggong. Disuruh Tio diam. Si belang mengikut.

Seseorang berlari di pematang sawah sambil melambaikan tangan. Ronggur berhenti berkayuh. Diikuti Tio. Orang itu sudah berada di tepian sungai. Setelah beberapa hari tidak mendengar suara orang lain yang mencakapkan mereka, rasanya, suara orang itu seperti hadiah yang besar, hadiah yang membuat mereka gugup.

“Ronggur,” kata orang itu, napasnya masih tersengal, “bawalah aku bersama kalian. Aku mau turut.”

Ronggur tambah terdiam. Hampir tidak dapat mempercayai pendengarannya.

“Ronggur, kau dengarkah aku? Aku si Lolom. Kawanmu sejak kecil. Aku mau turut.”

“Kudengar kau, Lolom. Kudengar kau. Apa maksudmu?” tanya Ronggur kembali. Dia belum yakin benar akan pendengarannya.

“Bawalah aku bersama kalian. Aku mau turut. Tidak bermaksud jahat aku. Bawalah aku.”

Ronggur dan Tio tambah terdiam mendengarkan permohonan orang itu, permohonan yang tidak diduga sama sekali. Di saat mereka disisihkan dari sekitar, dari alam kehidupan mereka sehari-hari, di saat itu pula seseorang dari anggota masyarakat yang menyisihkan itu memohon pada mereka, agar dibolehkan turut serta. Membuat Ronggur ingin tahu, kenapa orang itu mau turut.

“Kenapa kau harus ikut?” tanya Ronggur.

“Aku tahu perjalananmu mendatangkan ajal. Tapi, aku tidak perduli. Aku mau ikut. Karena aku memang dengan sengaja mencari kecelakaan pada diri sial ini. Bawalah aku, Ronggur. Sungguh sial nasib menimpa diriku. Aku kalah berjudi. Sawahku sudah tergadai. Namun hutangku masih bertumpuk.”

“Jadi kau sengaja mau mencari malapetaka?”

“Ya, seperti kalian. Seperti kau. Tepikanlah perahu itu biar masuk aku. Daripada aku membunuh diri, gantung diri, lebih baik kurasa, lebih tenteram kurasa hati, bila ada teman sama¬sama mati. Karena aku takut sendirian menuju negeri jauh itu. Bawalah aku, biar aku tidak merasakan kesunyian di saat nyawa berpisah dari tubuh. Justru karena tahu ada teman sama-sama mati.”

“Kau pikir kami sengaja mencari kematian dengan melayari sungai ini? Atau, sengaja mendatangi kecelakaan yang bisa

mengakibatkan kematian?” tanya Ronggur pula. Sinar matanya memancarkan cahaya benci.

“Apa maksudmu?” kembali Lolom bertanya. “Bukankah kau dengan sengaja mencari sumber malapetaka dengan melayari Sungai Titian Dewata ini?”

“Tidak. Kami mau mencari penghidupan yang lebih sempurna. Mencapai tanah luas tempat habungkasan,” jawab Ronggur tegas.

“Ah, jangan bersilat kata, Kawan. Kau sengaja mencari kecelakaan, kematian, dan aku mau turut. Habis perkara,” suara si Lolom mulai ringan dan lincah, tidak seperti semula lagi.

“Kenapa kau berkata begitu, Lolom?”

“Karena kau Ronggur, jatuh cinta pada budakmu. Memang budakmu itu manis. Bukankah karena tidak tahan menanggung malu di dunia ini, kau melarikan diri dari kehidupan ini dengan dalih mencari tanah habungkasan bersama budakmu itu? Bawalah aku. Aku tidak bermaksud mempengaruhi perasaan cinta yang tumbuh di hati kalian berdua. Itu soalmu. Aku akan menutup mata dan mulut, di saat kalian bercumbuan. Percayalah. Bawalah aku Ronggur. Biar ada temanmu sama-sama mati. Biar ada pula temanku sama-sama mati. Walaupun sebab kita berbeda. Kau karena menyintai seorang budak. Aku karena kalah berjudi. Dari kita sebenarnya sama sialnya.”

Dengan hentakan kasar, Tio membenamkan pengayuh ke air hingga air muncrat ke atas, lalu mulai mendayung.

“Perjalanan kami tidak wajar dikotori seorang penjudi yang mau bunuh diri,” jawab Tio kasar. “Perjalanan yang menuju atau mencari tanah habungkasan.”

Wajahnya memerah. Dan, ia tidak tahu, kenapa dia harus mengatakannya. Sebenarnya dia sendiri memang sependapat

dengan orang lain, dengan Lolom bahwa perjalanan itu akan kandas di karang kecelakaan. Tapi, biarpun begitu, tidak wajar rasanya, perjalanan yang bermaksud baik itu dikotori seseorang yang memang sengaja mau bunuh diri.

“Apa kau katakan budak manis? Apakah kau tidak dengan sengaja mengotori hidup si Ronggur? Dengan wajahmu yang manis, kau telah menggoda dan menjerumuskan seorang sahabatku ke lembah kehinaan. Jatuh cinta pada seorang budak, karena setiap saat kau menggodanya dan kata orang, kau sedang bunting. Kalian telah bersetubuh sebelum meminta izin dari Mula Jadi Na Bolon, dari para orang tua, dari kerajaan, dan datu bolon. tanganlah berkata aku membawa sial padamu. Nasibmu jauh lebih celaka dari nasib kita semua. Aku kalah berjudi, Ronggur jatuh cinta, kau penggoda keparat.”

“Siapa mengatakan itu padamu, Lolom?” tanya Ronggur keras

“Kau masih bertanya. Itulah berita yang tersiar luas di antara penduduk. Lain tidak. Aku juga mempercayainya. Aku juga tidak dapat mempercayai bila seseorang yang melayari sungai ini, masih mengatakan akan mencari tanah habungkasan. Bagiku itu omong kosong dan dusta paling besar. Karena itu, marilah sama-sama mati, kawan. Bawalah aku. Aku yang mau bunuh diri.”

Seketika Ronggur terdiam. Tidak menyahut. Kemudian Lolom melanjutkan, “Kenapa kau diam, Ronggur? Karena tepat apa yang kukatakan?”

Ronggur masih diam. Lolom terkekeh lupa akan masalahnya sendiri. Tio sudah hendak mendayung perahu, tapi dicegah Ronggur dengan membenamkan kemudi ke air. Akhirnya Ronggur mengatakan:

“Lolom, sayang sekali apa sebabnya kau mau ikut dengan kami. Kalau alasanmu berbeda dari alasan yang kau katakan

itu, betapa gembira hatiku menerima kehadiranmu. Betapa aku berterima kasih karena kau mau menemani aku seraya bersedia memikul segala akibatnya.”

Lolom masih tertawa di pinggir sungai. Kemudian Ronggur melanjutkan:

“Aku mau buktikan Lolom bahwa yang kuimpikan atau yang diwartakan mimpiku padaku, benar. Aku akan menemui tanah habungkasan. Sungai ini akan membawaku ke tanah landai yang subur. Sendirinya pula aku akan buktikan bahwa kepercayaan yang tertanam di hati kita selama ini mengenai sungai ini salah.”

“Jangan mencari dalih lagi,” kata Lolom menghentak. “Sudah kukatakan aku tidak dapat mempercayainya, walau kau kawanku. Kita akan sama-sama mati bila kita sama-sama melayari sungai ini. Yang kuminta padamu, bawalah aku biar ada temanku sama-sama mati. Aku takut mati sendiri. Itu saja soalnya.”

“Tapi, aku tidak mencari kematian dengan sengaja,” jawab Ronggur dengan suara kuat. “Perjalanan yang kumulai ini bertujuan baik. Hasilnya kelak akan kuserahkan pada semua orang, agar semua orang terlepas dari ancaman yang selalu mengikuti hidupnya, berperang karena setapak tanah, bersibunuhan karena setetes air parit. Karena itu dan karena aku tahu pepatah lama, seseorang penjudi yang kalah, dialah yang bernasib sial. Seseorang yang dengan sengaja mau bunuh diri padanya akan datang malapetaka. Karena aku tidak mau bunuh diri, karena aku tidak mau mencari malapetaka, tapi sebaliknya, sewajarnya pula aku menolak permohonanmu. Agar nasib sialmu, agar kutukan dewata padamu karena kau mau bunuh diri tidak turut menimpa kami. Kami masih tetap mengharapkan dan memohon agar dewata menunjuki jalan kami. Yang kelak hasilnya akan dikecap setiap orang. Tidak wajar mengorbankan nasib orang yang begitu banyak, masa datang orang banyak, karena kau seorang. Karena itu, carilah,

tempuhlah sendiri, dan datangilah sendiri ajal yang akan merenggutkanmu dari kehidupan ini!”

Sambil tertawa dan perutnya berguncang-guncang, Lolom mengatakan:

“Ronggur, ke mana perginya akal sehatmu yang selama ini kau punyai? Ya, memang kau masih menggunakan akal sehat itu. Yaitu, menerjunkan diri ke ujung dunia agar bangkai kalian tidak dapat dikuburkan. Agar kubur kalian tidak ada jadi pertinggal di dunia ini. Nah, aku pun bermaksud begitu. Penjudi yang kalah main, kalau mati tidak wajar menunjukkan kuburnya agar tidak ada lagi tempat bagi mengunjungnya, menagih hutang. Begitu pula agar tidak ada tempat bagi sanak saudara, bagi anak yang masih kecil, tempat mencampakkan segala penjelasan di atas pusaraku, karena aku segala penjudi yang kalah, membuat hidup mereka menjadi morat-marit.” Waktu Lolom berkata, perahu sudah mulai dikayuh

Ronggur dan Tio. Dan, waktu Lolom sadar bahwa kencang perahu tambah tak dapat diikutinya lagi, walau dia sudah berlari-lari di tepian, dengan pengap-pengap dia memohon:

“Ronggur, apa yang harus kuperbuat? Aku takut mati kalau aku sendiri yang menghadapinya. Dan, kalian tidak mau pula membawa aku serta, aku yang sudah rela mati. Hendak mereka jadikan aku budak. Ronggur, kau dengarkah aku?” ratapnya mulai meninggi, “sampai hatikah kau melihat aku manjadi budak?”

Ratapan si Lolom yang tambah meninggi, membuat Ronggur tertegun. Kembali dia berhenti mendayung. Menyuruh Tio berhenti pula mendayung. Dia mencampak pandang ke daratan. Matanya menyala merah. Tapi, dia berusaha agar marahnya tidak meledak. Lalu, dia berkata dengan kuat lagi tajam:

“Lolom, kau kawanku sejak kecil. Kau telah menghina aku. Tapi, bagiku itu tidak mengapa. Untuk ikut serta dalam perjalanan ini kau tidak boleh. Aku tidak bersedia mengorbankan perjalanan ini pada nasib sial yang akan menimpamu. Karena kau memang sengaja mencari kematian.”

“Lantas, apa yang harus kuperbuat?” tanya Lolom pula melanjut dan memotong cakap Ronggur.

“Kalau berjudi bagimu sangat baik. Agar kau tahu dan menyadari bahaya main judi. Pesanku padamu, janganlah dulu bunuh diri. Kelak aku akan membawa berita padamu bahwa tanah habungkasan telah kutemui. Kau boleh pindah ke sana dan kau kembali menjadi orang merdeka. Sekarang biarlah dulu kau rasakan betapa sakitnya menjadi budak orang lain. Agar kau tahu betapa nikmatnya mimpi akan kemerdekaan. Dan, agar kau tahu, betapa berharganya sebuah kemerdekaan, sehingga kau tidak mau lagi mempermainkannya di perjudian.”

“Begitu percaya kau Ronggur bahwa kau akan menemui tanah habungkasan.”

“Mimpiku telah mewartakan padaku. Dan perasaanku selama ini, yang turut merasakan pahitnya derita seorang budak, pahitnya perasaan diri sendiri justru harus membunuh orang lain, karena orang lain itu pun ingin hidup lalu berusaha menguasai setapak tanah, mempunyai setetes air parit telah memaksa aku harus mencapai tanah habungkasan. Untuk bisa terlepas dari belenggu itu, dari penjara perasaan yang meracuni diri sendiri, semua terletak pada hasil perjalanan ini.”

“Dan, bila kau pun nanti turut menanggungnya, merasakan pahitnya menjadi seorang budak, maka kau pun akan mendoakan agar perjalanan ini memperoleh hasil seperti yang diharapkan. Harapanmu terletak pada hasil perjalanan ini. Agar kau bisa kembali menjadi seorang yang merdeka.

Bertobatkah, karena doa seorang yang tobat, sangat didengarkan Mula Jadi Na Bolon.”

Sebelum Lolom sempat mengatakan sesuatu, Ronggur telah melanjutkan:

“Di samping itu, bila kau memang ingin berbakti, wartakanlah pada orang semargamu bahwa anggapan mereka akan perjalanan kami ini tidak benar sama sekali. Suruhlah mereka bersiap menerima sebuah warta kebenaran. Yang mungkin berbeda malah menantang kepercayaan yang mereka anut selama ini. Agar tidak terguncang perasaan mereka bila kelak menerima warta penemuanku atas tanah habungkasan.”

Ronggur dan Tio kembali mendayung. Dengan tercengang Lolom melepas mereka. Dan, sesudah dia sadar bahwa perahu Ronggur sudah menjauh dan melaju, kembali dia meratap dan menangis. Tapi, disela tangis itu dia mengharapkan, agar Ronggur dan Tio berhasil, sehingga dia bisa kembali menjadi orang merdeka. Harapan masih ada walau masih begitu samar, karenanya dia belum mau mati.

Perahu terus melancar. Bulan mulai memancar di langit mencurahkan sinar ke bumi. Menjadi suluh bagi Ronggur dan Tio mengikuti jalur sungai. Secara perlahan arus sungai mulai terasa. Tanah datar yang terdiri dari tanah batu di kiri-kanan sungai. Hanya satu-satu pepohonan tumbuh di tepian. Tidak berdaun rindang. Meranggas.

Setelah merasakan bahwa mereka sudah cukup jauh dari perkampungan, Ronggur mendaratkan perahu. Memilih tempat bermalam. Si belang disuruh berjaga. Perahu ditambatkan. Memang begitu selalu, selagi perahu dikayuh, si belang kebanyakan tiduran. Kalau malam, dia yang berjaga, di saat Ronggur dan Tio melepas lelah. Dan, bila pagi terbit lagi, mereka akan melanjutkan perjalanan itu.

Setiap hari arus sungai tambah terasa. Dan, tetap diperhatikan dan dipelajari Ronggur. Menurut keterangan bekas Datu Bolon, bila arus bertambah deras, dia harus bertambah hati-hati. Bila suara gemuruh air sungai berban-tingan ke dinding batu mulai kedengaran, dia harus mulai mencari mulut gua yang diceritakan Datu Bolon, yang menganga bergaya mau menelan.

Tekadnya harus bertambah bulat dan kukuh memasukinya. Atau, memulai jalan darat. Karena itu, tidak jarang Ronggur melengketkan telinga ke permukaan air, untuk merasakan getar air. Dan, setiap Ronggur mengerjakannya sambil memejamkan mata, setiap itu pula Tio memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Dan, hatinya bergoncang dalam dada. Bila Ronggur kembali mengangkat kepala, Tio akan menarik napas yang panjang, tapi diusahakan agar tidak kedengaran pada Ronggur.

Pada hari selanjutnya, mereka telah tiba ke batas yang boleh ditempuh manusia. Walau matahari tidak terik, dan masing-siang, namun Ronggur mendaratkan perahu ke pinggir sungai. Lalu menyuruh Tio menghidupkan api. Pertanda mereka akan bermalam di sana.

Dia pergi ke tempat ketinggian, mendaki sebuah pundak bukit, mengadakan peninjauan. Sejauh mata memandang yang dilihat hanya batu padas saja. Sedang sungai seolah terus menuju satu arah yang jauh, menerjang terus ke perut bukit. Menembus bukit. Itulah mula gua yang diceritakan bekas Datu Bolon. Arus sungai sudah cukup deras. Satu dua batu jangkar sudah dijatuhkan Ronggur, agar kelajuan perahu dapat dikendalikan.

Kembali dia ke tempat Tio, yang mencampakkan pandang padanya, pandang yang meminta penjelasan. Tapi, Ronggur tidak mengucapkan, sepatah kata. Kediam-diaman. Perasaan masing-masing saling mengajuk nasib yang menanti mereka, bila mereka mulai melewati batas itu besok pagi.

Ronggur dan Tio, pada pagi berikut melihat matahari muncul dari satu kekosongan, tepat dari belahan jalur sungai. Jadi tidak dari pundak Dolok Simanuk-manuk lagi, seperti yang mereka kenal. Namun mereka meneruskan perjalanan juga. Mulut tambah terkatup. Terus saja Ronggur mencampakkan pandang ke kejauhan. Tetap meneliti keadaan. Wajahnya bersikap menantang dan begitu tegang. Tangannya pasti menggenggam ulu kemudi.

Mereka tidak perlu lagi mengayuh. Arus sungai sudah dapat menghanyutkan perahu malah terlalu liar. Hingga batu jangkar sudah tiga biji dijatuhkan. Telapak tangan Tio yang sudah lecet dan keputihan, susut karana terus-terusan direndam air, sekarang bisa mengasoh. Tangannya mengelus leher si belang yang duduk di sampingnya. Dia mencari kekuatan hati dari elusan itu. Atau, melontarkan perasaan yang tertekan.

Tapi, hari itu mereka tidak menemui sesuatu. Hanya arus sungai yang bertambah kencang. Mereka masih selamat. Walau sudah jauh melewati batas yang boleh didatangi manusia.

Dikejauhan, bila diperhatikan benar, desiran arus sungai kedengaran bangkit, mendesis. Dari jalur sungai dikejauhan, bulan muncul. Menyinari kiri-kanan sungai yang tidak punya tanda kehidupan. Tandus dan kosong. Bila mereka mendarat ke pinggiran lagi, mereka temui sebuah lobang alam pada sisi sungai yang agak tinggi, terbuat dari batu alam. Lobang yang bersisi berlantai dan beratap batu. Dalam lobang, tidak seperti lobang alam yang pernah mereka temui, tidak ada sepenggal kayu atau bekas api. Tidak pernah didatangi manusia layaknya. Dingin. Buru-buru Tio menghidupkan api. Beberapa potong kayu diangkutnya dari perahu. Nyala api menari-nari di dinding batu, di atap batu.

Tengah malam. Awan hitam merayap dan menjalar, lalu menutupi wajah bulan. Keadaan sekitar menjadi pekat. Angin kencang datang dari hulu sungai. Membangkitkan riak yang

tidak dapat dikatakan kecil, cukup gelisah permukaan sungai. Satu-satu halilintar mengkilap membelah bumi. Diiringi suara guntur yang mau memecahkan segala, menyengkak. Si belang mendekat pada Tio. Memanaskan diri dekat api. Bersabung halilintar dan guruh, hujan turun seperti dicurahkan dari langit. Permukaan sungai naik. Riak sungai menjadi besar dan tambah gelisah. Seperti marah karena ada orang yang berani berlayar melewati batas yang sudah ditentukan.

Dalam saat begitu, perubahan alam begitu rupa menimbulkan prasangka dalam diri, yang menumbuhkan berbagai ragam anggapan, pertanda mula kecelakaan yang akan menimpa diri. Semuanya serba asing dan menakutkan, atau semua serba seperti menakut-nakuti. Ronggur pergi ke tepian sungai memperkokoh ikatan tambatan perahu. Lantas pergi ke atas gua alam itu, menatap ke sekitar. Kepekatan menyeluruh menelan segala. Kekelaman yang abadi. Baru beberapa saat yang lalu, keadaan udara cukup terang benderang oleh sinar bulan yang nyaman.

Begitu cepat suasana alam berubah. Beberapa saat dia berdiri di sana, memperhatikan sekitar dan mempelajari arah dan mata angin yang menggalau. Tio yang tepat berada di bawahnya, tidak mengetahui bahwa Ronggur tepat berada di atasnya. Dipisah langit-langit gua yang terbuat dari batu alam. Kulit tangannya masih tetap pucat dan menyusut.

Selagi Ronggur tidak ada dekatnya, dia merasa sepi atau merasa takut. Dia selalu begitu, walau dia tahu Ronggur tidak pergi jauh. Dia merasa lebih tenteram bila Ronggur di dekatnya, walau tidak mengatakan sesuatu, selain hai yang penting saja. Seperti: “Besok pagi kita melanjutkan perjalanan sebelum matahari terbit. Tidurlah, selimutidirimu dengan kulit binatang berbulu. Biar terasa panas.”

Mendengar cakap yang sepenggal itu saja, sudah melonggarkan perasaan tertekan. Dan, dia tidak akan menyahut, tapi melaksanakan yang dimaksudkan Ronggur.

Malam itu Ronggur agak lama baru kembali. Perasaan sak wasangka tambah mencekam diri, karena dia tahu bahwa mereka sudah berada di daerah yang berbahaya, daerah yang belum pernah dimasuki manusia. Tio bangkit dari duduknya. Dengan membungkuk dia menuju mulut gua. Hendak melihat ke mana Ronggur pergi atau di mana Ronggur berada. Tapi, ketika itu juga, tubuhnya tertumbuk ke tubuh Ronggur yang berdada telanjang. Tio terpekik karena terkejut. Lalu mundur. Ronggur tersenyum, lalu mengatakan, “Pergilah tidur. Tidak apa-apa. Besok, bila badai telah teduh, kita akan meneruskan perjalanan.”

Tio malu akan ketololan dan ketakutannya. Dia menyesali diri kenapa dia harus terpekik. Dari goleknya dia melihat Ronggur mengeringkan tubuh. Telapak tangan ditelempapkan ke tubuh, lalu dikaiskan. Butiran air berjatuhan. Kemudian Ronggur berjongkok dekat api. Mendekatkan telapak tangan ke jilaman api. Begitu dekat hingga Tio yang melihatnya merasa ngeri, kalau tangan itu akan hangus terbakar. Tidak disadarinya matanya dapat ditangkap pandangan Ronggur. Sambil memalingkan pandang Ronggur berkata, “Kau belum tidur juga? Belum mengantuk?”

Tio menyurukkan kepala ke bawah kulit binatang. Dalam hatinya dia merasa geli atas kelakuan Ronggur, Sedang Ronggur merasa geli pula atas kelakuan Tio yang menyurukkan kepala ke bawah selimut buru-buru, yang dengan sendirinya kakinya menjadi telanjang. Kulit binatang itu tidak cukup panjang untuk menyelimuti tubuhnya sekaligus. Ronggur tersenyum, seperti Tio sendiri, tersenyum di bawah selimut kulit berbulu.

Di luar hujan, angin, kilat, dan guruh masih bersabung. Si belang sekali ini sudah tertidur. Permukaan sungai menaik, riak sudah membesar sudah menyerupai ombak danau. Namun perasaan keadaan sekitar, dia tahu, air tidak mungkin menggenangi mulut gua di mana mereka berada. Dia

menggolekkan diri. Suara mendesis yang bersumber dari sungai itu sangat menyayat atau menyengat pendengaran. Suara yang timbul atau seolah datang dari dunia jauh, dunia lain. Ronggur menutup kedua belah kupingnya, memejamkan mata dengan paksa.

Cahaya putih sudah menerobos dari mulut lobang waktu Ronggur membuka mata kembali. Api sudah padam. Dalam gua menjadi dingin kembali, angin yang bersabung dan hujan yang menderu di luar belum henti.

Tapi, sudah mulai melemah. Desis lidah air masih terus mengganggu pendengaran. Waktu kepalanya dijulurkan dari mulut lobang untuk mengetahui keadaan cuaca, dia pun tahu, bahwa cuaca masih tetap seburuk kemaren. Walau matahari sudah terbit dan agak tinggi, namun bias cahayanya tidak dapat menembus awan yang bergumpal dengan sempurna.

Dengan malas Ronggur kembali masuk ke dalam lobang. Membaringkan diri. Tio belum bangun. Juga si belang. Malah menggulungkan tubuhnya sampai bengkok untuk melawan dingin. Didengarnya kelepak lemah di langit-langit gua. Tambah lama tambah banyak. Matanya diliarkan menatap langit-langit. Kelepak itu berasal dari lobang-lobang kecil yang banyak di langit-langit gua. Perlahan dia bangkit, takut kalau kelepak lemah itu henti. Dia mendekati salah satu lobang kecil.

Heh, pikirnya. Di sini banyak kampret. Enak dimakan. Lalu dia mengambil sebatang kayu. Dengan kayu itu, dicoloknya tiap lobang. Kampret berjatuhan. Patah sayap. Asik dia dengan pekerjaannya. Merasa bersyukur, justru karena dia tahu, daging kampret enak dimakan.

Di samping itu, lalu dia dapat memastikan bahwa sesuatu yang bernyawa masih ada di sana. Kampret itu ditumpukkan. Tidak tahu dia Tio sudah bangun. Terus menghidupkan api. Menjerangkan air yang ditampung dari pinggir sungai. Waktu nyala api meloncat-loncat dan menari-nari di dinding gua,

Ronggur berpaling. Tio tersenyum tapi tertunduk. Disambutnya juga senyum itu, lalu: “Di sini banyak kampret. Bakarlah. Enak juga dimakan.”

Kampret itu mereka panggang, langsung dengan bulunya. Cepat benar sudah masak. Sambil meneguk air simar palia yang pahit kental lagi panas, rasa dingin dan kantuk cepat menghilang, mulut mengunyah daging kampret yang manis. Bila angin dan hujan reda, mereka akan meneruskan perjalanan. Yang terasa tidak punya akhir dan ujung.

Ingatan Ronggur cepat meloncat. Cepat dia mengaju tanya: “Tio, di mana kau bikin pundi-pundi tempat bibit itu? Sudah berapa hari tidak kulihat.”

Tio memegang pinggangnya yang agak menonjol. Pundi¬pundi itu diikatkan di pinggangnya. Tio menjaga bibit itu dengan baik. Bibit pertama yang akan mereka tanam di tanah habungkasan. Atau, padi yang bisa mengurangi rasa laparnya bila mereka memang jatuh ke ujung dunia. Jajan arwahnya dalam perjalanan menghadap Mula Jadi Na Bolon.

“Kau menjaganya dengan baik kalau begitu.” kata Ronggur. Tio menundukkan kepala, Ronggur menyambung: “Teruskan jaga baik-baik. Bila angin dan hujan teduh, kita meneruskan perjalanan. Di tanah habungkasan yang kita tuju, bibit itu sangat penting dan perlu bagi kita. Jangan sia-siakan. Teruslah jaga baik-baik.”

Cakapnya punya kepastian seolah mereka akan menemui tanah habungkasan yang dimimpikan. Tio diam saja mendengarkan. Padanya, menemui tanah habungkasan atau menemui ajal, sekarang telah menjadi sama. Dia telah  menunjukkan kesetiaan sebagai budak pada tuannya. Atau, dia sebagai perempuan, telah menunjukkan kesetiaan hingga berani pergi ke mana saja, bersama seorang lelaki yang dipercayainya kejujuran dan keberaniannya. Dan, dia telah berani memilih perjalanan tanpa nasib, meninggalkan nasib yang malarig di belakang. Itu saja pun baginya cukuplah.

Karena itu dia hanya menelan air liur mendengar omongan Ronggur yang punya kepastian itu.

Cahaya yang menerobos ke dalam gua tambah terang juga, berangsur secara perlahan. Angin tambah melemah dan hujan sudah mulai teduh. Tapi, desis air yang menyayat pendengaran itu tetap juga. Ronggur dan Tio bersama si belang cepat-cepat meninggalkan gua, lalu memulai perjalanan lagi. Menyusuri sungai. Si belang menggoyangkan tubuh, membuang butir-butir air yang melengket pada bulunya. Dia melengking kecil, atau suara lengkingan itu tersekat dalam kerongkongan.

Perubahan pada kedua tepi sungai tambah nyata, tambah beda dengan tepian sungai yang sudah mereka lewati. Air sungai terus menerus mengarah ke satu bukit yang seolah tegak berdiri, terhunjam ke dada bumi, menghadang sungai. Tapi, air terus menerobos.

Tepian sungai menjadi tambah tinggi juga, terbuat dari batu alam yang hitam. Tambah lama tambah berbentuk semacam terowongan. Itulah gunung Batu yang diterobos air sungai yang arusnya bertambah deras. Air yang bertemperasan ke dinding tepian batu, berdesis dan muncrat ke sana kemari. Gelisah tidak pernah henti. Sudah lebih dari lima batu jangkar dijatuhkan Ronggur, namun kelajuan perahu terus bertambah kencang. Seperti tidak terkendalikan.

Pendengaran terus dipertajam Ronggur, namun suara gemuruh belum ada kedengaran. Karena, pikir Ronggur, bila air sungai jatuh ke akhir dunia, tentunya menimbulkan suara gemuruh yang dahsyat. Karena itulah, dia masih meneruskan penyusuran itu. Bahaya, atau ujung dunia, masih jauh. Atau, mula dari impiannya, tanah subur yang landai.

Batu jangkar sudah tujuh buah dijatuhkannya. Tali temalinya bertegangan diseret perahu. Dan, kelajuan perahu terus bertambah. Tapi, dapat dikuasai karena dibantu batu jangkar itu. Bila arus bertambah kencang, batu jangkar terus

dijatuhkan. Begitu seterusnya. Melanjutkan perlawanan terhadap arus sungai yang setiap saat bertambah kencang juga.

Pancing yang diumpankan Tio tidak pernah lagi mengenal Ikan bertambah jarang atau memang tidak ada sama sekali. Ronggur hanya tinggal menunggui kemudi. Kelokan sungai yaitu patah tambah sering mereka temui. Dan pada setiap akhir kelokan riam sungai teap ditemui. Pada tiap riam, air sungai gelisah warna putih melambung ke atas. Pada riam yang lebih curam, walau dinding perahu sudah tinggi dibuat, bisa juga temperasan masuk ke dalam perahu. Tio cepat menimbanya, membuangnya kembalinya ke sungai. Dan, terkadang wajah Ronggur sendiri disembur air, yang terus memegang kemudi, tanpa mau melepaskan seketika saja pun selagi perahu terus berlari dibawa arus.

Tepian sungai yang terbuat dari batu alam bertambah tinggi juga. Pada puncaknya yang masih bisa dijangkau mata tidak ada sesuatu yang tumbuh, selain dari tumbuhan kerdil yang tidak berdaun hijau. Begitu curam dinding batu itu. Ada kalanya sinar matahari seperti tidak sampai pada permukaan sungai karena disungkup kedua dinding batu yang bertemu puncaknya. Air sungai menjadi lebih dingin dan hitam. Sekitar menjadi taram-temaram.

Mereka tidak bisa lagi dengan leluasa melihat matahari. Membuat mereka terkadang tidak dapat mengetahui peredaran waktu dengan pasti. Dan, keadaan begitu bertambah jauh menyusuri sungai, bertambah memanjang. Namun mereka tetap berlayar. Sebuah kata pun tidak ada yang diucapkan. Mata terus-terusan ditancapkan ke depan.

Segala perasaan dikerahkan meraba yang menanti di depan. Air yang bertemperasan pada dinding batu tambah mendesis dan menyayat pendengaran. Tahulah Ronggur suara desisan air yang menyayat pendengaran itu, bermula dari air yang bertemperasan ke sisi sungai dan lebih hebat pada salah

satu tikungan. Celah dinding sungai di atas bertambah kecil juga. Seperti mereka berada dalam satu lembah yang sempit diapit kedua sisinya yang tinggi.

Arus sungai terus menerus bertambah kencang dan tambah menggila. Air membiru sudah seperti menghitam. Sudah lebih sepuluh batu jangkar yang mereka jatuhkan. Kelanjutan perahu terus juga menggila. Air seperti membulat. Dari warna biru permukaan yang sudah menghitam itu, tahulah Ronggur bahwa sungai amat dalam.

Suara air yang bertemperasan ke dinding batu, terus menerus mengisi pendengaran, terasa sangat membosankan. Terlebih pula tidak ada yang menyelingi. Begitu menyiksa terasa. Biarpun dia tahu bahwa sungai sangat dalam, tapi pada tikungan yang dilalui terkadang ada juga batu muncul ke permukaan air, menghadang. Mereka harus hati-hati melewatinya. Bila terdampar ke sana, perahu akan pecah remuk, dan nasib sudah teraba bentuknya. Air yang bertumbukan dengan batu mencuat itu menjadi gelisah dan liar. Bertemperasan. Tidak sedikit terlempar ke dalam perahu. Perut perahu menjadi tergenang air. Tio harus cepat menimbanya. Peralatan mereka menjadi basah. Dada dipukul detak hati yang tambah mengencang. Tapi, wajah Ronggur terus menantang ke depan. Meneliti dan menduga sesuatu yang sedang menanti.

Mereka tidak ada lagi menemui gua alam. Begitu pula tepian sungai yang landai, jadi, kalau cahaya yang menerobos dari celah dinding sungai di atas itu melemah, mereka hanya bisa menambatkan perahu ke salah satu tungkul batu yang mencuat. Mereka lalu tidur dalam perahu tanpa unggun api. Selain kayu bakar tidak ada, menghidupkan api dalam perahu berarti bunuh diri. Karena itu, mereka harus menahan dingin malam yang menyiksa.

Tio di hulu perahu Ronggur di buritan, di tengah si belang. Dalam saat begitu, pandang mereka sering ketemu. Cepat

dipalingkan. Tidak mereguk air panas lagi di pagi hari. Hanya air sungai yang dingin diteguk sehabis cuci muka. Tio menyelimuti diri dan juga si belang, yang selalu mendekat padanya dengan lengkingnya yang tersekat dalam kerongkongan.

Dan, mereka akan meneruskan perjalanan lagi, menempuh jalur sungai yang tidak dapat teraba, ke mana diri akan dibawanya, bila utusan cahaya kembali menerobos celah dinding sungai di atas itu.

Bila temperasan air yang melemparkan air ke perut perahu tidak ada, yang berarti pekerjaan Tio tidak ada, dia selalu melemparkan pandang ke depan dan menggunakan segala perasaan. Begitu pula Ronggur yang berada di buritan perahu. Tikungan bertambah sering ditemui. Arus sungai tambah menggila. Dinding sungai bertambah tinggi dan tandus. Suasana tambah menekan. Jiwa tambah terasa dihantam habis-habisan.

Tio tidak terus-terusan atau tidak tekun lagi menatap ke depan saja. Sudah sering dia berpaling ke belakang menatapi, Ronggur. Tapi, Ronggur seperti tidak melihatnya. Mata Ronggur terus memandang ke depan. Walau terkadang hanya tertumpu ke dinding batu pertanda sebuah tikungan. Terkadang Tio berdiri meregangkan tubuh yang kaku, tapi cepat saja Ronggur menyuruhnya agar duduk kembali. Agar tatapannya tidak terhalang. Atau, agar kepala Tio tidak tersangkut pada salah satu lingkungan dinding sungai yang terkadang begitu rendah.

Mulanya sangat lemah sekali. Tambah lama tambah nyata. Wajah Ronggur agak pucat juga dibuatnya. Bibirnya gemetaran. Tio tertunduk. Arus sungai menggila Batu jangkar sudah lebih duapuluh biji dijatuhkan. Namun perahu seperti diseret dan dilarikan setan saja kencang nya. Suara yang lemah itu, yang bangkit di depan itu, tambah nyala: mengguruh. Mengancam nadanya, mengancam siapa saja

yang berani mendekat. Namun Ronggur belum mendaratkan perahu. Dia masih meneruskan pelayaran.

Urat saraf Tio seperti lumpuh karena terus-terusan ditekan suasana ketegangan. Walau air tidak tertumpuk pada salah satu batu yang mencuat di permukaan sungai, namun riak air sudah seperti gelombang. Pecah. Memercik ke sana ke mari. Banyak terlempar ke dalam perahu. Tapi, Tio tidak bisa lagi menimbanya. Perahu terangguk-angguk dan tergoncang.

Tiba-tiba saja biasan cahaya mencurah ruah, celah dinding melebar di atas. Tapi, tingginya alangkah jauh lagi curam. Seperti tidak terdaki layaknya. Ronggur menatap ke depan dan pendengarannya terus dipertajam. Suara gemuruh di depan tambah jelas. Tiba-tiba saja Tio menghantamkan tangan ke haluan perahu, sambil berteriak:

“Ronggur, mendaratlah. Apakah kau mau bunuh diri?”

Berbaur akhirnya dengan suara gemuruh di depan dan desis air dan suara riak sungai yang menari gila. Namun Ronggur tidak memperdulikan atau tidak mendengarkan. Matanya sebentar melihat ke kiri dan ke kanan, cepat bertukar tempat. Lalu terus ke depan. Begitu liar. Suara gemuruh itu seperti suara dari sesuatu benda yang jatuh ke satu tempat yang amat dalam.

“Ronggur, kau tidak mendengarkan aku? Mendaratlah ke tepi. Jangan teruskan lagi mengikuti sungai. Tidak dengar suara gemuruh yang mengancam itu?”

Masih tidak diperdulikannya. Tio terus menjerit, melengking. Dalam jeritannya sering dia memanggil nama almarhum ayah bundanya. Sering dia menyebut nama dewata, memohonkan ampun atas keangkuhan mereka berdua. Yang telah berani menantang ketentuan dewata. Dengan tidak berapa dikuasaiya pula, meledak teriakan panjang dari mulutnya:

“Ronggur, dengarlah aku. Aku cinta padamu . . . .” lalu tangisnya berkepanjangan, “Ronggur, jagalah dirimu, diri kita berdua . . . .”

Perahu tambah dalam dan kuat anggukannya. Dan, Ronggur mengangkat kepala mendengar jeritan Tio itu, yang meledak dari dasar hatinya.

Air sungai tambah membulat dan berlari kencang, dulu mendahului riaknya. Tiba-tiba saja tangan Ronggur mengayunkan tali ke dinding sebelah kanan. Talinya tetap sangkut pada sebuah gundukan batu yang mencuat agak panjang dan besar, kokoh tertanam. Dapat dipercaya. Dinding sungai agak landai tapi tetap mendaki ke atas.

Sewaktu Tio merasakan bahwa perahu mereka tergoncang kuat karena ada yang menarik dan ada yang menahan, dia mengangkat kepala. Kedua pelupuk matanya, pipinya basah kuyup oleh air mata. Perahu sudah tertambat dan sudah terhenti walau arus sungai berusaha melarikannya. Dia menatapi Ronggur dengan biji mata yang tergenang air mata, isaknya belum henti.

“Hapuslah mata dan pipimu,” kata Ronggur. “Kering¬kanlah. Aku tidak sanggup melihat mata yang digenangi air mata yang bening. Kita masih harus menempuh perjalanan yang jauh. Kau lihat dinding sebelah kanan itu? Kita harus mendakinya ke atas. Supaya kita dapat tahu yang ada di depan. Kita harus meninjau dari sana. Tapi, sebelum itu, kuatkan dulu hatimu bahwa kau sanggup mendakinya. Marilah dulu makan daging kering. Biar kita punya tenaga. Kemudian bambu itu isilah dengan air. kita memerlukan air barangkali di atas sana. Mungkin tidak ada air di sana.”

Tio mengerjakan semua yang dimaksud Ronggur. Sedang Ronggur tambah memperkuat tambatan mengikat pinggangnya dengan tali, sedang ujung satu lagi dibebaskan, dan sebuah gulungan lagi disandang, dia mulai mendaki. Tapi, cepat dihentikan Tio dengan teguran, “Si belang bagaimana?”

“Biarlah tinggal dulu di perahu. Kita perlu mengadakan peninjauan. Atau, kita memang sudah harus mendarat di sini. Kau perlu turut ke atas agar ada nanti yang menarik peralatan-peralatan kecil ke atas. Aku akan turun lagi. Mengikat peralatan itu dan membawa si belang ke atas.”

Di pinggangnya diselipkan penggada dan kampak digenggam. Tio membelitkan bungkusan yang berisikan bekal. Lebih dulu dielusnya leher si belang, baru dia mendarat. Tajam lidah batu alam seperti menusuk telapak kakinya, yang sudah beberapa hari basah saja. Si belang menggonggong kecil, lehernya digoyang-goyangkan.

Ronggur maju menanjak sambil terus membuat semacam anak tangga pada batu padas. Tidak vertikal. Agak mencong jalannya tapi terus mendaki setapak demi setapak. Tio memegang ujung tali satu lagi yang ujungnya dikaitkan pada pinggang Ronggur sebagai pegangan. Supaya ada tempatnya bergantung kalau dia tergelincir. Atau, tali itu bisa ditahannya kalau Ronggur sendiri yang tergelincir. Tangga demi tangga dibuat Ronggur dan didaki, yang terus diikuti Tio. Suara yang menakutkan dan mengancam itu terus bergema. Terkadang Tio menatap ke bawah melihat perahu mereka yang terangguk-angguk, di perutnya si belang menatap ke arah mereka sambil menjulur lidah.

Kemajuan pendakian itu lambat sekali. Namun tetap pasti. Mereka sudah di pertengahan pendakian. Dari sana sudah dapat kembali mereka tatap keluasan langit, yang untuk beberapa hari lamanya tidak mereka lihat. Tak ubahnya mereka seperti baru keluar dari satu lobang alam yang kelam lagi sunyi, yang tidak memberi kesempatan pada mereka untuk menatap keluasan langit. Walau sinar matahari melemah, namun merasa lemah juga mata menatap yang sudah sering ditatap tapi yang buat beberapa hari tidak ditatap. Tapi, keadaan tetap sunyi. Tidak ada pertanda kehidupan.

 

Yang ada hanya gemuruh yang menakutkan, yang mengancam, tidak memberi kegembiraan. Dan arah matahari dan lemahnya sinar, Ronggur tahu, hari sudah sore. Sebelum gelap mereka sudah harus sampai di puncak. Karena itu, dia sering membesarkan hati Tio, agar bisa lebih mendaki tanjakan.

“Sebentar lagi, sebentar lagi,” selalu katanya, “kita sudah sampai ke atas. Tidak jauh lagi. Teruslah mendaki. Tapi, hati-hati, agak licin di sini.”

Mereka harus bercakap kuat-kuat. Tidak bisa perlahan¬lahan, agar dapat ditangkap pendengaran. Keringat meleleh dari tubuh masing-masing. Seperti memancur. Sudah cukup haus Tio, namun Ronggur melarang meminum air sekali banyak-banyak.

Betapa bersukur hati Ronggur, waktu tangannya sudah dapat menggapai puncak yang dituju. Tapi, perasaan lega itu tidak lama mengisi ruang dada.

Setiba di puncak, tahulah mereka yang ditemui, hanya sejalur batu tandus dan di sana-sini berlidah tajam. Di kanan, lembah putih, seperti diselaputi sesuatu dan tidak punya dasar tampaknya. Di sebelah kiri, lembah yang dasarnya sungai yang menggila arusnya. Ke arah depan dan belakang, jaluran batu padas yang lebarnya hanyalah barang sedepa. Tidak lebih.

Itu pun tidak jauh-jauh ditatap, karena ada sesuatu yng menyungkap, putih kental seperti kabut. Atau, awan rendah. Tidak bertepi dan tidak bermula. Angin meniup. Penemuan ini membuat hati terpukau. Di depan sekali suara mengguruh itu menanti.

Matahari memancarkan sinar kemerahan yang lemah, tidak mampu menembus keputihan yang mengental.

Tidak ada satu suara pertanda kehidupan, tapi suara yang mengancam kehidupan dengan liar mengguruh di depan.

Berlagak mau melumpuhkan dan mematikan tekad hati yang sepadu-padunya.

Tio lantas saja memeluk tubuh Ronggur dengan gemetar. Gigi gemelatukan. Tubuh menggigil. Ronggur membiarkan. Karena dia pun seperti kehilangan semangat. Tekad hati yang padu menjadi cair. Satu sama lain tidak bisa mengeluarkan pendapat. Bisu. Senja tambah samar, cepat kelam. Tidak berapa lama tari warnanya menghias langit.

“Kita akan mati lemas di sini,” kata Tio pelan sekali.

Ronggur menoleh kepadanya seenak tanpa mengatakan sesuatu. Pada sinar matanya, tidak ada lagi sinar cahaya percaya diri. Mati. Namun tanpa bicara, dia membimbing tangan Tio, bergerak ke depan perlahan-lahan. Geraknya seperti gerakan yang bermula dari kedalaman. Melangkah begitu saja, sempoyongan, tanpa percaya diri. Melangkah berserah diri.

Sesekali mereka hendak tergelincir jatuh ke bawah, ke jurang tanpa dasar. Karena, jalannya begitu licin. Ronggur berjalan di depan. Tio di belakang, menggenggam tali lebih kuat dan begitu dekat di belakang Ronggur. Dia gamang. Lidah batu yang tajam menusuk telapak kaki. Terasa ngilu. Mereka terus melangkah.

Sesayup sampai, salak si belang dari dasar sebelah kiri kedengaran. Seperti mengantar mereka ke tempat tujuan akhir. Dapat juga mereka temui tempat yang agak luas sedikit, sekira tiga empat depa luas jaluran di sana. Mereka memutuskan untuk bermalam di sana. Tidak ada yang dapat dibakar. Sekeliling begitu dingin membeku. Tio tidak berani jauh-jauh dari Ronggur.

Sebelah atas mereka, awan rendah menyungkap. Mereka rasakan langit begitu dekat. Tidak tampak bintang atau bulan. Awan rendah menyungkap semua atau memang langit begitu rendah. Tambah lama menjadi hitam. Kental. Berlagak mau

menyelimuti segala. Sampai payah bernapas. Ronggur tidak dapat tidur walau tubuh cukup capek dan payah. Semalaman matanya terus terbuka.

Pada satu saat angin bertiup dari arah depan. Butiran air halus memerciki tubuh mereka, dipikirnya hujan turun. Suara gemuruh, desis air sungai yang bertemperasan ke dinding sungai, lagu tunggal yang abadi, tapi menakutkan. Melumpuhkan perasaan yang ada dalam diri. Lagu kematian yang hendak mengantarkan para arwah ke tempat abadi, dunia jauh lagi asing.

“Apakah hujan?” tanya Tio.

“Aku tidak tahu. Tapi, kita sudah basah. Air begitu tipis. Tidak pernah hujan begini tipis.”

Kembali mereka diam. Akhirnya dapat diketahui Ronggur, Tio jatuh tertidur sambil menggulungkan atau melipatkan kakinya dekat ke dadanya, melingkar.

Ronggur terus membuka mata. Berusaha mengikuti perobahan alam kalau memang perobahan itu ada. Lama-lama hitam pekat itu beralih pula. Seperti ada utasan cahaya putih, tapi begitu lemah. Sekitar, sekira empat lima depa, dapat kembali ditatap. Tapi, sampai di situ saja. Lagi-lagi Tio mengaju tanya, “Apakah sudah pagi?”

“Aku tidak tahu, Tio. Tapi, kepekatan yang menghitam itu sudah kembali agak memutih. Namun mata hanya dapat menembus sekira empat lima depa saja.”

“Barangkali kita sudah terjebak,” kata Tio pula.

“janganlah berkata begitu. Tapi, tetaplah waspada,” katanya menasihati walau diri sendiri bimbang. Ada juga dirasakannya kebenaranyang diucapkan Tio itu.

“Ke mana lagi kita harus pergi?” tanya Tio pula.

“Tabahlah,” sahut Ronggur. “Sekalipun kita harus kembali ke tempat asal, ke tempat Mula jadi Na Bolon, tapi marilah dengan tabah mendekatinya.”

Tio terdiam. Sedang Ronggur setelah dicekam habis¬habisan oleh perasaan takut, akhirnya muncul kembali, secara berangsur, kepercayaan akan diri sendiri. Kemurnian cita yang digenggam kembali memberi suluh pada keyakinan. Bilapun Mula Jadi Na Bolon murka, tapi dengan alasan kenapa dia harus mengarungi Sungai Titian Dewata, tentu dapat melembutkan hati Mula Jadi Na Bolon yang pengasih penyayang itu, pikir Ronggur.

“Kalau kita surut, tentu tidak bisa melawan arus yang menggila,” kata Tio pula.

“Ya, aku tahu,” sahut Ronggur, “kita tidak bisa lagi menempuh jalan sungai.”

“Kita terjebak di sini.”

“Tidak terjebak. Tapi, kita telah melaksanakan tugas kehidupan. Marilah tabah menerima upahnya, ganjarannya,” bujuk Ronggur.

Tio terdiam. Beberapa saat kembali hening. Ronggur mencampak pandang ke sebelah kiri, mencari tangga yang dibuatnya semalam. Kembali dia teringat pada si belang, pada perahu, pada peralatan yang masih tinggal di sana. Lalu diputuskan, dia harus menjemput si belang dan peralatan serta perahu itu kembali.

Kalaupun ajal tiba, dia mau menghembuskan napas dengan tenang di perut perahu itu. Perahu itu seperti rumah dan tempatnya terakhir. Dengan perahu itu dia akan mendatangi tempat Mula Jadi Na Bolon. Semua peralatan itu akan menjadi saksi di depan Mula Jadi Na Bolon, tentang tujuan citanya.

Dia mulai menuruni anak tangga yang dibuatnya semalam. Tio memegang ujung tali di atas. Bila perintah datang, melalui

goyangan tali yang digoncang Ronggur, Tio mengulurkan tali lebih panjang. Sesampai di bawah, Ronggur mengikat peralatan kecil. Dengan berteriak sekuatnya, sekerasnya, disuruhnya agar Tio menarik.

Tio menarik. Kemudian menjatuhkan tali lagi ke bawah. Ronggur mengikat perahu baik-baik. Mengisi air pada bambu tempat air yang dilobangi ruasnya, tapi ruas sebelah bawah tidak dilobangi. Air bisa tersimpan baik di sana. Kemudian dituntunnya si belang. Kembali dia mendekat ke atas. Meraba¬raba. Terkadang harus digendongnya si belang. Si belang seperti tahu marabahaya yang sedang mereka hadapi. Dia menuruti segala petunjuk Ronggur dengan baik.

Setiba dipuncak, bersama dengan Tio, ditarik mereka perahu ke atas. Perlahan-lahan agar tidak terbanting ke tebing bukit batu, yang bisa membuat perahu pecah. Mereka masukkan semua barang bawaan ke perut perahu. Tapi, kampak terus digenggam, sedang di pinggang menyelip panggada. Dia tambah yakin lagi pada diri sendiri. Perjalanan itu tidak boleh surut dan tidak boleh henti. Harus terus maju. Sampai tiba ke tempat yang menentukan.

Diputuskan akan terus mengikuti jaluran batu yang tidak berapa luas itu ke depan. Ronggur di depan. Tio di belakang. Mereka pikul perahu, jalan sempit terkadang, luas terkadang. Keadaan masih tetap sama. Hanya beberapa depa dapat ditembus pandang. Kabut tebal atau awan rendah menyungkup segala dengan putihnya yang padu.

Tambah maju ke depan, suara gemuruh itu bertambah jelas. Dan, alas yang mereka pijak seperti mempunyai getaran kecil. Digoncang sesuatg tenaga yang maha kuat dan dahsyat. Membuat hati kembali tertekan. Namun dengan tabah serta keberanian yang bangkit perlahan-lahan, Ronggur terus memelopori perjalanan rombongan yang kecil itu. Menuju tempat yang menentukan, mimpinya benar atau memang mimpi itu godaan setan jahat. Si belang mengikuti langkah

Ronggur, dekat sekali di belakangnya. Si belang tidak berani mendahului ke depan. Tidak menggonggong. Hanya melengking kecil.

Cahaya putih yang lemah itu menjadi tambah lemah lagi. Keadaan sekitar kembali menghitam. Ruang hampa. Kembali mereka mencari tempat istirahat. Air tipis halus itu, sudah terus-terusan menghambur dari asalnya yang tidak tahu di mana.

Ronggur mengosongkan peralatan mereka dari perut perahu. Kemudian, perahu dibalikkan. Disuruhnya Tio dan si belang berondok ke sana, agar tidak terus-menerus diperciki air tipis. Dia sendiri tetap di luar. Tidak hentinya melihat sekitar, walau yang dapat ditembus pandang hanya beberapa depa saja.

Dingin mencekam. Ronggur tidak tahu, Tio menggigil juga dalam sungkupan perahu, kedinginan. Wajah dan bibirnya menjadi pucat. Tapi, Tio tidak mau mengatakan. Tidak ada sumber panas yang bisa menyamankan sedikit.

Kembali warna putih yang lemah itu mendatang dari segala arah. Tapi, begitu lemah. Kembali mereka melanjutkan perjalanan, mengikuti jaluran setapak itu. Keadaan cuaca masih tetap seperti semula. Terkadang jaluran itu mendaki, tapi terkadang menurun, untuk mendatar lagi. Jalanan bergelombang. Terkadang melurus, tapi tidak jarang memenggok ke kiri dan ke kanan.

Mereka mengikutinya dengan tabah. Tapi, harus lebih hati-hati, jalanan bertambah licin. Air tipis tambah tetap berhamburan dari sumbernya. Suara gemuruh di depan yang membosankan itu, tetap mengguruh. Si belang tidak berani lagi berjalan sendiri. Dia harus dimasukkan ke perut perahu, didukung. Beban bertambah berat. Di saat tubuh mulai melesu. Di saat kepercayaan terakhir mulai merenggang dari tubuh Tio.

Sambil mengisak, Tio meminta, agar mereka menghentikan perjalanan. Dia mendudukkan diri begitu saja. Tempat itu agak luas sedikit. Sehingga mereka bisa agak leluasa sedikit bergerak. Namun harus tetap hati-hati. Karena basah, licin.

“Ada apa Tio?” tanya Ronggur sambil mendekat. Tio menundukkan kepala. Mengisak terus. Wajahnya memucat. Bibirnya gemetar. Dingin. Sambil duduk di depan Tio, Ronggur mencari dagunya. Diangkatnya perlahan dengan telapak tangan yang menggetar juga karena basah. Ditatapnya wajah, bibir, dan mata Tio yang memucat sayu

“Kau capek Tio?” Belum ada sahutan.

“Katakanlah.”

“Katakanlah.”

Tapi, begitu bening dan terasa agung. Ronggur tidak dapat memancarkan sinar merah lagi di matanya.

“Marilah menanti hari esok di sini, bila hari esok masih ada. Marilah menanti apa saja di sini, apa saja,” Tio lalu menundukkan kepala. Melepaskan dagunya dari telapak tangan Ronggur. Air berhamburan terus, membasahi tubuh mereka. Tio mulai menggigil. Si belang juga. Terus membulatkan tubuh dalam perahu, tidak berani turun.

“Katakanlah, apa yang harus kita kerjakan lagi Tio,” kata Ronggur melemah. “Aku telah membawamu ke tempat yang hampa ini. Apakah kita harus pulang ke kampung halaman, yang telah melemparkan aku, yang tidak menerima aku lagi menjadi warganya? Nasib telah tertentu di sana, nasib yang malang menanti diri. Katakanlah Tio, akuakan mengikutinya.”

“Marilah berhenti di sini,” sahut Tio akhirnya. “Kupikir tidak ada lagi gunanya kita meneruskan perjalanan ini. Marilah pasrah di sini. Berserah dengan hati bulat ke tangan Mula Jadi Na Bolon. Bawalah daku padanya sebagai sembahanmu, agar

Mula Jadi Na Bolon tidak marah padamu.” Suaranya begitu lemah.

Tio menjatuhkan diri ke ujung kaki Ronggur. Sambil mengisak dia mengatakan, “Janganlah kembali ke sana. Walau apa yang telah kita temui. Marilah berpasrah diri di depan Mula Jadi Na Bolon. Barangkali, ya barangkali, aku yang membawa kenahasan ini padamu. Maafkanlah aku, Ronggur.”

Perlahan, kembali Ronggur mengangkat dagu Tio. Mendudukkannya. Ditatapnya lama biji mata yang sayu itu. Jari jemarinya meraba pergelangan Tio. Lalu dengan hentakan kasar, direnggutkannya gelang yang dipakai Tio, pertanda dia seorang budak belian. Gelang itu dicampakkan Ronggur sekuat tenaga. Jauh-jauh. Tio sudah merdeka kembali. Berhadapan dengan kenyataan ini hatinya jadi bersorak gembira. Air mata yang menggenangi pelupuk matanya tidak bersumber dari kepiluan dan ketakutan lagi. Tapi, bermula dari perasaan gembira.

“Kau merdekakan aku, Ronggur? Sungguh?”

“Ya, seperti kau lihat. Tidak ada sembahan kubawa ke hadapan Mula jadi Na Bolon, selain diri sendiri.”

Tio terdiam. Lalu dilanjutkan Ronggur, “Kalaupun kita mati, mati bersama, sebagai orang yang sama hak, sama-sama orang merdeka.”

Arwah nenek moyang Tio akan menerima arwahnya di tempat yang baik. Matinya, mati seorang manusia yang merdeka, terhormat. Dia tambah mendekatkan bibirnya ke bibir Ronggur. Sesuatu benda hangat tapi lembut menyentuh bibirnya, melengket di sana beberapa saat. Lupa kepahitan, lupa siksaan, lupa hal yang menghadang di depan. Terayun dan dibuai sebuah lagu yang selama ini terpendam di dasarnya. Sekarang berlomba bermunculan, membuai mereka berdua.

“Ronggur,” kata Tio dengan tegas, “marilah melanjutkan perjalanan. Kita tidak boleh pulang. Kita harus maju. Sampai tahu kepastian yang akan kita temui.”

Ronggur tersenyum. Lalu, “Kita harus istirahat dulu di sini. Sudah terlalu kelam untuk melanjutkan perjalanan. Lagi pula kita telah menemui yang kita cari di sini. Boleh jadi, di sini akhirnya.”

“Tidak, tidak ada akhir,” kata Tio tegas, “semuanya, permulaan yang tidak punya akhir. Hanya permulaan.”

Ronggur tersenyum. Tio tersenyum. Telapak tangan Tio masih terus mengelus rambut Ronggur yang basah, dari mulutnya keluar kata, “Aku cinta padamu . . ..”

“Tio,” bisik Ronggur, “maukah kau, bila kita mati, aku akan mengatakan pada Mula Jadi Na Bolon bahwa arwahmu bukanlah sembahanku. Tapi, istriku. Istri yang paling setia. Yang tabah bersama suami mengarungi kehidupan, karena ada cita tergenggam di tangan dan di hati. Berani mengarungi segala kemungkinan, karena mau turut mempertaruhkan keyakinan suaminya.”

Tio menangkap leher Ronggur, lalu menciumi bibir Ronggur lagi dengan bertubi-tubi.

“Marilah bersujud ke hadapan Mula Jadi Na Bolon. Memohon ampun atas keangkuhanku, yang telah

 

Asal mula dari segala kehidupan Padanya kembali karena dia yang punya Terimalah kedatangan kami Hambamu

Karena keangkuhan yang berbenah dalam diri Kami telah tiba di sini Melanggar peraturanmu!

Ronggur menggenggam tangan Tio, lalu dilanjutkan:

Karena darimu mula cinta Napasmu sangkala cinta Satukanlah aku dan Tio Suami isteri yang dihidupi api cinta Tebarkanlah api cinta Tiuplah api cinta Membakar dada kami Dari saat ke saat tanpa akhir!

Kembali mereka berdua berdekapan, seperti tidak mau dipisah lagi, baik ruang, baik waktu. Dan, air tipis itu, terus¬terusan berhamburan. Sekitar menjadi kelam kembali. Bersama mereka menyuruk ke perut perahu yang dibalikkan.

Karena cinta telah punya laut dan pelabuhan, batas ruang dan waktu tidak berarti lagi. Si belang keluar dari sungkupan perahu. Berjaga di luar perahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s