Bagian 3

Kabut pagi masih rendah menyungkup tanah. Ronggur sudah berada di halaman bersama Tio dan si belang. Tangan kanan Ronggur menggemggam kampak, tangan kirinya menggenggam tombak. Di tubuhnya membelit tali ambalang. Di pundaknya disandangkan sumpit bertali, yang berisikan alat kecil.

Pundak Tio juga menyandang sumpit bertali yang berisikan beras. Tangannya juga menggenggam kampak dan tombak. Matanya sering tertumpu ke pinggang Ronggur yang menyelipkan panggada. Mereka tampaknya akan mengadakan perjalanan yang tidak dapat dikatakan pendek masanya.

Ronggur melangkah cepat, panjang, dan menembus kabut. Tio tetap mengiring dari belakang bersama si belang. Si belang sering menggonggong, meregangkan tubuh seperti mengendorkan urat yang dibekukan dingin pagi berkabut rendah. Tapi, tampaknya, dari gerak-geriknya si belang gembira. Karena seperti tahu bahwa mereka akan mengadakan perjalanan yang lama dan jauh dari lingkungan perkampungan. Orang tidak ada di halaman.

Langsung rombongan kecil itu mengarah ke kaki bukit sebelah barat. Jalanan terus menanjak. Perkampungan tambah tertinggal di bawah. Masih juga dibalut kabut, tapi sudah tambah menipis dengan bertambah tingginya hari.

Lewat perkampungan danau, kabut di sana lebih tebal, lebih kental, dan rendah. Air yang biru tidak dapat dilihat pandang, begitu pula Pulau Samosir dan Tuktuk Sigaol. Semua teggelam ke perut kabut. Mereka terus melangkah. Bergegas.

Kabut yang rendah tambah terangkat. Untuk kemudian secara perlahan mulai menyisih dari tanah. Matahari memberi sinar, suluh abadi yang dikenal mereka sejak masa kanak. Permukaan danau, secara berangsur perlahan, tepian Pulau Samosir dan Tuktuk Sigaol, bertambah lama bertambah jelas tampak. Akhirnya keputihan yang pekat tadi yang merupakan satu bundaran yang tidak berujud, sekarang sudah tampak isinya.

Air danau biru tenang di pagi hari tanpa angin. Samosir dan Tuktuk Sigaol berhadapan. Di sebelah lain Tuktuk Tarabunga menjulur ke depan, seperti hendak menjangkau Samosir. Ini semua dapat dilihat setelah melalui tingkatan sawah yang padinya sedang bunting, dedaunan padi yang menghijau. Pada tempat tertentu tampak tumpukan bambu duri yang melingkar. Pertanda perkampungan. Asap sudah mengepul dari kampung itu, pertanda pengisi kampung sudah bangun dari tidurnya. Satu dua biduk berlayar di permukaan danau, penangkap ikan yang bekerja semalaman mengayuh menuju pantai.

Mereka meneruskan langkah, jalanan menanjak. Setiap saat, tambah jauh mereka di atas, dan perkampungan serta danau, tambah jauh berada di bawah. Langkah mereka begitu cepat diayunkan. Tergesa tampaknya. Karena ingin cepat tiba ke tempat yang dituju. Tidak banyak mereka mengeluarkan kata.

Matahari tambahtinggi berlayar dilangit dan sinarnya terus menerus tambah terik. Angin yang berdesir di lidah ilalang yang tinggi, lalu ilalang itu bergoyangan, sudah mulai bangkit. Lidah ilalang yang bergoyangan, terkadang menyayati daging mereka dengan tipis. Terasa pedih juga bila sayatan kecil itu dibasahi keringat. Terkadang mereka seperti tenggelam di padang ilalang yang cukup tinggi. Untuk tampak kembali pada tempat di mana ilalang agak rendah. Biasanya, si raja hutan, bersembunyi di sana menanti mangsa. Itu yang membuat

Ronggur tetap was-was. Di tangannya terus tergenggam tombak dan kampak, siap sedia dipergunakan.

“Sebelum matahari condong ke barat, kita sudah harus menuruni lembah berhutan yang ada di salah satu lekuk danau. Agar kita tidak kemalaman mencari tempat bermalam,” kata Ronggur. “juga untuk memilih dahan pohon yang baik untuk tempat tidur.”

Tio tidak menyahut. Langkahnya tambah dipercepat dan diperpanjang, dilincahkan sebagai sahutan.

Matahari terus berlayar di langit dan mereka terus melangkah di bumi. Lidah si belang terjulur merah dan berbuih. Dia tidak menggonggong lagi, tapi terus mengikuti tuannya.

Dari tempat ketinggian, mereka menatap ke sekitar. Pandang bebas diarahkan ke mana suka, hanya ke arah belakang yang kandas pada pegunungan. Barat, melalui tingkatan dinding teluk, didasarnya hutan yang mereka tuju. Utara, danau yang biru. Beriak-riak. Dari sana tampak lebih jelas lagi, di teluk di mana Sungai Titian Dewata bermula.

Mata Ronggur lama tertancap ke sana. Alis matanya terangkat. Dalam hati terucap kata: akan kutembus kau sampai ke muara. Melihat Ronggur bersikap begitu, dada Tio bernadakan lagu lain, ketakutan bercampur baur dengan penyesalan, kenapa sungai itu harus diadakan dewata.

Kelompok bambu duri pertanda perkampungan tambah banyak dapat mereka lihat dari sana. Tercecer bertumpuk di sana sini. Bermula dari pantai danau, berakhir ke kaki bukit. Sawah menghijau oleh dedaunan padi yang sudah panjang dan sudah bunting.

Mereka menuruni lembah berhutan yang tidak berapa luas. Tapi, cukup hijau. Mereka sudah dapat mencium bau dedaunan yang segar, berair, dan teduh. Dedaunan yang rapat didukung pepohonan yang tumbuh di sana, menampung

sinar matahari, hingga tanahnya tetap teduh dan berair. Dedaunan gugur melapisi permukaan tanah. Jaringan dahan dan rantingnya, mendukung dedaunan, permadani yang lembut, buatan alam.

Tapi, Ronggur sudah tahu bahwa mulai panen tahun muka, kerajaan marganya sudah memutuskan membuka hutan itu untuk dijadikan tanah persawahan. Tapi, bersamaan dengan niat itu kerajaan marga lain juga telah memutuskan untuk membuka hutan itu untuk dijadikan tanah persawahan marganya. Kerajaan marga lain yang juga mendengar berita itu dengan tandas pula menyatakan maksud masing-masing. Untuk membuka hutan itu lalu membagi-bagikan tanahnya bagi warga marganya. Akhirnya setiap kerajaan marga yang berdekatan, harus mengadakan pertemuan kerajaan, untuk membicarakan masalah hutan itu. Sampai sekarang memang belum ada satu marga pun yang mempunyainya. Tapi, setiap marga merasakan bahwa kerajaannya punya hak atas hutan itu. Kalau hutan itu dibuka, marganya harus memperoleh bagian.

Begitulah, sudah beberapa kali dilangsungkan sidang kerajaan dengan kerajaan. Di induk kampung marga Ronggur juga sudah pernah diadakan pertemuan. Tapi, hasilnya masih tetap sama: belum memperoleh kata mupakat. Satu marga mengusulkan, boleh marganya tidak memperoleh tanah bagian, tapi sebagai pembayar bagiannya kerajaan lain harus memberikan kerbau pada kerajaannya. Masalah itu memang hangat dibicarakan. tapi, belum sampai ke taraf yang menentukan. Yang bisa membuat satu luhak berkelahi dengan luhak lain. Bila satu luhak telah menang, yang di tempati beberapa marga, antara marga sendiri pun akan ada pertengkaran. Yang mungkin pula menimbulkan peperangan marga.

Jadi, dari tanah hutan yang tidak seberapa luas itu, bisa saja timbul peperangan yang berturut-turut. Pada mulanya

peperangan luhak, lalu melanjut pada yang lebih kecil, peperangan kerajaan marga.

Suatu kerajaan yang memperolehnya, akhirnya dapat memindahkan beberapa keluarga ke sana. Tanah perluasan buat sementara. Karena luasnya tidak seberapa. Hanyalah tempat singgahan sementara sebelum tiba ke saat yang ditakutkan Ronggur. Namun untuk merebutnya, kemungkinan pecahnya peperangan begitu besar. Dan, atas putusan kerajaan Ronggur, untuk membuka hutan itu, tanpa memperdulikan kepentingan kerajaan marga lain, sudah jelas garisnya: peperangan tidak terelakkan lagi, bila marga lain itu tetap merasakan bahwa kerajaannya punya hak juga atas hutan itu. Hendaknya, pikir Ronggur, dia bisa lebih dulu menemui tanah habungkasan, sebelum peperangan dari perebutan hutan itu meledak.

Mereka menurun ke lembah berhutan dielus angin sore yang nyaman.

Tepi hutan. Kesejukannya telah memberikan kesegaran bagi mereka yang sehari penuh dipanggang sinar matahari. Ronggur duduk melepas lelah pada teduhan sebuah pohon. Menelentangkan diri. Menutup mata. Memperbaiki jalan pernapasan. Si belang, mendudukkan diri tidak jauh darinya. Lidahnya terjulur ke luar. Berbuih. Ronggur kembali duduk, lantas mengatakan:

“Tolong berikan padaku nasi yang kau bawa itu sebungkus.”

Tio cepat memberikan. Diambilnya sebungkus untuknya. Memberi beberapa jemput untuk si belang.

“Bila selesai makan, kumpulkanlah ranting kering. Untuk bahan bakar api unggun malam hari,” kata Ronggur lagi.

Tio mengiakan.

“Hari sudah sore. Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Di sini cepat gelap. Sebaliknya,” kata Ronggur pula, “kita memilih dahan tempat bermalam. Agar terhindar dari gangguan binatang buas. Membuat lobang pada salah satu sisi jurang tidak sempat lagi.”

Lagi-lagi Tio mengiakan.

Ronggur memilih dahan yang baik untuk tempat tidur, yang bercabang dua, cukup besar, dan tidak vertikal, tapi mendatar. Tidak terlalu bulat. Agak gepeng sedikit. Di mana tubuh enak ditelentangkan. Di bawah dahan mereka bakar api unggun, agar nyamuk tidak banyak mengganggu. Juga bisa mengusir dingin malam. Dahan yang dipilih Ronggur untuknya dan untuk Tio tidak berjauhan.

“Si belang di mana tidur?” tanya Tio.

“Biarlah di tanah. Penciumannya cukup tajam. Bila bahaya datang, dia sudah dapat mencium dari jarak jauh. Dia akan terus menggonggong lalu membuat kita bangun. Lantas memberi bantuan.”

Begitu tergesa mereka menyiapkan sesuatunya. Tio tidak hanya mengumpulkan reranting. Dahan yang patah dari sesuatu pohon dipotong, lalu dibawanya ke bawah pohon tempat mereka bermalam.

Ronggur pergi menyusuri tepian hutan. Ditatapi Tio terus sampai Ronggur hilang ke antara pepohonan atau tenggelam kerimbunan rerumputan yang tinggi. Baru Tio memulai mengonggokkan ranting di lapisan bawah diatasnya dahan. Dihidupkannya api. Mula-mula dibakar ranting. Potongan dahan kayu yang sebesar betisnya dionggokkannya kenyala api menjilam. Tidak sekali banyak. Tapi, sedikit demi sedikit supaya api tidak mati. Dan tetap ada nyala menjilam. Bara memanas di bawah bila sudah ada dahan sebesar betis yang habis dimakan api.

Ya, pikirnya. Ronggur dapat diibaratkan seperti api unggun. Tingkah lakunya yang dapat dilihat atau yang muncul kepenglihatan, yang dikatakan sikap jantan yang berani, masih menyimpan bara kehidupan yang cukup besar didasarnya. Sehingga apa yang dilihat itulah, sesuatu yang dipikirnya dan dirasakannya punya kebenaran, tak seorang pun dapat menghalanginya untuk mengerjakannya.

Begitu pula dengan tekad perjalanannya yang akan menempuh Sungai Titian Dewata tak satu pun kekuatan baik melalui kemesraan dan kasih, baik melalui ancaman bahaya yang mungkin ditemuinya, yang dapat mencegahnya, mengendorkan maksudnya. Walaupun itu berarti dia akan merombak kepercayaan yang sudah tertanam di dasar hati penduduk turun-temurun, atau dia sendiri akan musnah. Seperti api unggun itu sendiri, bila hendak memadaminya, harus turut baranya dipadamkan baru tidak mengandung panas lagi, mengandung bahaya lagi yang bisa membakar dan menghanguskan.

Dari jauh sudah kedengaran siulan Ronggur datang mendekat. Ronggur melihat api yang sudah menyala dan memberi kilatan cahaya pada sekitar, yang cepat menjadi kelam. Dedaunan yang merimbun menampung cahaya matahari yang sudah lemah, senja. Sambil tersenyum Ronggur berkata:

“Kau pandai menyalakan api. Di tikungan jalan tikus menanjak sana, sudah kutemui kumpulan pohon maranti batu. Tapi, belum kutemui maranti batu yang cukup tua, yang baik dijadikan perahu. Pohon yang kuperlukan harus cukup tua lagi besar. Sedang panjang batangnya yang lurus hendaknya melebihi tiga depa. Tapi, bagaimanapun kumpulan pohon maranti batu yang masih muda itu, sudah menjadi pertanda bahwa di hutan ini akan kutemui pohon yang kuperlukan.”

“Harus pohonmaranti batu?” tanya Tio menyeling.

“Ya. Semua perahu yang baik dibuat dari jenis kayu itu. walau susah mengerjakannya karena kayunya cukup keras. Tapi meranti batu tidak mudah busuk walau direndam dalam air dan dipanggang terik matahari. Lagi, daya apungnya sangat baik.”

Kemudian Tio terdiam. Matanya seperti bermimpi. Menatap entah ke mana saja. Dan, Ronggur melanjutkan:

“Sewaktu aku meneruskan perjalananku lebih ke atas, kutemui pula parit kecil. Airnya bening. Di tepi parit banyak kulihat bekas jejak binatang buruan. Jadi, kita tidak akan kekurangan daging di sini. Tahukah kau di sebelah hulu parit, banyak pohon aren liar tumbuh. Sudah ada yang tua. Kau harus menebang pohon aren yang sudah tua itu. Memintal ijuknya menjadi tali. Harus cukup besar, kalau bisa sebesar pergelangan tangan. Harus pula panjang. Sangat kuperlukan nanti dalam perjalanan. Itulah kerjamu.”

“Aku akan mengerjakan,” sahut Tio. Dalam hati selalu mengiring tanya, kuperlukan dalam perjalanan. Apakah Ronggur pergi sendiri, tidak mengajaknya? Betapa pun ancaman yang tumbuh dari maksud perjalanan itu, namun Tio bila memang Ronggur harus berangkat juga, dia ingin ikut.

“Besok pagi benar, bangunlah. Kita harus mengadakan pengintaian. Membunuh beberapa ekor binatang itu, agar ada daging persediaan. Jangan lebih dulu menebang kayu. Suara kampak yang berlaga dengan pohon kayu bisa menakutkan binatang. Binatang akan pergi menjauh.”

Tio mendengarkan. Begitu yakin dia bahwa kemana pun dia pergi, bila bersama Ronggur, mereka tidak akan mati kelaparan. Keberaniannya, akalnya yang cukup banyak, kekuatan tubuhnya memberi jaminan.

Tapi, bila diingatnya bahwa Ronggur akan menyusuri sungai Titian Dewata mencapai muara, maka itu sangat lain soalnya. Walaupun tubuh Ronggur cukup tegap menyimpan

tenaga yang kuat, akalnya banyak, namun untuk menghadapi ketentuan dewata, semuanya itu tidak berarti. Kalau dewata berkehendak, apalagi kalau dilanggar ketentuannya, siapa pula dapat menantangnya?

Entah kenapa perasaan takut itu tambah hari tambah dalam mencekam di hatinya. Namun dia tidak mengatakan. Kurang wajar rasanya dia menasihati perjalanan yang sudah diputuskan Ronggur harus ditempuh. Tapi, apakah Ronggur tidak dapat membaca apa yang tersirat dicerlang matanya?

Malam hari. Binatang rimba mulai bernyanyi. Jengkrik dengan kerisiknyayang nyaring dan di kejauhan gonggong dan salak anjing liar selalu membuat si belang mendongakkan kepala. Mendengarkan dan meraba sumber suara itu.

Ronggur menyuruh Tio mengikatkan tubuh ke dahan kayu yang bercabang, berbentuk gepeng, agar tidak jatuh sewaktu diri lelap tidur. Tapi, ikatannya jangan dipintal mati. Harus bisa dibuka dengan cepat. Karena mungkin saja diperlukan pada saat tertentu,. Ronggur juga mengikatkan tubuhnya ke dahan tempatnya tidur. Si belang di bawah, dekat unggun api.

Dalam hayalnya Ronggur sudah menggambarkan bentuk perahu yang hendak dibuatnya. Sudah di reka-rekanya bahwa dasar perahu harus mendatar, jangan melancip.

Biarlah tidak bisa dikayuh cepat. Biarlah perahu agak lamban jalannya. Tapi, bisa mengikuti arus sungai walau melalui riam. Dinding perahu harus agak tinggi agar tidak dimasuki temperasan air yang memercik. Ya, pikirnya, penimba air harus dibawa serta. Yang dibuat dari bambu.

Malam begitu dekatnya. Nyala menjilam dari unggun api. Tambah jauh malam nyala itu tambah mengecil. Ronggur turun ke bawah. Menimpakan beberapa potong lagi dedahanan ke atas api. Hingga jilam yang mau padam tadi, lalu tampak bara membara, kembali menyala. Jilam-nya begitu tinggi. Sekitar menjadi terang dan panas. Si belang duduk di

tanah dekat api melihat jilam api yang terkadang meliuk ditiup angin lalu.

“Perahu yang kubuat,” lanjut Ronggur berbicara pada diri sendiri setelah dia kembali meletakkan diri dan mengikat tubuhnya ke dahan kayu itu. Harus bisa memuat penumpang sebanyak tujuh orang paling sedikit. Dasar perahu harus lebih lebar dari perahu biasa, agar tidak mudah oleng waktu melintasi riam sungai. Juga agar mudah menjaga keseimbangan. Sudah dibayangkan, siapa yang akan diajaknya serta. Akan diminta kesediaan mereka menemaninya. Dan, ke dalam yang tujuh orang itu, tidak termasuk Tio.

Perjalanan yang menanggung risiko begitu berat, bukanlah pekerjaan perempuan. Lagi, Tio perlu dekat ibu. Membantu mengerjakan sawah bila saat panen tiba. Siapa ttliu, boleh jadi perjalanan itu sangat panjang.

Dikiranya pula, bila setiap hari dia mengerjakan perahu, dalam dua kali purnama tenggelam dan terbit lagi sudah bisa selesai. Berarti sepulangnya dari hutan itu, padi telah menguning di sawah. Sehabis panen, dia akan memulai perjalanan itu. Seketika, teringat dia atas maksud kerajaan marganya untuk membuka hutan itu menjadi tanah persawahan.

“Ah,” pikirnya pula, “dari orang yang sangat dekat dengan Raja Panggonggom, diperolehnya keterangan bahwa siasat itu baru gertakan saja pada kerajaan marga sekitar. Untuk menduga sampai di mana kesungguhan kerajaan marga lain itu untuk menguasai hutan itu.

“Tapi, betapa pun,” pikirnya pula, “hutan itu akan dibuka orang juga. Dan, darinya timbul satu ancaman pada ketenteraman hidup. Karena setiap kerajaan marga merasakan sama-sama berhak atas hutan yang kecil itu.”

“Tio, kau sudah tidur?” tanyanya. Tidak ada sahutan. “Ah,” pikirnya, “Tio sudah tidur.”

Dan, dia masih belum bisa memejamkan mata. Pikirannya terus berbicara dan bercerita dan mereka-reka bentuk masa datang. Dia tidak tahu pasti, kapan dia jatuh tertidur. Kokok ayam hutan membangunkan mereka. Cepat Ronggur turun dari dahan. Begitu pula Tio. Setelah meregangkan tubuh beberapa saat, menguapkan mulut. “Enak tidurmu malam tadi?” tanya Ronggur.

Tio hanya menundukkan kepala. Sekitar masih remang. Masih pagi benar. Tapi, bila mereka pergi ke pinggir hutan, tahulah mereka bahwa matahari sebenarnya sudah muncul di atas pundak Dolok Simanuk-manuk yang dapat mereka tatap dari mulut teluk. Dedaunan yang rimbun menghalangi sinar matahari jatuh menimpa wajah mereka. Cepat-cepat Ronggur mengajak Tio mendekat ke parit yang dikatakannya semalam. Perlahan-lahan mereka mendekat, seolah-olah tidak menimbulkan bunyi. Walau melalui ranting-ranting kering yang berserakan di atas tanah.

Ronggur menunjukkan sekumpulan pelanduk yang sedang minum dan bermain-main di parit kecil itu.

“Lihat,” bisik Ronggur. “Bidiklah yang sebelah sana, yang kepalanya berbelang putih. Aku membidik yang kakinya berbelang.”

Tio mengiakan dengan anggukan. Bersama mereka mengayunkan tombak yang cepat melayang. Lalu, tertancap ke sasaran. Karena terkejut, pelanduk lain melarikan diri. Sedang pelanduk yang dikenai tombak melengking dan berusaha melarikan diri beberapa jauh, membawa luka di tubuh yang mengucurkan darah. Untuk itu, si belang cepat bangkit dan mengadakan pengejaran. Digigitnya kaki pelanduk itu sampai tidak berdaya. Sampai rubuh ke tanah. Kemudian si belang menggonggong, mewartakan kepada tuannya di mana pelanduk tergeletak.

Ronggur dan Tio cepat mendekat. Mereka kuliti binatang itu. Dagingnya mereka potong tipis-tipis. Mereka jemur di atas batu yang langsung menampung sinar matahari penuh tanpa dihalangi dedaunan. Sehari itu, si belang disuruh menjaga agar tidak dicuri burung gagak.

Rongur memilih dinding jurang yang baik digali untuk membuat lubang perlindungan, tidak jauh dari parit kecil agar mudah mengambil air. Berdua mereka menggali. Mulut lubang dibuat besar, hingga bisa masuk dengan leluasa. Sedang ruang dalam agak luas. Mereka bisa menyangkutkan ulos-batak sebagai batas tempat tidur masing-masing. Sampai jauh malam mereka mengerjakan lubang itu. Peralatan mereka simpan di sana. Begitu pula dengan daging hasil pemburuan tadi pagi yang harus dijemur besok harinya, karena belum cukup kering untuk disimpan.

Mereka gembira karena sudah memperoleh daging yang dibutuhkan dan sudah punya lubang perlindungan. Ronggur bisa tidur nyenyak malam itu, begitu pula Tio. Di mulut lubang si belang tidur-tiduran. Seperti menjaga kemungkinan adanya gangguan binatang buas.

Pagi itu, Ronggur melanjutkan mencari kayu. Dia menyuruk-nyuruk di bawah rerantingan, menyibak rerumputan yang terkadang berduri dan melukai tubuhnya dengan garis¬garis kecil. Tapi sudah dapat menitikkan darah untuk kemudian membeku

Agak jauh di tengah hutan, baru ditemui pohon yang dicari. Besar batang pohon, tiga kali pelukannya. Panjang batang pohon yang tegak lurus, sekira tiga depa. Diperiksanya batang pohon itu baik-baik, hingga dia yakin bahwa pohon itu sudah cukup tua. Dikulitinya batang pohon sekira sejengkal, lalu tampak kayu yang sudah berminyak. Kemudian dipanjatnya. Diperiksa, apakah tidak terlalu banyak mata kayunya. Tahulah dia bahwa kayu itu cukup baik dijadikan perahu. Langsung saja Ronggur mulai mendahaninya, agar waktu tumbang nanti

tidak menyangkut pada pepohonan lain yang bisa menimbulkan cacat pada pohon itu. Tanah di sekitar pohon itu dibersihkan.

Sesudah selesai menjemur daging hasil buruan semalam dan menyuruh si belang menjaga, Tio langsung menebang aren yang sudah tua. Batangnya dibelah. Umbi aren diasingkan untuk ditumbuk, kemudian direndam dengan air, lalu ditapis untuk diasingkan tepungnya Yang baik, dimakan pengganti beras. Belahan pohon aren dijemur di bawah terik matahari, di tanah yang tidak terlindung. Ijuknya cepat berlepasan satu sama lain bila pohonnya sudah kering. Ijuk yang berlepasan itu bisa dipintal menjadi tali yang cukup kuat.

 

Begitulah mereka saling mengerjakan tugas masing¬masing. Bila daging sudah mulai habis, kembali mereka mengadakan pemburuan. Sedang persediaan beras tampaknya tidak berkurang-kurang karena persediaan tepung umbi aren.

Dari dedahanan kayu yang ditebang Ronggur, yang panjang lagi kurus, dua tiga biji dipilihnya untuk dijadikan galah. Katanya sekali waktu pada Tio, galah itu sangat diperlukan dalam melayari sungai. Bila air sungai tidak berapa dalam bisa digunakan membantu jalannya perahu, dengan mencucukkan galah ke dasar sungai lalu menyorongkan. Atau, mendorongkan perahu yang mau terhempas ke tepian berbatu dengan menjolokkan galah ke pinggir sungai berbatu.

Dua biji lagi kayu yang tidak berapa besar ditebang Ronggur. Batang pohon itu dipotong. Ujungnya dilancipkan kemudian dipacakkan ke tanah. Bersilangan.

Persilangan itu diikat dengan rotan kuat-kuat. Dibuatnya pula pacakan begitu dua lagi. Sedang batang pohon maranti batu yang sudah tumbang itu, diukurnya. Tepat sepanjang yang diperlukannya. Lebihnya dibuang. Dengan dibantu Tio, Ronggur menaikkan batang pohon maranti batu itu ke atas

pacakan yang berupa galangan itu. Di sana batang pohon itu dikulitinya, ditelanjangi.

 

Di atas pacakan itu Ronggur mulai membuat perahu. Di atas pacakan, batang pohon itu bisa dibalik-balikkan. Ronggur harus hati-hati memilih, bagian batang mana yang harus dijadikan dasar perahu. Dari sebelah mana harus dimulai penukilan membentuk semacam lobang di batang kayu itu. Dia harus memilih dasar perahu yang terbuat dari bagian batang yang tidak banyak mata kayunya. Mata kayu biasanya mudah lepas dari kesatuan kayu dan bila sudah lepas, perahu akan bocor.

Bentuk lobang yang dibuat Ronggur di batang kayu itu, yang nanti menjadi tempat pemenumpang, pada bagian hulu dan buritan tidak berapa dalam. Tapi, di bagian perut lebih dalam dan luas. Setelah bentuk lobang itu agak nyata, Ronggur beralih pula menukil bagian luar. Membentuk semacam dinding yang baik, mengambil tuntutan dari bagian dalam perahu. Dasarnya sengaja diperluas.

Bila dasar perahu dan dinding perahu bertambah terbentuk, kapak tidak berapa dipergunakan Ronggur lagi. Dikeluarkannya tuhil, alat yang yang terbuat dari batu yang tajam muncungnya. Dengan tuhil Ronggur melanjutkan membentuk lobang atau memperhalus bekas makanan kampak. Tuhil itu ditancapkan lebih dulu, kemudian hulunya diketok perlahan. Dia harus memperhatikan benar, berhati-hati, agar dinding perahu tidak terlalu tipis lalu mudah pecah.

Begitu pula dasarnya. Tapi, tidak pula boleh terlalu tebal. Agar perahu tidak berat atau agar daya apung perahu cukup baik dan punya keseimbangan. Karena itu, tebal kedua sisi dinding perahu, diusahakan agar sama. Pada bagian buritan dan hulu perahu, dipahatnya semacam ukiran, menggambarkan kepala harimau. Satu menghadap ke depan, satu lagi menghadap ke belakang. Langsung bersatu dengan tubuh perahu.

Buritan dan hulu perahu, dindingnya tebal dibuat di sana, justru karena di buritan dan di hulu perahulah terletak tenaga sesuatu perahu tersimpan. Bila buritan dan hulu perahu retak atau pecah, sendirinya saja bagian perut perahu akan pecah.

Waktu saat memintal ijuk tiba, setelah pohon aren yang tua habis ditumbangkan Tio di tempat itu, tahulah Tio, betapa susahnya memintal ijuk pohon aren. Ijuk yang keras sering menusuk kulit telapak tangan, sehingga bisa mengucurkan darah. Kulit telapak tangan berlecetan di sana-sini. Kemudian melahirkan kulit baru yang lebih tebal dan lebih tahan menghadapi ijuk. Tapi, kasar.

Alat pemintal, ialah dua potong kayu sebesar pergelangan tangan. Dibuat bersilang. Kayu bersilang itu diputarkan pada tumpukan ijuk yang dicerai-beraikan. Dan, sudah kering sehingga ijuk mengikut pada putaran kayu itu. Ijuk yang mengikut itu, yang diusahakan sebesar yang dikehendaki dan sudah cukup panjang diikatkan pada pepohonan yang ada di sekitarnya. Lalu dimulainya memutar-mutarkan kayu bersilang tadi ke tumpukan ijuk. Ijuk yang memanjang, yang sudah dua jalur itu, disatukan. Dipilin tangan demikian rupa sehingga berbentuk tali yang jalin-menjalin, hitam, dan kokoh. Tahan air. Tahan panasmatahari, asal saja jangan dibakar api.

Tio harus mencari pohon aren baru untuk ditebang. Dia harus menyusur lebih ke hulu parit lagi. Pohon aren yang setumpuk itu sudah pada tumbang. Dan, ijuknya sudah dipintal menjadi tali. Tapi, Ronggur mengatakan tali yang dipintalnya masih kurang banyak. Karena itu, dia harus mencari pohon aren lagi. Menebang. Membelahnya. Menjemur. Menyisihkan umbinya. Merendam ke air. Menapis agar diperoleh tepungnya. Bila batang aren sudah kering, melepaskan ijuknya dari batangnya. Mencerai-beraikan. Kemudian memintalnya menjadi tali.

Tio menyuruki rimbunan kekayuan yang agak rendah, mencari pohon aren. Dari jauh sudah terlihat daun aren yang panjang itu. Ke sana dia menuju.

Setiba di bawah pohon aren itu, betapa gembira dia karena dia menemui sarang babi hutan. Anak babi hutan lima ekor, matanya masih sipit. Dielusnya perlahan tubuh anak babi yang masih lembut. Yang masih punya bulu begitu halus dan menggelikan telapak tangan.

Tiba-tiba dia sadar bahwa menemui sarang babi hutan yang mempunyai anak yang masih kecil, juga mengandung mara bahaya yang mengancam di samping kegembiraan. Induk babi yang baru melahirkan dan masih menyusukan tentu cukup galak dan tetap diiringi jantannya.

Waktu dia berpaling, didengarnya dengusan babi dari semak yang ada di atasnya. Sadarlah dia, itu dengusan induk babi. Dilihatnya keadaan sekitar, tidak menguntungkan. Tidak ada batang kayu yang dekat yang bisa dipanjat untuk menghindar bila babi itu menyerang. Sebelah kanannya, jalan tikus yang sempit. Sebelah kedua sisinya, belukar. Dari depannya, suara dengusan babi.

Tapi, masih ada semacam dinding tanah sebelum menembus ke jalan tikus itu. Bila dia mundur ke sana dan mengadakan pertahanan, yang harus dihadapinya hanyalah satu arah saja, yaitu depannya. Padahal babi hanya bisa menyerang dari satu arah. Dengusan napas babi tambah mendekat.

Dibulatkannya tekad, dia harus menghadapi segala kemungkinan. Dia harus menghadapi serangan babi itu. Jalan menyingkir sudah tidak ada. Walau dia tahu seekor babi hutan tidak akan terus jatuh ketika pukulan pertama mengenai tubuh atau kepalanya. Babi itu akan menyeruduk maju ke depan, menyerang sampai mangsanya terjepit. Muncungnya yang panjang kemudian akan ditusukkan ke bagian tubuh yang lunak. Dan, bila babi jantan itu sudah bertaring,

taringnya akan digunakan mencabik-cabik daging mangsanya. Menggigil juga dia.

Sambil mundur perlahan, matanya tetap awas dan terus diarahkan ke sumber dengusan. Tapi, pikirannya masih dapat mengingat bahwa bila babi menyerang selalu membabi buta. Langsung saja menyergap ke depan tanpa rem. Dalam saat begitu, seseorang yang lincah dan tidak gugup, dengan meloncat ke kiri atau ke kanan, bisa mengelak serangan. Bisa mengelak serangan babi sambil menggunakan kesempatan itu menghantamkan panggada atau kampak yang ada di tangan.

Tiba-tiba si belang menggonggong. Begitu nyaring suaranya. Taringnya ditunjukkan, putih tajam dan kukuh. Dalam hati, Tio mengharap Ronggur dapat mendengar dan mengerti maksud gonggongan si belang. Dua ekor babi sekaligus sudah berada di hadapannya, di tempat terbuka yang sempit.

Seekor dari babi itu sudah bertaring, yang jantan. Mata kedua babi itu merah menyala. Keduanya mengais-ngais tanah, bergaya, mengambil ancang-ancang memulai serangan. Tio terus mundur sampai mendekat ke satu sudut tanah tinggi yang keras. Matanya terus awas, mengikuti sikap dan gerak-gerik babi yang dua ekor itu. Bila babi menyeruduk maju tanpa rem, di saat dia harus melompat ke kiri atau ke kanan, dia harus terus cepat pula mengayunkan kampak yang ada di tangannya, sambil harus terus awas menantikan serangan babi yang seekor lagi.

Si belang masih terus menggonggong dengan nyaring dan bersikap menanti. Karena itu, babi itu belum menyerang. Gonggong si belang cepat berhenti karena babi jantan menyerang si belang. Si belang melompat ke samping. Babi jantan terdorong ke depan. Si belang cepat melompat ke punggung babi itu. Si belang sudah berada di punggung babi.

Tapi, sebelum si belang memperoleh posisi yang baik, babi itu masih sempat mempergunakan taringnya sehingga leher si

belang kena dan mengeluarkan darah. Tapi, si belang tidak lagi melepaskan pundak babi jantan itu. Taringnya yang tajam dan kukuh ditancapkan ke bagian punggung leher babi. Babi itu menggelepar dan berlari dengan berputar untuk menjatuhkan si belang dari pundaknya. Namun si belang tidak melepaskan gigitannya lagi. Darah babi muncrat. Namun, belum ada pertanda babi itu mau mengalah. Akhirnya, babi itu berlari ke satu batang pohon yang besar, mendorongkan pundaknya agar si belang terjepit. Dengan kaki belakangnya, si belang menahan dorongan itu. Taringnya tambah dalam ditancapkan ke daging babi.

Babi betina melihat babi jantan dalam keadaan payah mulai mengambil ancang-ancang akan menyerang. Waktu itu, secepat kilat tangan Tio mengayunkan kampak, berusaha menghantamkan ke bagian punggung leher babi. Tapi, yang kena bagian punggung belakang saja.

 

Babi itu cepat berpaling. Panggada yang ada di tangan Tio diayunkan beruntun, menghantam kepala babi itu. Tapi, babi itu terus maju mendorong, mendesak Tio ke sisi tanah tinggi. Terkadang didorong ke rimbunan lalang yang ada di sekitar. Tio tetap berusaha menjaga arah mundur. Tapi, justru karena serangan babi itu yang terkadang berubah arah, sekali waktu dia tergelincir juga. Dia tersandar ke pohon aren yang berduri tajam. Duri pohon aren menusuk punggungnya. Terasa sakit.

Cepat babi itu mundur ke belakang dan cepat pula melompat ke depan bermaksud menjepit Tio ke batang pohon aren. Tapi, secepat itu pula Tio mengelak. Namun, betisnya sempat disambar babi dengan muncungnya. Luka menggaris, darah mengucur.

Tio memperbaiki posisi sambil menghantamkan panggada ke sana ke mari, menghalangi jalan maju babi itu. Sekarang, Tio sudah bersandar ke dinding tanah tinggi yang keras. Kembali babi itu mengambil ancang-ancang mundur beberapa

langkah. Tio berhenti mengayunkan panggada. Seperti melengah.

Dan, saat ini dipergunakan babi dengan menyeruduk cepat ke depan. Saat genting. Dan, Tio cepat mengelak ke samping. Kepala babi terhantam ke dinding tanah tinggi yang keras. Kampak yang tadi tertancap di pundak babi menjadi lepas. Cepat dipungut Tio, lalu menghantamkan kampak ke leher babi yang belum sempat berpaling. Akhirnya babi itu tidak berdaya sama sekali. Tergeletak di tanah dengan mata yang masih memancarkan sinar kemarahan.

Kaki belakang si belang semakin lemah menahan dorongan babi jantan. Pantatnya sudah mulai kena ke batang pohon. Tio masih begitu payah. Napasnya satu-satu dan tubuhnya mandi keringat. Betisnya terasa pedih mengucur darah. Hingga dia untuk beberapa saat tinggal melihat saja. Napasnya tersengal. Urat sarafnya begitu tergoncang.

Dan, secara perlahan diketahuinya, si belang sedang berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan bersamaan dengan mengendornya urat saraf itu. Bersikap mengayun kampak, Tio maju perlahan. Tapi, waktu itulah sebuah tombak yang sudah cukup dikenalnya tertancap ke perut babi.

Ronggur telah ada di sana dengan tubuh berkeringat. Matanya menyala marah. Ototnya mengencang. Ujung tombak satu lagi dipegang Ronggur kuat-kuat, hingga mata tombak tambah dalam tertanam ke perut babi. Kemudian Ronggur memerintahkan agar si belang melompat dari pundak babi. Begitu si belang melompat menjauh, secepat itu pundak babi dihantam Ronggur dengan kampak. Babi itu akhirnya rubuh ke tanah. Tergeletak di tanah dengan gelepar lemah.

Ronggur melihat Tio terduduk di tanah dengan napas tersengal. Di dekat seekor babi betina yang terkapar. Si belang masih menggonggong babi yang tidak berdaya itu dengan moncong berlumur merah darah babi. Tapi, lehernya luka kena taring babi.

Dengan senyum, Ronggur mendekati Tio. Lalu tahulah dia, betis Tio luka, punggungnya bergaris-garis bekas tusukan duri.

Tanpa diminta Ronggur, Tio terus saja menceritakan mula perkelahian dengan babi itu.

“Kau telah mengadakan perlawanan yang cukup berani dan berarti. Di saat kita kehabisan daging, di situ pula kau merubuhkan babi yang dagingnya enak. Tapi, lukamu perlu cepat diobati. Begitu juga luka si belang,” ucap Ronggur.

Tio masih tetap terduduk. Masih merasa capek. Dan, merasa malu dia dilihat Ronggur dalam kepayahan.

Ronggur mengangkat dagunya perlahan. Mata mereka bertemu. Ronggur kembali menghadiahkan senyum. Hanya begitu.

Cepat Ronggur menjauh. Mencari dedaunan untuk ramuan mengobati luka Tio dan si belang. Ramuan dedaunan itu dilekatkannya ke luka Tio dan si belang. Seketika terasa mulut luka itu perih hingga Tio harus menjerit kecil, sedang si belang melengking perlahan. Ronggur mengelus punggung si belang agar tabah, sedang padaTio dihadiahkan senyum manis.

“Tidak berapa lama akan tidak terasa apa-apa. Lukamu akan cepat sembuh. Ramuan itu membunuh bisa. Lagi pula lukamu tidak berapa dalam, juga luka si belang.”

Cepat Ronggur menghidupkan api. Kedua ekor babi itu dibakar sampai kulitnya hangus. Kemudian isi perut babi itu dibuang. Baru kemudian daging babi itu dipotong kecil-kecil. Dijemur di panas matahari supaya kering dan tahan disimpan. Sedang anak babi yang lima ekor itu akan mereka bawa pulang ke kampung, dipelihara menjadi babi peliharaan yang jinak. Tio menjalin rotan, membuat sarang babi yang sekaligus menjadi kurungan bagi anak babi itu.

Malam harinya, mereka lanjutkan memanggang daging babi itu dalam gua. Sepotong paha diberikan kepada si belang

sebagai hadiah, la asik menyabik-nyabiknya di mulut lobang perlindungan.

Perahu yang dikerjakan Ronggur tambah berbentuk dan mulai mengarah ke tarap penyelesaian. Tali yang dipintal Tio sudah beberapa depa dan sudah ada lima gulungan besar yang selesai. Kulit binatang buruan sudah pada mengering. Hendak mereka bawa pulang. Begitu pula anak babi yang lima ekor itu sudah punya bulu yang agak kasar, matanya sudah terbuka, dan jinak. Bila Tio bermain dengan anak babi itu, tidak diingatnya lagi betapa perasaannya waktu menghadapi kedua ekor induk binatang itu.

Sedang luka di betisnya sudah sembuh, hanya tinggal bekas kecil saja. Begitu pula luka di leher si belang, tinggal segaris saja, tapi tidak, ditumbuhi bulu lagi.

Ronggur sudah selesai menghaluskan bekas tuhilannya. Pada penglihatan mata, kedua sisi dinding perahu, begitu pula perbandingan berat hulu perahu dan buritan perahu, sudah sama. Perahu yang cukup besar yang bisa memuat tujuh orang penumpang bersama peralatan. Dengan tali yang dipintal Tio, Ronggur mengikat perahu itu pada hulunya. Batang pohon maranti batu yang dulu begitu berat, sekarang sudah ringan. Ronggur dan Tio menurunkan perahu itu dari galangan.

Kemudian mereka menarik tali itu dan terseretlah perahu. Di dalam perahu, semua peralatan bersama kelima anak babi dimuat. Karena jalanan menurun dan dedaunan membusuk di lapisan tanah, mereka tidak menakutkan dasar perahu bolong dibuat batu. Tanah begitu lembut dan berair. Si belang mengikut dan menggonggong. Mereka langsung menuju tepian danau yang ada di mulut teluk, jadi, mereka tidak pulang melalui jalan darat.

Setiba di tepi danau, Ronggur dan Tio mengosongkan perahu. Mereka harus menguji keseimbangan perahu dulu dengan mengapungkan di permukaan danau. Dan, tahulah

dia, apa yang bagi penglihatan mata sudah punya keseimbangan yang sama, setelah diuji masih mempunyai perbedaan. Haluan perahu terlalu berat. Walaupun Ronggur sudah duduk di buritan perahu, haluan itu masih bergaya mau tenggelam. Perahu yang begitu rupa, tidak baik dibawa berlayar.

Ronggur menipiskan bahagian haluan lagi. Membuang bagian yang tidak berguna. Setelah itu selesai, perahu kembali diapungkan. Tahu pulalah dia bahwa bagian sisi kanan perahu, lebih berat dari sisi kiri, sehingga perahu selalu oleng ke kanan. Kembali perahu didaratkan. Sisi kanan perahu harus lebih direndahkan dan ditipiskan pada bahagiannya yang masih tebal. Sampai tercapai keseimbangan. Jadi, mereka harus bermalam lagi untuk beberapa malam di tepi danau, sebelum perahu rampung benar. Juga mata kayu yang ada di dasar perahu yang tidak dapat dielakkan sejak mula, ternyata dapat ditembus air. Ronggur lalu merekatnya dengan getah pohon damar.

Bila keseimbangan perahu telah diperoleh, kembali segala peralatan dimuat ke dalam perahu, bersama kelima ekor anak babi itu, juga si belang. Mereka menuju pulang.

Mereka berkayuh dan berkayuh. Karena dasar perahu agak luas terasa pendayungan agak berat. Tapi, tidak dihiraukan.

Senja hari. Tari warna bermain di riak danau. Ronggur mencampakkan pandang jauh, ke teluk di mana bermula Sungai Titian Dewata sudah ada. Tapi, bagi Tio sendiri setelah mengayuh perahu di permukaan danau, kembali dia teringat bahwa saat berpisah dengan Ronggur sudah semakin dekat. Apakah Ronggur akan kembali lagi? Walau dia tahu bahwa sesuatu ancaman sedang menanti Ronggur, namun dia masih mengharapkan, hendaknya Ronggur dapat kembali dengan selamat.

Bila lekuk teluk telah dilewati, mereka telah berada di danau bebas, malam sudah melingkup segala. Ronggur

menyuruh Tio agar duduk di haluan perahu, memperhatikan jalan, apakah ada perahu lain yang bersilangan dengan mereka. Sepanjang malam mereka terus berkayuh di permukaan danau yang tenang dan tidur. Bintang gemerlapan di langit. Bulan mencurah cahaya. Permukaan danau kembali memantulkannya ke langit. Suasana yang romantis.

Tapi, antara mereka berdua, kebisuan yang meraja. Tio lebih banyak diam dan tenggelam ke dasar perasaannya: bagaimana kelak kalau Ronggur sudah berangkat? Apakah orang masih memperlakukannya dengan baik? Sedang Ronggur diamuk satu kepercayaan bahwa dia akan menaklukkan Sungai Titian Dewata bahwa dia yakin, Sungai Titian Dewata akan membawanya ke tanah landai lagi subur. Tanah yang diimpikan setiap orang.

Bertambah larut malam, secara berangsur, perlahan, bulan semakin mengundurkan diri. Maka sekitar diselubungi kegelapan. Tapi, kemudian di ufuk timur, menggaris cahaya putih. Subuh baru telah lahir bersamanya lahir hari baru dengan harapan baru. Sinar matahari telah meng-kuakkan tabir kegelapan, maka terhamparlah depan mereka persawahan yang bermula dari tepian danau, berakhir pada kaki pegunungan batu.

“Tio, padi telah menguning di sawah. Kita tidak punya waktu mengasuh lagi. Harus terus turun ke sawah memotong padi,” kata Ronggur.

“Ya, aku tahu.”

“Dan, sehabis memotong padi, saatku berangkat tiba. Mardege, ada baiknya diserahkan saja pada orang lain. Aku tidak bisa lagi berlama-lama mengundurkan saat keberangkatanku.”

Tio hanya menundukkan kepala.

Perahu terus dikayuh. Menari bersama riak danau. Bila gelombang membesar, Ronggur tinggal tersenyum karena

gelombang danau tidak dapat mengolengkan perahunya. Dan, serpihan air yang dilemparkan ombak tidak dapat memasuki perahu.

Belum siang benar, mereka telah tiba ke tepian danau perkampungan. Orang mencampak pandang pada mereka. Para penangkap ikan melihat mereka. Ronggur belum dapat mengartikan, kenapa mereka pada membisu, tidak gembira menyambut kedatangannya bersama perahu yang dibuatnya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s