Bagian 4

Hari itu juga, sebelum Ronggur sempat mengasuh, utusan kerajaan datang, menyuruh Ronggur menghadap ke Sopo Bolon. Ibunya melepaskan dengan tatapan pilu, begitu pula Tio. Ronggur melangkah dengan dada diangkat. Orang sudah banyak memanen padi di sawah. Dia lalu di sana. Menyapa di sana-sini, dan memperoleh jawaban sekedarnya saja. Tidak seorang pun menanya tentang perahunya dan kapan dia berangkat. Tampaknya setiap orang enggan bersapaan dengan Ronggur.

Tapi, semua itu tidak berapa diacuhkan Ronggur, atau memang dia belum tahu sebabnya.

Selagi Ronggur dan Tio membuat perahu di hutan, orang sudah saling berbisik membicarakan maksud Ronggur hendak melayari Sungai Titian Dewata mencapai muara. Pada umumnya orang tak dapat menyetujui maksud itu. Tapi, sebagian besar, terutama rakyat yang langsung berada di bawah lindungannya sebagai Raja Ni Huta, tidak ada yang berani terang-terangan mengeluarkan pendapat. Sebagian lagi, ada yang mengejek, walaupun tidak secara terang-terangan, masih sembunyi.

Satu sama lain saling mengeluarkan pendapat bahwa Sungai Titian Dewata, menuju matahari terbit. Tempat para dewata dan arwah menghadap Mula jadi Na Bolon. Bila seseorang berani melewati batas yang sudah ditentukan sampai di mana boleh seseorang berlayar, itu berarti sudah melanggar ketentuan dewata. Dewata akan murka dan menghancurkan orang yang berani melanggar peraturannya. Matahari, tempat Mula jadi Na Bolon mengedari dunia setiap saat, untuk melihat manusia yang mengerjakan hal yang baik, begitu pula dari matahari Mula jadi Na Bolon, melihat orang jahat membuat kejahatan untuk diganjar kelak di hidup lain.

Dan, karena maksud perjalanan itu menantang kepercayaan rakyat yang sudah tertanam turun-temurun, sebagian merasa kasihan melihat Ronggur, tapi sebagian lagi merasa terhina. Karena ada seorang manusia yang hendak meruntuhkan atau sama sekali tidak mengindahkan kepercayaan yang mereka anut. Kasihan dan ejek.

Di Sopo Bolon, Ronggur telah dinantikan kerajaan yang lengkap. Segala Raja Ni Huta dari tiap kampung yang didiami marga mereka telah ada di sana. Dia terus tahu, sidang kerajaan akan diadakan hari itu. Raja Panggonggom sudah duduk di tempat dengan wajah murung, pertanda warta yang kurang baik. Di kiri kanan Raja panggonggom, duduk berjajar Raja Partahi, Raja Namora, Raja Nabegu. Di belakang mereka, duduk para Raja Ni Huta. Hanya Raja Ni Huta dari induk kampung marga yang duduk sejajar dengan Raja Panggonggom. Pada tempat tertentu, hadir pula Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Diapit oleh para tua kampung, yang selalu dipanggil menghadiri sidang kerajaan, bila yang hendak dibahas hal penting.

Ronggur duduk di barisan Raja Ni Huta. Orang pada diam sewaktu Ronggur memasuki ruang Sopo Bolon. Semua mata diarahkan padanya. Mulut tidak mengucapkan sepatah kata. Memperoleh lalapan dari tiap mata itu, membuat Ronggur

agak kaku juga sikapnya. Tapi, sewaktu matanya tertumpu pada orang tua yang duduk di sudut yang agak remang itu, yaitu bekas Datu Gelar Guru Marsait Lipan, perasaan kaku itu berangsur menghilang dari tubuhnya. Orang tua itu menyambutnya dengan senyum yang dibalasnya selintasan. Untuk pertama kalinya orang tua itu menghadiri sidang kerajaan dengan terang-terangan. Dari suasana dalam Sopo Bolon, tahulah Ronggur bahwa sidang akan membahas sesuatu hal yang sangat penting tampaknya.

Ruangan tetap hening. Sewaktu Ronggur mengalih pandang tahulah dia bahwa Raja Panggonggom terus menerus menancapkan pandang ke arahnya. Memperhatikan gerak-geriknya. Lalu Raja Panggonggom mengangkat tangan yang sebelah kanan, menjemput tongkat panaluan dari tempatnya. Tongkat itu digenggam, dito-pangkan agar berdiri tegak lurus. Pertanda pertemuan dimulai.

“Semua kerajaan, pagar kesatuan marga, orang tua yang bijaksana, yang bertanggung jawab akan kelanjutan hidup marga dan keturunan kita kelak, kami undang hari ini menghadiri pertemuan kerajaan di Sopo Bolon ini. Karena, ada sesuatu hal yang sangat penting kita bicarakan dan bahas bersama.”

Hadirin pada diam semua. Menyimak yang diucapkan Raja Panggonggom. Terutama Ronggur.

“Hal itu,” lanjut Raja Panggonggom, “tampaknya mengancam, dan bermaksud merubuhkan sesuatu yang kita percayai. Yang bisa menimbulkan kegaduhan yang tidak kecil di kalangan rakyat. Malah menurut sebagian orang, akan mendatangkan mara bahaya pada seluruh rakyat dan kerajaan.”

Melalui ucapan Raja Panggonggom sebagai kata pembukaan rapat, tahulah Ronggur bahwa hal yang akan dibicarakan bersangkut-paut dengan maksud perjalanannya menembus Sungai Titian Dewata. Karena itu, hatinya tambah

gedebak-gedebuk, menantikan putusan rapat. Atau, jalannya pertemuan itu. Apakah ada orang yang bisa diharapkannya untuk membela maksud perjalanannya itu, lalu menyokongnya? Apakah mereka semua akan menjadi musuh, yang menantang maksud perjalanan itu?

“Karena hal ini sangat menentukan,” lanjut Raja Panggonggom, “kami berpendapat harus melalui musyawarah lengkap yang boleh mengambil putusan tertentu terhadapnya, sehingga putusan itu nanti menjadi pendapat kita yang mutlak, yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Camkanlah baik¬baik pentingnya maksud pertemuan ini.”

Raja Panggonggom berhenti sebentar. Dia menarik napas. Setelah mencampakkan pandang pada Ronggur, dia melanjutkan:

“Ronggur, kami dengar kabar kau sudah menyelesaikan perahu yang akan kau pergunakan menyusuri Sungai Titian Dewata untuk mencapai muara. Karena kau bermaksud akan mencapai tanah habungkasan. Apakah berita itu benar?”

“Benar, Paduka Raja,” sahut Ronggur.

“Nah, sidang yang terhormat, yang disampaikan orang itu ternyata benar. Ronggur sudah mengakui terus terang sehingga jalan rapat tidak terlalu repot dan berbelit. Untuk itu, kita harus mengucapkan terimakasih padanya. Ronggur, coba ceritakan pada kami, kenapa kau begitu bernafsu hendak mencari Sungai Titian Dewata?”

Ronggur disuruh berdiri. Dan, setelah mencampakkan pandang ke sekitar, dia lalu membeberkan hal yang kan dialami marga mereka kelak bila tanah habungkasan tidak ditemui. Karena itu, dia berpendapat, tanah habungkasan itu harus dicari. Dia yakin, katanya selanjutnya, seseorang yang berani melayari Sungai Titian Dewata sampai ke muara berarti akan sampai ke tanah landai yang subur. Tanah yang dimimpikan tiap orang. Karena itu, dia mengharap agar

kerajaan memberi izin padanya untuk menyusuri sungai itu sampai ke muara dan membolehkan beberapa orang menjadi kawannya. Sungai Titian Dewata tidak berakhir di ujung dunia, katanya tegas.

Seketika Ronggur berhenti. Rapat hening. Hanya wajah Datu Bolon Gelar Guru Marlasak yang menjadi merah padam mendengar semua omongannya. Dari sikapnya tampak bahwa dia sama sekali tidak mengingini mendengarkan ucapan Ronggur.

Ronggur melanjutkan, “Aku telah memilih kayu yang paling baik jenisnya. Daya apung perahu sangat baik. Dasarnya lebih lebar dari perahu biasa. Tidak mudah oleng waktu melalui arus riam sungai. Percikan air tidak mudah masuk ke perahu karena dinding perahu kubuat agak tinggi.”

“Sudah siap semua yang ingin kau ucapkan?” tanya Raja Panggonggom.

“Sudah, Paduka Raja!” jawab Ronggur lalu kembali duduk bersila di lantai.

“Ronggur, tahukah kau bahwa perjalananmu itu sangat berbahaya?”

“Benar Paduka Raja!” sahut Ronggur. “Perjalanan ini menghadapi risiko yang tidak kecil. Tapi, seseorang yang berusaha mencapai sesuatu kebajikan akan selalu menghadapi risiko. Tak ubah seperti mengerjakan sawah. Pada mulanya kita harus berani membuang tenaga dan waktu untuk mencangkul tanah. Lama sesudah itu baru tanah memberi hasil pada kita.”

Dalam hati kecilnya Raja Panggonggom menghormati sikap terus terang dan keberanian yang dimiliki Ronggur. Tapi, karena maksud perjalanan itu sendirinya pula membelakangi kepercayaan rakyat dan kepercayaan sendiri, maka soalnya menjadi lain.

“Ronggur, maksudku tidak di situ saja. Tidakkah kau tahu bahwa Sungai Titian Dewata itu sungai yang jatuh ke ujung dunia? Sungai Titian Dewata jalan para dewata dan arwah menghadap Mula Jadi Na Bolon.”

“Paduka Raja, memang padaku diajarkan kepercayaan begitu rupa. Tapi, karena maksud perjalanan ini tidaklah untuk kesenangan perseorangan saja, tapi bertujuan untuk kepentingan bersama, izinkanlah aku untuk memikul segala risiko itu bila yang kurasakan dan kupikirkan itu salah!”

“Bagaimana pendapatmu tentang Sungai Titian Dewata?”

“Paduka Raja, aku selalu digoda mimpi. Mimpi itu selalu mengajak aku agar memulai satu perjalanan, yaitu menyusuri Sungai Titian Dewata. Mimpi itu mewartakan bahwa bila aku melayarinya, aku akan tiba ke tanah landai di muara sungai. Tanah landai itu begitu luas. Bisa menampung kebutuhan kita dan keturunan kita kelak akan persawahan. Turun temurun. Selanjutnya mimpi itu selalu mengatakan padaku, bila aku tidak memulai perjalanan itu, aku seorang manusia yang telah menyia-nyiakan satu kesempatan. Aku orang yang tidak dapat dikatakan seorang lelaki.”

“Apakah kau tidak mungkin digoda setan?” potong Raja Panggonggom.

“Paduka Raja, bila warta mimpi itu tidak dapat kutunjukkan dalam kenyataan, berartilah aku digoda setan. Tapi, berilah kesempatan padaku untuk membuktikannya atau aku sendiri akan musnah. Aku telah rela menerima dan memikul segala risiko itu.”

Datu Bolon Gelar Guru Marlasak cepat berdiri. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memancarkan sinar kemarahan. Mulutnya cepat-cepat mengeluarkan kata: “Ronggur! Menurut kepercayaan kami, menurut hukum yang diwariskan kepada kami, kau pasti akan mendapat bencana. Jadi, sebelum bencana itu menimpa dirimu, ada baiknya kau

mengurungkan niat itu. Tapi, kau juga harus tahu karena yang kau tantang itu hukum dewata. Kemarahan dewata tidak saja menimpa dirimu, tapi semua marga akan dikutuknya. Kerukunan keluarga akan hancur. Padi di sawah akan tidak menjadi. Kalau cuma kau yang dikutuk dewata tidaklah menjadi soal besar. Tapi, ini menyangkut seluruh marga kita. Kerajaan kita akan berakhir pada suatu yang menyedihkan, justru karena keinginanmu untuk mengharungi Sungai Titian Dewata. Tidakkah dapat kau rasakan ancaman mara bahaya yang akan timbul dan menimpa warga marga itu?”

“Datu Bolon Gelar Guru Marlasak, yang kuhormati kebenaran tenungnya. Yang kuhormati arwah halus penjaga diri dan yang dapat dipanggilnya untuk membisikkan sesuatu pendengarannya. Aku selalu memperhitungkan dan tetap merasakan, bencana yang mungkin meruntuhh-an kelangsungan hidup marga. Justru karena memperhitungkan hal itulah aku mengambil kesimpulan, tanah habungkasan perlu dicari. Diusahakan menemukan. Aku percaya bahwa Datu Bolon pun memikirkan hal itu. Soalnya bila Datu Bolon meninjau dari sudut gaib, aku melihat dari kenyataan sesuatu perhitungan yang hasilnya pasti tiba.”

“Kalau begitu, tidak ada lagi sesuatu hal yang bisa mengurungkan niatmu,” kata Datu Bolon menyindir.

“Begitulah rasanya,” jawab Ronggur dengan tabah dan tenang. “Seperti tidak ada sesuatu kekuatan yang dapat menghentikan orang mengisi perutnya,” sindirnya pula dengan halus dan tenang.

“Ronggur,” tiba-tiba suara Raja Nagebu meninggi, dengan hentakan kasar mengatakan, “Apa yang menggoda hatimu? Apakah kau dengan perjalananmu yang akan menimbulkan bencana dan yang telah menimbulkan huru-hara terpendam di kalangan rakyat dan para hulubalang, yang menanti saat meledak sehingga ketenteraman hidup terganggu dan kucar-kacir, masih kau katakan untuk memperjuangkan kelanjutan

hidup marga dan keturunan? Atau, kau memang sengaja mencari nama, menunjukkan bahwa kau lebih berani dari setiap hulubalang kita, sehingga patentengan menantang hukum dewata? Ronggur menantang hukum dewata bukanlah keberanian, tapi ketololan.”

Seketika dia diam. Wajahnya bertambah merah. Lalu melanjutkan, “Ronggur, bidang sawah yang diserahkan atau dipercayakan kerajaan padamu cukup luas lagi subur. Biar kau mengambil seorang istri atau lebih, kemudian istrimu itu melahirkan anak banyak, kau belum perlu menguatirkan makanan untuk mereka. Hasil sawahmu memberi jaminan. Jelaslah sebenarmya kau mengimpikan sesuatu yang maha mulia dialamatkan pada dirimu.”

“Paduka Raja Nagebu, pemegang tampuk dan penggerak para hulubalang perkasa. Maksudku jauh dari dugaan tuanku. Kalaulah yang kuimpikan bisa nyata dalam kenyataan tidak bermaksud aku disebut penemunya. Sekali-kali tidak. Juga aku tahu, bila untukku sendiri dan jaluran keturunanku langsung, sawah yang dikuasakan padaku memang cukup memberi nafkah. Belum perlu menguatirkannya. Tapi, pokok persoalan sekarang di sini bukanlah aku, tapi kita semua. Marga kita. Tahukah paduka raja bahwa banyak dari marga ya’ng hanya punya tanah beberapa bidang dan hanya dapat menghasilkan padi yang cukup untuk makanan sekedarnya saja? Dan mereka terus saja melahirkan anak, anak yang perlu kita beri makan. Dan tahulah paduka raja bahwa permintaan bantuan dari lumbung desa setiap tahunnya bertambah banyak juga? Sehingga kita tidak bisa lagi mengadakan pesta pujaan terhadap Mula Jadi Na Bolon dengan besar-besaran? Inilah semua yang jadi persoalan. Jadi, bukan diriku dan bukan pula hanya diri tuanku saja.”

Keadaan menjadi sunyi. Dalam saat itu, Raja Panggonggom mengadakan sidang kecil dengan para Raja Partahi, Raja Nagebu, Raja Namora, dan Raja Ni Huta dari induk kampung.

Kemudian mereka panggil pula Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Mereka berbicara perlahan, tapi dari tiap wajah memancar kesungguhan. Jelas tampak mereka sedang mengambil ketentuan dan keputusan rapat, yang akan diumumkan pada seluruh marga, sebagai undang-undang kerajaan yang tidak boleh dibantah.

Tiba-tiba saja Panggonggom menyuruh bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan, berbicara pada hadirin, menceritakan kegagalannya dulu mengharungi Sungai Titian Dewata.

“Bapak bekas Datu Bolon, yang pernah meminta izin pada almarhum ayah kami, yang mewariskan kedudukan Raja Panggonggom pada kami, untuk mengharungi Sungai Titian Dewata. Menurut pustaka kerajaan, almarhum ayah kami memberi izin pada bapak untuk mengharungi sungai tersebut. Bagaimanakah hasilnya?”

Orang tua itu berbicara perlahan, “Memang benar Paduka Raja bahwa aku pernah meminta agar diberi izin mengharungi Sungai Titian Dewata. Tapi, yang kutemui berbeda dengan hasil tenungku. Kami mengalami kegagalan.”

“Selanjutnya, bagaimana?” tanya Raja Panggonggom.

“Ayah Ronggur memperoleh cedera dalam perjalanan itu. Dia temanku. Dia tidak pernah lagi pulang.”

“Sesudah itu?”

“Aku sendiri pulang ke mari. Karena almarhum ayah paduka raja, sabahat karibku, tetap juga menerimaku kembali. Tapi, tidak lama kemudian kami mengadakan pemburuan. Di situlah mendapat kenahasan. Almarhum ayah paduka raja diserang seekor harimau dengan tiba-tiba, sehingga beliau memperoleh luka yang mengakibatkan kewafatannya. Dalam igaunya selalu mengatakan, “Pembalasan dewata telah datang. Pembalasan dewata telah datang!”

“Apakah tidak mungkin, apa yang dimaksudkannya itu karena mengizinkan bapak mengharungi Sungai Titian Dewata dan menerima bapak pulang kembali?”

“Tidak dapat kupastikan. Tapi, boleh juga begitu maksudnya.”

“Hadirin semua, terutama kau Ronggur, telah mendengarkan satu pengakuan dari seseorang yang pernah mengharungi Sungai Titian Dewata, yang menimbulkan kemarahan para dewata. Apakah setelah mendengar pengakuan ini kau masih bermaksud meneruskan niatmu? Berilah jawaban, Ronggur!”

Ronggur terdiam beberapa saat. Dia dihadapkan sudah pada saat yang menentukan. Bintikan keringat melebihi keningnya. Akhirnya dia mengatakan:

“Paduka yang bijaksana, apakah karena satu kegagalan, sesuatu maksud baik harus dibatalkan? Apakah tidak hanya satu kebetulan saja hal nahas itu mendatang?”

“Kutanya padamu, Ronggur, apakah kau masih bermaksud meneruskan niatmu atau mengurungkan setelah mendengar pengakuan bekas Datu Bolon yang sudah disisihkan orang dari kehidupan ramai? Lain tidak! Dia membawa kenahasan bagi kerajaan.”

Ronggur terdiam. Belum memberi sesuatu pilihan yang menentukan. Golongan raja kembali mengadakan sidang kilat. Lalu sebelum Ronggur memberi keputusan, Raja Panggonggom mengatakan:

“Kita telah sama mendengarkan cerita bahwa Ronggur hendak mengharungi Sungai Titian Dewata untuk mencari tanah habungkasan. Maksud yang baik. Tapi, Ronggur telah melupakan riwayat nenek moyang dan berusaha merombak kepercayaan yang kita anut atau menurut kata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak, telah menghina kepercayaan yang kita anut.” Hening sejenak.

“Saran yang dapat kami ajukan pada Ronggur, dan menjadi undang-undang bagi kita semua, ialah bila Ronggur meneruskan niat itu, tidak seorang pun dari warga yang dibolehkan mengikuti dan membantu perjalanannya. Bila dia mulai melangkah dari gerbang kampung memulai perjalanan, maka dia tidak berhak lagi mencantumkan marga kita di belakang namanya. Begitu pula gelar Raja Ni Huta Muda, gelar Hulubalang Muda dicabut kembali!”

“Dia tidak boleh memakai nama kerajaan kita untuk melindungi diri dari kutukan dewata, dari gangguan setan, dan dari gangguan perampok di tengah jalan. Kalau ada orang yang membunuhnya dalam perjalanan, marga kita tidak akan menganggap serangan itu serangan yang langsung pada marga kita. Ronggur sendiri yang harus memikul risikonya. Sawah yang telah dipercayakan padanya disita kerajaan. Ibunya yang sudah tua akan dibelanjai langsung oleh lumbung desa. Dirangsum ala kadarnya!”

“Syarat ini kami ajukan justru karena kami berpegang pada satu kepercayaan: siapa saja yang mengikuti perjalanan Ronggur, siapa saja yang membantunya mengharungi Sungai Titian Dewata, jalan para dewata dan para arwah menuju matahari terbit tempat Mula Jadi Na Bolon bersemayam, akan turut dikutuk oleh dewata. Biarlah kami dan marga kita disebut pengecut, namun melawan dewata kita tidak mau.

“Jadi kami umumkan pada semua Raja Ni Huta, agar tidak membolehkan rakyat yang ada dikampungnya membantu dan mengikuti perjalanan Ronggur. Kalau kau Ronggur tidak dapat menerima syarat ini, hendaknya urungkan dan batalkan niatmu sebelum terlambat. Bila kau mengalami kegagalan kemudian kau pulang ke kampung ini, kau akan tidak dianggap anggota marga lagi. Kau akan ditangkap dan dijadikan budak belian. Kami tidak mau mengulangi kenahasan yang pernah menimpa almarhum ayah kami, untuk menimpa

diri kami sendiri. Pikirkan baik-baik Ronggur. Dan, berilah jawaban di tempat ini juga.”

Keadaan menjadi hening. Pada kening Ronggur menitik keringat. Bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan menundukkan kepala. Tidak sanggup mengangkat kepala. Di wajah Datu Bolon Gelar Guru Marlasak dan Raja Nagebu membayang kepuasan. Para Raja Ni Huta lain dengan takjim menerima undang-undang Raja Panggonggom. Pada wajah dan sikapnya tergambar bahwa mereka akan melaksanakannya sebaik mungkin.

Sejak tadi di luar Sopo Bolon, hujan turun menderu. Bersabung dengan petir dan kilat.

“Ronggur, katakanlah pilihanmu, biar kami tahu mengambil sikap,” kata Raja Panggonggom memecah kesepian.

Ronggur masih tertunduk juga. Belum berdiri untuk menyatakan pilihan.

“Ronggur, kau tidak dapat memberikan keputusan? Kau merasa takut dan bimbang? Karena itu kami sarankan, janganlah sekali-kali mencoba untuk menentang kepercayaan yang kita anut bersama, janganlah menghina diri sendiri,” kata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Nada suaranya mengejek. Membakar dada Ronggur. Dengan wajah merah serta sinar mata yang manyala, akhirnya Ronggur berdiri dengan menghentak: “Semua pertaruhan yang dibebankan ke pundakku aku terima. Aku, ibuku, tidak berhak lagi memanen padi dari sawahku yang sedang menguning. Karena itu, secepat mungkin aku akan berangkat. Dengan satu janji, bila aku menemui tanah habungkasan yang landai lagi subur, hasil penemuan itu akan tetap kuhadiahkan bagi margaku, bagi kalian semua.”

Suaranya mengguntur mengalahkan suara petir yang bersabung di luar Sopo Bolon. Orang semua mengangkat kepala dibuatnya. Dan, sehabis mengucapkan pilihan itu,

Ronggur terus meninggalkan ruang Sopo Bolon. Perasaannya terbakar, dadanya panas, walau udara begitu dingin. Dia menerjang ke tengah hujan, angin, dan halilintar yang bersabung dengan petir.

Terus melangkah melewati sawah yang pematangnya menjadi licin, mencapai kampung di mana dia sebelum itu memegang tampuk Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda. Tapi, dia tidak memperdulikan keadaan alam itu, dia terus melangkah cepat di atas pematang yang licin. Tidak mau berteduh ke dangau yang ada di tengah sawah. Orang yang berhenti memotong padi dan berteduh di dangau melihatnya begitu saja.

Gonggong si belang menyambut di tangga rumah. Pintu rumah cepat dibuka Tio. Dilihatnya Ronggur basah kuyup. Ibunya cepat mengangkat wajah, menatap padanya. Otot Ronggur mengeras, wajahnya memerah. Pertanda berita yang kurang baik.

Sebelum ditanya Ronggur dengan suara lantang karena masih marah, menceritakan semua keputusan rapat dan pilihannya sendiri. Ibunya jadi kaku tegang, seperti patung tanpa nyawa. Tangan, kaki, tubuh Ronggur masih menggetar tidak karena merasa dingin, tapi karena marah.

Tapi, sewaktu matanya tertumpu ke biji mata ibunya yang berseri, yang mulai digenangi air bening tipis, dia sadar bahwa orang tua itu telah dihadapkannya pada satu kenyataan, yaitu kepahitan dan kegetiran hidup di saat hari tuanya. Yang sepantasnya tidak wajar lagi hidupnya disusahi. Cepat Ronggur mendekat, lalu menyembah sujud di kaki perempuan tua itu. Di antara isaknya sendiri dia mengatakan:

“Maafkanlah aku, Bu. Maafkan anakmu ini. Aku telah mempersusah hidupmu. Katakanlah Bu, aku tidak boleh pergi. Aku harus menggagalkan niat perjalananku itu. Aku akan menuruti ibu. Aku akan minta maaf pada kerajaan atas kelancanganku. Katakanlah, apa yang harus kuperbuatl”

Perasaan marahnya telah mencair, menghadapi wajah dan mata ibunya yang bersedih. Segala tekad menjadi kendur, demi hasrat diri yang tidak mau melihat ibu kandung yang sudah tua mengalami kesusahan. Tidak cepat ibunya menyahut. Tangan ibunya yang sudah mengkerut, membelai kepalanya yang masih basah. Mengusap perlahan sambil lalu mengeringkannya. Kemudian mengatakan perlahan-lahan:

“Ronggur, kau tidak boleh mengurungkan niatmu lagi. Kau tidak boleh membatalkan yang telah kau pilih. Kau telah mengatakan dalam pertemuan raja dengan berani. Kau harus meneruskannya, walau apa yang akan terjadi.”

Seketika ibu tua berhenti, tapi disambung pula, suaranya sudah tambah jelas dan tabah:

“Seperti terbangnya burung ambaroba, mengitari tebing curam, mengikuti lingkaran pegunungan, mencari mata air yang bening, tanpa memperdulikan arti haus dan dahaga, karena anaknya di sarang, menginginkan setetes dua air melalui kerongkongan kering. Harus begitu kau. Seorang lelaki yang berani mengatakan maksudnya, tapi dapat disebut jantan, bila berani tidak mengingkari janji. Jadilah, anakku sulung anakku bungsu, seorang lelaki berhati jantanl Ibumu ini, tidak mau anak lelaki berhati betina.”

Perempuan tua itu tidak mengucurkan air mata lagi. Perempuan tua itu tidak mengisak lagi. Telah tabah menerima segala yang tiba. Telah rela melepas anaknya sulung, anaknya bungsu, untuk pergi selamanya, mempertaruhkan keyakinan diri. Segala air mata telah dihamburkan dari dasarnya sampai kering.

Keheningan merayap di ruang mereka berada. Sendu. Tapi dipecahkan suara halus yang bermula dari Tio, “Bawalah daku bersamamu. Bawalah daku, jangan tinggalkan daku.”

Sambil berkata Tio mendekat, lalu duduk di sisi anak beranak itu.

Perlahan, ibu Ronggur merenggangkan pelukannya dari tubuh Ronggur. Perlahan pula, Ronggur melepaskan diri dari pelukan ibunya. Lalu menatap dalam ke biji mata Tio, yang tertancap ke biji matanya tanpa mengedip.

“Tio, dapatkah kau menduga kemungkinan yang bisa saja menimpa diriku dalam perjalanan? Tahukah kau, apa yang akan kutemui bila tafsiran mimpiku meleset?”

“Aku sudah tahu. Aku sudah maklum. Bila kelak kita tidak bisa kembali lagi agar Mula Jadi Na Bolon tidak murka padamu, katakanlah bahwa arwahku kau bawa serta sebagai sembahanmu padanya.”

Lama Ronggur menatapi wajah Tio yang sudah punya kepastian sinarnya. Olehnya tekad Ronggur kembali pada pijakan semula begitu kokoh. Tidak ada lagi satu kekuatan yang dapat menghalangi maksudnya.

Angin di luar tambah kencang, hujan rasanya tidak akan henti. Halilintar dan guruh terus bersabung. Angin melanggari pucuk dan batang bambu duri, berkerisik dan bunyinya begitu ngilu pada pendengaran. Di rumah itu orang terus sibuk. Menyiapkan yang perlu mereka bawa. Bila fajar pagi terbit pertanda hari baru tiba mereka sudah harus berangkat.

Ibunya menyelipkan pisau gajah lompak ke pinggang Ronggur, pisau pusaka turun-temurun. Yang berukirkan kakek kesatuan keturunan mereka yang langsung. Di tengah malam buta, Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan datang ke sana. Dia menjampi Ronggur dan Tio, agar selamat dalam perjalanan. Supaya terhindar dari godaan setan. Kemudian pada Ronggur diberikannya ajimat yang terbuat dari besi putih, diukir dengan huruf Batak. Juga pada Tio diberinya ajimat, terbuat dari jalinan benang berwarna tujuh.

 

Mereka menyongsong terbitnya fajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s