Bagian 2

Rumah baru sudah berdiri pengganti rumah yang dulu terbakar. Darah yang tercecer ke lumpur sawah sudah bercampur baur dengan tanah menjadi pupuk di musim mendatang. Tidak tampak lagi warna merahnya. Kuburan yang digali tempat abadi bagi orang yang mati, sudah ditumbuhi rerumputan hijau. Padi di sawah sudah bunting. Masa merumputi sudah lewat. Pekerjaan orang kembali senggang. Saat yang baik bagi pemuda pergi martandang ke kampung paman mencari jodoh.

Anak-anak sudah ada berlahiran, pengganti yang mati dalam peperangan. Jumlahnya lebih banyak malah. Para gadis belajar memintal benang dan bertenun. Bila bulan purnama, menumbuk padi di halaman perkampungan sambil bernyanyi, dan menerima datangnya partandang. Anak lelaki diajar membaca dan menulis huruf Batak. Cerita kepahlawanan disampaikan pada mereka. Juga mereka diajari memanjat pepohonan tinggi supaya tidak gamang. Yang agak besar, diajari menggunakan senjata.

Lambat-laun kehidupan kembali tenang. Yang membuat ingatan orang sudah menipis pada peperangan yang baru lewat. Tapi, pada mereka sampai juga berita dari sekitar danau: marga anu berperang dengan marga satu lagi. Lu hak anu berperang dengan luhak satu lagi. Sumber malapetaka tetap sama: air parit dan batas tanah. Orang yang kalah dijadikan budak. Tapi, yang sempat melarikan diri, memencilkan diri ke tanah tandus di kaki bukit, menjadi orang

buruan. Orang buruan ini membuat rumahnya di dinding bukit dan gua.

Jadi, bagi Ronggur, ketenangan yang sekarang dikecap marganya masih tetap mengandung sesuatu kemungkinan yang menakutkan. Setiap warta pecahnya perang antara satu marga dengan marga lain selalu membuatnya berduka. Karena itu, dia lebih banyak menyendiri. Bila temannya sebaya sudah banyak berumah tangga, dia belum. Walau sudah sering diminta ibunya, dia masih tetap menampik.

Perlakuannya pada wanita tawanannya berbeda dengan perlakuan orang lain yang punya budak terhadap budak masing-masing. Dia masih tetap memandang dan memperlakukannya sebagai manusia yang punya hak. Tapi, keyakinan yang digenggamnya ini belum berani dia menyampaikannya pada orang lain. Masih merasa takut dia, masih merasa kecil dia menurut anggapannya, melawan tradisi yang sudah tertanam dan berurat akar di hati manusia yang ada di sekitarnya.

Karena memperoleh perlakuan yang baik itu, akhirnya Tio, wanita tawanan itu, merasa senang juga. Padanya tetap diberikan Ronggur kebebasan bergerak. Dia boleh pergi ke padang-padang luas, mengembara, dan berburu bersama anjingnya si belang. Tak ubah seperti kebebasan yang ada pada orang merdeka.

Dan, Ronggur tidak merasa kuatir kalau budaknya itu melarikan diri. Dia yakin kalau memperoleh perlakuan yang baik budak itu tidak akan melarikan diri.

Namun perasaan terpencil tetap menguasai diri Tio, justru karena gadis yang sebaya dengannya dari suku Ronggur tidak mengawaninya. Ini jugalah yang mendesaknya agar setiap hari pergi jauh dari kampung ke tempat terpencil yang jarang dikunjungi orang. Di sana dia menghabiskan hari.

Tio menyendiri sampai ke kaki bukit. Dari situ dia dapat melihat danau di bawah. Dan, sesuatu keinginan selalu timbul di dadanya, ingin pergi jauh. Namun keluh akhirnya mematikan keinginan itu. Dia dibenturkan kembali pada kenyataan bahwa dia bukan orang merdeka. Kalau lari saja? Ronggur sudah berbuat baik terhadapnya. Merasa kurang enak baginya untuk menghianati seseorang yang menghormati dirinya’dengan sewajarnya. Lagi pula kalau dia lari, Ronggur lelaki yang paling jahanam, akan mengejarnya ke mana saja. Dia akan dapat ditangkap Ronggur.

Berburu bisa membuat Tio asyik. Atas bantuan si belang, Tio dapat mengetahui tempat seekor pelanduk bersembunyi, tempat kawanan burung berondok. Dengan mata tombaknya yang pasti arahnya, dengan lemparan ambalanganya yang deras, dia bisa membunuh binatang buruan itu. Kemudian membawanya pulang.

Ronggur selalu tertawa lebar bila dia pulang dengan hasil buruan. Ronggur tidak segan-segan melemparkan pujian yang menurut perasaan Tio terkadang terlalu menyanjung. Dengan lahap Ronggur akan memakan daging binatang buruan itu, yang dibakar dan dipanggang.

Hari itu, Tio sedang mengikuti arah seekor elang terbang, setelah menyambar seekor induk ayam dari kampung. Terkadang harus berlari kecil mengikuti elang yang terbang di atas. Matanya terus-menerus menangkap elang hitam yang terbang, lalu terus mengikuti arah elang itu pergi. Di hatinya timbul niat, dia harus membunuh elang yang seekor itu, yang sudah banyak menyambar ayam kampung. Pertanda elang itu akan hinggap belum ada walau mendekat ke kaki bukit. Seolah elang itu datang dari balik gunung dan hendak kembali ke balik gunung, yang belum pernah ditempuh manusia.

Di saat putus asa mulai mencekam hati, elang itu mengadakan putaran. Berkeliling pada satu lingkaran. Pertanda elang itu mau hinggap. Dapat dipastikan Tio bahwa

pohon yang tinggi lagi rimbun dedaunannya, pada salah satu dahannya, di situlah sarang elang itu. Elang itu mengarah ke lembah, di mana batang pohon besar itu tertancap ke tanah. Tio terus mendekat menuruni jenjang lembah.

Si belang sudah mengerti bahwa mereka sedang mengadakan perburuan. Elang itu cepat menukik ke bawah setelah mengadakan putaran entah beberapa lama. Dan, waktu itulah, kepaknya mengenai salah satu dahan, sambarannya jatuh ke tanah. Elang itu mengikutkan sambarannya ke bawah. Saat yang baik itu tidak dilewatkan Tio. Cepat dia mengayun ambalangnya. Lalu melepaskan peluru. Seketika napasnya serasa terhenti melihat peluru ambalangnya mengenai sasaran atau tidak.

Sayang sekali peluru ambalangnya hanya mengenai buntut elang. Karena terkejut elang itu buru-buru mengepakkan sayapnya. Mau terbang. Tapi, dari arah lain sebuah tombak terbang cepat. Langsung tertancap ke dada elang. Elang itu jatuh ke tanah bersama gelepar lemah, gelepar akhir. Wajah Tio menjadi merah padam dan merasa kesal bercampur malu, kenapa peluru ambalangnya tidak mengenai dada elang jtu. Atau, kenapa dia tidak menggunakan tombaknya? Sebuah tawa meledak di antara rimbunan ilalang. Si belang berlari cepat ke tempat suara itu bersumber. Lalu, Ronggur sudah ada di hadapanTio.

Bersama senyum kemenangan, Ronggur berkata: “Sudah mampus penyambar ayam yang paling jahanam ini.”

Tio masih terpaku pada tempatnya. Merasa malu akan ketololannya. Ronggur memanggilnya agar datang mendekat. Baru dia bergerak.

“Lihat,” kata Ronggur. “Muncung tombakku tertancap di dadanya.”

“Aku tahu, Hulubalang Muda,” sahut Tio. Suaranya halus dan menggetar.

Ronggur menatapi Tio lama-lama hingga Tio menundukkan kepala menatap tanah.

“Tapi, peluru ambalangmu sangat deras dan bagus arahnya. Buntut elang kena membuat elang tidak bisa cepat terbang. Di saat itulah aku mengayunkan tombakku. Kalau buntutnya tidak kena ambalangmu, belum tentu muncung tombakku bisa tertancap di dadanya.”

“Hulubalang Muda terlalu melebih-lebihkannya,” sahutTio.

“Itu yang sebenarnya. Dan, kau Tio,” mata Ronggur lama menatap wajah gadis itu, matanya, lalu, “maukah kau berjanji akan melaksanakan permintaanku?”

“Aku sudah ditakdirkan akan melaksanakan sebaik mungkin segala perintah Hulubalang Muda.”

“Dengarkan baik-baik,” kata Ronggur seraya memegang bahu anak gadis itu, “sejak saat ini kuminta, agar kau tidak memanggil aku dengan sebutan Hulubalang Muda atau Raja Ni Huta Muda lagi. Sebutlah namaku. Ronggur. Cukup begitu.”

Pundak Tio cepat turun naik, tapi masih diusahakannya mengatakan, “Bukankah itu menurunkan derajat Hulubalang Muda?”

“Sama sekali tidak! Kau harus melaksanakannya!”

“Bagaimana nanti kalau didengar orang kampung dan ibu?”

“Peduli apa dengan mereka? Sebut namaku, habis perkara. Kalau mereka menegur kau, katakan aku yang menyuruhmu. Yang mengurus mereka ialah aku.”

Tio tambah tertunduk. Wajahnya memerah. Ronggur menjauh. Walau sesuatu rasa menggelusak dalam dada.

Si belang sudah memagut tubuh elang dengan muncungnya. Membawanya ke dekat mereka berdua. Si belang kembali menjauh. Lalu, si belang memagut ayam yang

disambar elang tadi dan membawanya ke dekat Ronggur dan Tio. Lalu, menjauh lagi.

“Tio, keluarkanlah isi perut elang dan ayam ini. Biar kunyalakan api. Dagingnya tentu enak dimakan.”

Tio berlari kecil membawa elang dan ayam itu ke parit kecil dekat situ yang mengalirkan air pegunungan yang jernih. Dibersihkannya perut kedua binatang itu. Kemudian dibawanya ke tempat Ronggur menghidupkan api. Lalu, mulai membakarnya lengkap bersama bulu-bulunya.

Ronggur menelentangkan tubuh di atas tanah batu yang cukup keras, di bawah pohon yang rindang. Perutnya terasa kenyang. Si belang masih mengunyah tulang belulang elang dan ayam yang diberikan kepadanya. Mata Ronggur agak mengantuk. Matahari bersinar keras. Cukup terik. Tidak jauh darinya, Tio duduk melihat si belang. Yang kemudian mendekat kepadanya sambil mengibaskan ekor. Tidur di ujung kakinya. Tio mengelus leher si belang dengan lembut. Lalu, mulutnya tidak dapat lagi dikuasainya untuk tidak menyanyikan sebuah lagu, berpantun:

Sanduduk di kaki bukit

di atas batu

ditimpa sinar matahari

itulah siang melilit bumi

sanduduk di kaki bukit

di atas batu

ditimpa sinar rembulan itulah malam, redup mengalun

saat siang dan malam

antara terik dan nyaman

mentari dan gemintang

bagi beta tidak berbeda

karena hatiku

terkenang padamu

Ronggur membiarkan Tio menyanyi walau hatinya merasa rawan. Tentu, pikir Ronggur, Tio teringat pada masa kemerdekaannya. Matahari tambah lama jadi melemah. Di bawah mereka melalui tingkat tanah yang terus menurun, perkampungan demi perkampungan dan berakhir pada tepian danau.

Oleh nyanyi Tio kembali Ronggur teringat akan permintaan ibunya, begitu pula atas usul Raja Panggonggom, agar dia berumah tangga. Agar langsung memegang Raja Ni Huta di kampungnya, agar nama Muda dari belakang Hulubalangnya dihilangkan. Dia disuruh ibunya pergi ke Samosir, ke kampung paman.

Tetapi, cepat pula ingatan itu dibarengi bahwa kalau dia berumah tangga, itu berarti istrinya nanti akan melahirkan anak. Kemudian anak ini akan menjadi dewasa, lalu kawin lagi. Untuk melahirkan anak lagi. Dalam tiga keturunan saja, jumlah keturunannya bisa berlipat ganda. Tentu hasil yang dapat diberikan tanahnya akan terasa kurang menghidupi keturunannya.

Dia merasa takut. Bila persoalan yang mencekamnya itu diluaskan pada keadaan sekitarnya dan dia tambah merasakan marabahaya yang sedang menantikan, yang mengintai dengan taringnya yang tajam, meruntuhkan kerukunan kehidupan mereka di tepi danau. Pada suatu saat, pikirnya, akan tiba saat itu, yaitu orang bertambah banyak sedangkan tanah yang dapat digarap masih tetap itu juga. Hasilnya akan terasa atau memang kurang untuk membekali orang yang hidup di sekitar

danau. Hal begitu sudah tentu akan lebih banyak mengobarkan perkelahian, peperangan, dan sendirinya pula akan lebih banyak kepiluan dan dendam bersarang di hati manusia. Dia menakutkan masa itu.

Dia selalu memikirkan, apa usaha yang dapat ditempuh untuk melenyapkan ancaman dari masa itu? Ronggur cepat bangun dari goleknya. Tio menatap ke arahnya. Ronggur menundukkan kepala. Tapi, dari mulutnya lalu meledak kata, “Tio, kenapa kau tidak belajar memintal benang dan bertenun? Kau sudah harus mengurangi kegemaranmu pergi mengembara. Kau harus belajar memintal dan bertenun, seperti gadis lain.”

Warna duka membayang di wajah Tio. Yang tidak disangka Ronggur mulanya.

“Ada yang salah?” tanya Ronggur pula.

Tio tetap terdiam dan tertunduk.

Barulah Ronggur sadar bahwa seorang gadis yang berderajat budak tidak dibolehkan belajar memintal dan bertenun. Menenun ulos-batak ialah pekerjaan para gadis yang merdeka. Perlahan-lahan, tapi pasti, Ronggur mengatakan, “Tio, kau harus belajar memintal dan bertenun Aku akan meminta izin pada Raja Panggonggom”

Pada biji mata Tio menyinar cahaya kegembiraan. Lalu, “Betul kau bolehkan aku memintal dan bertenun? Betul kau akan meminta izin pada Raja Panggonggom? Aku akan bertenun seperti gadis lain dari margamu ?”

“Ya, akan kuusahakan sampai dapat”

Karena gembira, tidak disadari Tio, dia memeluk Ronggur sambil mengatakan dengan kegembiraan. “Ah, betapa bersyukur aku. Betapa berbahagia. Aku.. aku akan menenun ulos untukmu. Ulos yang paling halus raginya. Yang paling baik campuran warnanya”

Ronggur membiarkan Tio begitu. Sampai akhirnya Tio sadar sendiri. Lalu, melepaskan pelukannya perlahan-lahan. Kembali dia dihadapkan pada kenyataan. Ronggur diam saja melihat perubahan kelakuan Tio itu. Sedang matanya dengan mesra menancap ke biji mata Tio. Tio menundukkan kepala perlahan-lahan. Begitu pula akhirnya Ronggur. Beberapa saat terdiam.

Matahari bertambah lemah sinarnya. Tidak terik lagi. Ronggur menatap ke sekitar, lalu dengan suara pasti dia mengatakan, “Tio, mari ke pundak bukit pertama. Ada yang hendak kutunjukkan padamu.”

Mereka mendaki tanjakan bukit sampai tiba ke pundak pertama. Dari sana jelas tampak oleh mereka lengkungan tepian danau. Pada salah sebuah teluk dapat diketahui Ronggur bahwa di situlah bermula sungai Titian Dewata. Telunjuknya mengarah ke teluk itu sambil mulutnya mengatakan, “Tio, di sanalah bermula sungai Titian Dewata.”

“Aku tahu,” kata Tio, “aku sudah pernah dibawa almarhum ayah dan ibu ke sana.”

“Garis putih yang membelah dada persawahan yang sedang menghijau, lalu menghilang atau seperti masuk menyusup ke perut pegunungan sebelah timur, itulah jaluran sungai. Dapat kau lihat dan perhatikan garis putih itu?” tanya Ronggur.

“Dapat.”

“Menurut cerita orang tua, sungai itu berakhir ke ujung dunia. Barang siapa yang berani melayari sungai ke muara atau berusaha mencapai muara, tidak akan kembali lagi. Karena jatuh ke tebing ujung dunia. Arwahnya akan dikutuki dewata. Tapi, sungai itu jalan arwah kita kelak, menuju tempat Mula jadi Na Bolon.”

“Tahu juga aku,” sahut Tio.

Ronggur diam seketika. Terus menatap ke arah sungai. Sedang Tio melirik ke biji mata Ronggur yang menyinarkan sesuatu arti. Ronggur mengaju tanya padanya:

“Apakah kau juga sependapat dengan mereka bahwa sungai itu berakhir di ujung dunia itu?”

“Begitulah kata mereka. Ada apa kiranya?”

“Apakah kau tidak bisa punya pendapat sendiri?”

“Apa maksudmu?”

“Apakah kau tidak sering membaca pustaka di rumah ayahmu dulu?”

“Sering. Sering sekali. Aku bisa membaca dan menulis dengan baik.”

“Menurut cerita yang ada di sana, setiap sungai menuju tanah landai dan subur.”

“Ya, memang begitu.”

“Entah bagaimana, aku berpendapat bahwa sungai itu pun akan tiba ke tanah landai yang subur, juga sudah kuselidiki dalam pustaka yang tua bahwa sungai itu tidak ada dikatakan berujung di akhir dunia.”

“Kepercayaan yang diwariskan kepada kita mengatakan, sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia. Buktinya sampai sekarang tidak ada orang yang berani melintasi daerah yang telah ditentukan, sampai ke mana bisa seseorang nelayan menangkap ikan. juga sungai ini, lain dari sungai yang lain.”

“Kalau begitu, kau pun sependapat dengan mereka.”

“Begitu menurut cerita mereka. Aku tidak dapat mengatakan yang lain. janganlah marah padaku.”

Ronggur terdiam. Keheningan mengambang di antara mereka. Tidak ada yang berkata. Angin turun, angin sore yang nyaman.

“Tapi, timbul bisikan dalam hatiku, sungai itu pun sama dengan sungai yang lain,” kata Ronggur;

“Kenapa kau beranggapan bahwa sungai inilain?” tanyaTio memecah sunyi, “apakah kau berniat hendak melayarinya membuktikan kebenaranmu?”

Tapi, Tio menjadi takut pada ucapannya itu. Dia takut kalau Ronggur benar-benar melayari sungai itu. Yang berarti bunuh diri. Dia akan tinggal di dunia ini. Dia akan jatuh ke tangan orang lain yang pasti akan memperlakukannya sebagai budak biasa. Kebebasan akan benar-benar direnggutkan orang.

“Ya, aku memang mau melayarinya,” sahut Ronggur tanpa memperhatikan wajah Tio yang menjadi pucat. “Sudah lama niat ini menguasai dadaku,” lanjutnya pula, “tapi, aku melayarinya bukan bermaksud untuk membuktikan bahwa aku berada di pihak yang benar. Aku mau berusaha mencari tanah garapan baru, daerah perluasan, tanah hubungkasan.”

“Itu berarti bunuh diri. Arwahmu akan tidak diterima dewata,” potong Tio.

Perasaan takutnya tambah mencekam. Dia mengharap dapat menggagalkan maksud Ronggur dengan ancaman begitu. Tapi, Ronggur cepat pula mengatakan:

“Dengar dulu yang kumaksud. Tahukah kau Tio bahwa tanah selingkar danau ialah tanah subur? Tahukah kau, setiap tahunnya manusia yang hidup di sini yang memerlukan tanah garapan bertambah banyak juga? Akhirnya tanah yang tadinya terasa luas, setiap tahunnya bertambah sempit. Dan, akan terus bertambah sempit. Akibatnya akan bertambah banyak pertengkaran yang memungkinkan pecahnya peperangan. Seperti perang antara margamu dengan margaku.”

Tio tertunduk. Wajahnya menjadi muram dan sedih.

“Janganlah bersedih. Aku tidak bermaksud membongkar yang sudah lewat. Tidak bermaksud aku mengingatkanmu ke saat kejatuhan margamu. Tidak! Tapi, aku mau mengatakan, karena kurasa kau dapat merasakannya, yang akan menimpa manusia yang hidup di sekitar danau di hari mendatang, bila tanah habungkasan tidak ditemui. Pertengkaran karena setapak tanah, karena setitik air parit, akan tambah banyak terjadi. Ini sudah pasti. Cobalah turut mendengar berita bahwa setelah perang antara margamu dengan margaku selesai, sudah berapa kali lagi peperangan terjadi di antara marga? Kalau tidak salah, sudah ada tiga gelombang peperangan antara marga satu dengan, marga lain. Dan, peperangan itu akan bertambah banyak lagi timbul di masa mendatang. Jadi, sebelum saat itu tiba, harus ada usaha mencari tanah habungkasan. Orang yang berani dan bertanggung jawab akan masa datang, harus mulai sekarang memulai kerja ke arah itu, merintis jalan, dengan berani menantang segala aral-melintang, berani menantang segala cerita yang bersifat menakut-nakuti. Berani menantang sesuatu yang dirasakan ialah satu kepercayaan bagi kebanyakan orang. Karena aku merasakan persoalan itu, kupikir, aku harus turut memikul bebannya, walaupun nyawaku sendiri menjadi taruhannya.”

Seketika Ronggur berhenti. Tio tidak membumbuhi cakap Ronggur yang panjang itu. Dibiarkannya Ronggur meneruskan:

“Sudah sering Tio, aku diganggu mimpi. Mimpi menghimbau aku selalu dari tempat jauh, dengan suaranya yang nyaring. Mengajak aku memulai perjalanan mengikuti sungai. Sampai ke mana dia tiba. Dalam mimpi itu selalu aku dibawanya ke suatu tempat yang teduh. Penuh pepohonan dan tanahnya begitu landai. Dan, dalam mimpi itu, aku menemui sebuah danau yang sangat luas, jauh lebih luas dari

Danau Toba yang kita kenal ini. Tanah yang kutemui dalam mimpi itu begitu gemburnya. Tidak seperti tanah di sini, tanah tipis yang menyaputi batu alam yang keras. Itu yang selalu menemani tidurku. Merangsangku di saat jaga.”

Wajah Tio bertambah pucat. Dengan suara tersengal¬sengal, dia mengatakan:

“Barangkali itu godaan setan jahat. Kau perlu berobat pada dukun. Berobatlah cepat-cepat. Jangan sampai kekuasaan setan tertanam didirimu.”

“Tidak Tio. Wajah orang yang melambai aku dalam mimpi itu dan menuntun jalanku mirip sekali dengan wajahku. Kata orang, wajah almarhum ayah, mirip sekali dengan wajahku. Apakah tidak mungkin, arwah almarhum ayah yang datang padaku, memanggil aku, menunjuk tanah habungkasan yang subur padaku?”

“Ronggur,” untuk pertama kalinya Tio menyebutnya hingga Ronggur merasakan satu desiran menyinggung hatinya, “barangkali, itu setan yang menyaru.”

“Tidak Tio. Orang yang digoda setan, akan merasakan tubuhnya kurang sehat. Aku kau lihat sendiri, tetap sehat dan pikiranku tetap waras.”

“Ronggur,” kata Tio lagi, “aku merasa takut! Aku takut!”

“Janganlah takut, selagi aku di dekatmu.”

“Aku takut mendengar ceritamu. Cerita itu, mula duka cerita yang akan mendatangi diriku.”

“Jangan berkata begitu.”

Tio begitu saja menyandarkan kepalanya yang terhisak ke bahu Ronggur, menelungkup di sana. Dibiarkan Ronggur, Tio berbuat begitu. Entah berapa lama.

Sore dengan perlahan beralih pada senja. Pada mulanya warna Jingga, kemudian bertambah merah, lembayung

tambah jelas. Tari warna bermain di wajah danau, di riak danau. Angin tambah lemah. Mereka menuju pulang.

Orang yang berpapasan dengan mereka tidak berapa mereka perdulikan. Tio mengikuti langkah Ronggur yang panjang dan cepat diayunkan. Si belang kadang berlari di depan mereka. Kemudian berlari lagi ke belakang. Sambil menggonggong.

Dan, hati Ronggur tambah digoda perjalanan yang harus dimulainya. Dia sudah harus mengadakan persiapan untuk perjalanan itu. Pada pikirannya, dia sudah memilih teman yang akan diajak turut serta. Yang sendirinya menantang dan menghadapi segala kemungkinan. Meruntuhkan satu kepercayaan. Tapi, mungkin juga satu perjalanan yang akan mengakhiri hidupnya sendiri. Tapi, mungkin juga mula kelanjutan hidup keturunan, bermarga.

Ibunya menyambut kedatangan mereka berdua di ambang pintu. Mereka sudah sering pulang terlambat. Dengan cepat ibunya menyediakan makanan dan Tio membantu. Mereka makan bersama. Jadi pada rumah itu, tidak terdapat atau dengan sengaja diadakan keharusan bahwa seorang budak harus belakangan makan, yaitu memakan sisa tuannya. Ronggur tidak mau begitu. Sedang ibunya tidak berdaya melawan kehendak Ronggur, walaupun itu bertentangan dengan adat. Ibunya pun merasa senang pada kelakuan Tio, yang menurul pertimbangannya masih tetap membawakan sifat dan kelakuan sebagai anak raja.

“Ibu,” kata Ronggur sesudah makin seraya melap mulut. “Ceritalah kembali ibu, di mana sebenarnya ayah dikuburkan. Ceritalah karena apa ayah meninggal dulu. Karena sakit, karena kecelakaan dalam perburuan atau …. Dalam mimpiku, selalu aku bertemu dengan seseorang yang wajahnya mirip benar dengan wajahku. Orang itu selalu mengajak aku agar memulai suatu perjalanan. Mengikutkan arus Sungai Titian

Dewata sampai ke muara. Bukankah ibu mengatakan bahwa wa|ahku mirip benar dengan wajah almarhum ayah?”

Ibunya tak langsung menyahut, lerpaku mendengarkan. Dengan mata terbelalak akhirnya dia mengatakan, “Apa katamu, Ronggur? Apa katamu?”

“Orang itu selalu mengajak aku, agar memulai perjalanan mengikuti arus Sungai Titian Dewata sampai ke muara. Bila aku katanya tidak mau melaksanakan permintaannya. dia akan selalu berduka. Kerja yang dimulai di masa hidupnya, katanya akan sia-sia.”

“Jangan lagi berkata begitu, Anakku. Jangan lagi. Ibu takut mendengarnya. Dan, ibu sudah tua.”

“Ibu, ceritalah. Di mana sebenarnya kubur ayah? Sampai begini besarku, ibu tidak mau mengatakan dan aku belum pernah berziarah ke kuburnya untuk meminta doa restu. Bukankah aku bisa dikatakan orang, dikatakan para arwah, anak durhaka, karena tidak pernah menziarahi kubur ayahnya?”

Wajah ibunya tambah jelas memancarkan perasaan ketakutan. Keheningan menguasai ruang. Tarikan napas ibunya yang satu-satu lagi dalam jelas kedengaran. Tarikan napas yang terputus-putus.

“Ibu, ceritalah. Kalau tidak, aku akan pergi mencari sendiri.”

Ibunya mengangkat wajah. Tegak.Tapi, melesu lagi, lalu:

“Anakku, aku juga tidak tahu pasti, di mana sebenarnya kuburan almarhum ayahmu. Pergilah tanya bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. Dia yang tahu! Dialah teman ayahmu yang terakhir pergi jauh dari kampung kita ini. Dan, yang pulang kemudian, hanya bekas Datu Bolon Guru Marsait Lipan. Ayahmu tidak pernah lagi pulang. Kau tentu tahu, tempat tinggal Datu Bolon itu sekarang.”

Cepat Ronggur bangkit dari duduknya. Setelah membelitkan ulos ke lehernya, dia terus berangkat. Ibunya dan Tio melihat saja. Kemudian ibu Ronggur menatap Tio, yang juga pada wajahnya bergantungan sesuatu ragam perasaan.

“Ibu, aku juga turut merasakan yang Ibu rasakan. Tadi dikatakannya padaku, dia akan pergi memenuhi panggilan mimpinya, panggilan negeri jauh. Aku sudah berusaha mencegah. Tapi, Ibu tentu lebih tahu dariku bahwa dia tidak dapat dihalangi. Bukankah sudah sifat Ronggur begitu?”

“Apa katamu? Kau sebut namanya? Nama Hulubalang Muda kau sebut?”

Tio terkejut. Dia sadar bahwa yang dihadapinya ialah ibu Ronggur. Dia tertunduk. Dihempaskan kembali pada derajat yang tidak berharga, yang tidak boleh menyebut nama tuannya. Didengarnya perempuan itu menghardik setelah lebih dulu menarik napas yang panjang lagi dalam:

“Berani kau menyebut namanya? Apa kau pikir dia sama derajat dengan kau?”

Seolah orang tua itu, perempuan itu, karena marah sudah lupa pada masalah yang sebenarnya dihadapi.

Tio menggerutu pada diri sendiri. Kenapa lidahnya terus sefasih itu menyebut nama Ronggur. Dari tunduknya dia menyahut:

“Dia yang menyuruh aku, memaksa aku harus menyebut namanya, Bu. Tidak mau dan tidak dibolehkannya aku memanggilnya dengan Raja Ni Huta atau Hulubalang Muda.”

“Dia menyuruhmu menyebut namanya? Itu kau katakan?”

“Benar, Bu. Bukan keinginanku.”

“Benar begitu?”

“Benar, Bu.”

“Tentu Ronggur sudah digoda setan. Sudah diizinkannya seorang budak belian makan bersama, sekarang diberinya pula keizinan pada seorang budak belian menyebut namanya. Apakah dia tidak .tahu tentang martabatnya yang begitu tinggi? O, Mula jadi Na Bolon, lindungilah anakku dari godaan setan.”

Perempuan tua itu serasa dipukul kepalanya dan ulu hatinya. Napasnya sesak. Tapi, dengan tersengal-sengal dan berusaha mengangkat kepala, dia menatap Tio, lalu:

“Aku tahu bahwa perangaimu baik, Tio. Tapi, kau tidak sepantasnya menyebut namanya. Jangan lagi sebut namanya. Penuhilah permintaanku ini. Bagaimana kalau tetangga mendengar kau menyebut namanya di depanku? Maukah kau memenuhi permintaanku ini?”

“Akan kuusahakan, Bu.”

“Berjanjilah demi dewata.”

“Aku berjanji.”

Baru kembali ibu yang sudah tua itu teringat akan masalah yang sebenarnya dihadapinya. Perasaan marah kembali mencair, lalu perasaan takut mencekam dadanya.

Ronggur sudah melintasi halaman perkampungan. Menerobos gerbang perkampungan. Di pematang sawah yang kecil lagi licin dia melompat-lompat memilih jalan yang baik. Dia kenal pada jalan itu. Dia tak perlu takut karena tergelincir. Langsung dia menuju dangau kecil yang terpencil di satu ladang. Tanpa dipanggil, si belang mengikutinya. Tidak disuruhnya supaya si belang pulang. Dibiarkannya si belang mengikuti. Gelap malam tidak diperdulikan.

Setelah melompati sebuah parit yang agak lebar, kemudian menyuruh si belang melompatinya, mereka sudah berada di tanah perladangan yang di petak-petaki tanah yang

ditinggikan sebagai batas dan langsung pula menjadi pagar. Supaya kerbau tidak merusakkan tanaman yang ada di ladang. Dilompatinya pula tanah tinggi itu. Dikejauhan sudah kelihatan cahaya pelita yang menerobos dari celah dinding. Tempat tujuan. Dia tambah menegaskan langkah.

Tangannya mengetuk pintu dengan lemah. Suara parau menyuruhnya masuk ke ruang dangau. Ruang tengahnya begitu kecil. Orang tua itu sedang mengunyah sirih. Di sebelah kanannya, terletak tempat sirih yang terbuat dari kulit kera. Di depannya lesung pelumat sirih. Pada kedua lengan tangannya membelit kayu hitam, akar kayu yang dihitamkan dengan segala macam minyak dan lemak, beru kirkan bentuk ular sedang menjalar. Diberi pula berhiasan suatu benda mengkilat, seperti matanya. Bercahaya ditimpa sinar pelita yang lemah.

‘Pakaian datu’, pikir Ronggur. Pakaian itu tidak ditanggalkannya walaupun orang tidak pernah lagi datang padanya minta diobati, minta pertolongan melihat nasib, meminta agar arwah nenek moyang dipanggil melindungi orang yang meminta tolong padanya. Juga kerajaan tidak pernah lagi memintanya untuk menenung sesuatu maksud kerajaan, apakah berhasil baik atau tidak.

Mata orang tua itu tajam menumpu ke wajah Ronggur. Pada dadanya, kemudian diketahui Ronggur, bergantungan potongan gading gajah, taring, dan kuku harimau. Yang pernah dibunuhnya. Baik dalam suatu perkelahian, begitu pula dalam perburuan.

Setelah memberi salam, Ronggur duduk di lantai seperti orang tua itu sendiri, berhadap-hadapan.

“Ada apa, Anakku?” tanya orang tua itu.

“Bapak, izinkanlah aku mengajukan beberapa pertanyaan,” kata Ronggur.

“Silakan, Nak. Bapak akan menolongmu sebisa mungkin.”

“Kata ibu, kalau aku mau tahu kubur almarhum ayah, dan kenapa almarhum ayah menemui saat meninggalnya, aku harus menanyakannya pada Bapak. Hanya Bapak kata ibu yang mengetahui dengan pasti. Orang lain tidak. Ibu sendiri pun tidak.”

Orang tua itu menegakkan kepala, tidak menyangka pertanyaan begitu. Lalu kembali dia mengaju tanya:

“Ibumu menyuruh kau datang padaku?”

“Ya, Bapak. Ibumenyuruh aku menemui Bapak.”

“Ibumu tidak pernah menceritakannya padamu?”

“Tidak, tidak pernah.”

Orang tua itu menarik napas yang dalam.

“Anakku, selama ini kupikir, ibumu mendendam padaku. Lalu mengalirkan dendam itu ke tubuhmu. Kemudian kau membenci aku, atau berusaha untuk menuntut balas. Kiranya, ibumu tidak mau menceritakan. Dan, tidak menanam dendam ke dadamu. Maafkan kesalahanku itu.”

“Apa maksud Bapak?” tanya Ronggur pula.

Orang tua itu memperbaiki duduknya.

“Anakku, kalau dikatakan bahwa kecelakaan itu punya mula dan sebab, maka mula dan sebab kecelakaan itu harus diletakkan di pundakku. Aku juga harus mendukungnya. Dan, bila sesuatu hukuman yang harus ditimpakan pada orang yang memulai malapetaka itu, maka hukuman itu pun seharusnya ditimpakan padaku.”

“Kenapa Bapak berkata begitu?”

Lebih dulu orang tua itu menumpukan pandang ke mata Ronggur. Begitu dalam.

“Bapak juga sudah lama memikirkan bahwa pada satu saat, mulut manusia yang harus kita beri makan akan bertambah

banyak. Sehingga hasil yang dapat diberikan tanah yang ada di sekitar kita tidak akan mencukupi. Begitulah bapak memulai pertenungan. Menanyakan arwah gaib yang tidak dapat dilihat mata. Bapak menanyakan pada mereka di mana dapat ditemui tanah habungkasan yang subur. Agar pertengkaran karena setapak tanah dan yang bisa meledakkan satu peperangan bisa diatasi. Hasil tenung itu mengatakan pada bapak, ikutilah Sungai Titian Dewata.”

Orang tua itu terbatuk sebentar. Setelah mengunyah sirih lalu meludah dari celah lantai, dia melanjutkan.

“Hasil pertenungan itu kuceritakan pada ayahmu. Dia juga sepakat denganku. Tanah perluasan harus dicari dan ditemukan. Ayahmu begitu percaya akan hasil pertenungan bapak dan begitu percaya akan kekuatan gaibku. Maka kami pun mulai mengadakan perjalanan mengikuti Sungai Titian Dewata tanpa memperoleh halangan dari kerajaan. Waktu itu bapak masih memegang kekuasaan mutlak sebagai Datu Bolon Kerajaan. Dan, bapakmu hulubalang yang dihormati kerajaan karena keberaniannya. Kami pun memulai perjalanan, mengikuti jalur sungai. Tapi, apa yang kami temui? Pada suatu tempat tertentu, setelah berhari-hari berkayu, di kiri kanan kami hanyalah batu alam melulu, di tengahnya air sungai mengalir. Bertambah hari bertambah deras. Air seperti mau membulat. Hingga akhirnya biduk yang kami tumpangi tidak terkendalikan. Sebuah terowongan batu, semacam gua, air menuju ke sana. Mulut gua itu menganga seperti mau menelan. Karena tidak tahan menerima kenyataan ini, yang berbeda dengan hasil tenungku, bapak cepat melompat ke pinggir sungai sambil berteriak: ‘Ama ni Ronggur, cepat tinggalkan biduk’. Tapi, sewaktu bapak melompat itu keseimbangan biduk hilang. Bapakmu dan biduk lalu dihanyutkan arus yang menggila. Dihantamkan ke dinding batu yang keras. Pecah di sana. Sebuah lengkingan yang panjang menggema. Itulah lengkingan yang paling akhir. Yang bapak rasakan menyuruh bapak cepat meninggalkan tempat

itu. Namun bapak masih menantikan ayahmu untuk beberapa hari. Tapi, dia tidak pernah lagi muncul. Tidak pernah lagi kembali. Suara air yang bertemparasan ke dinding sungai yang terbuat dari batu alam yang hitam, berkerisik dan kuat, menyanyikan kemenangannya dan kegagalan serta kekalahan kami”

Orang tua terdiam sebentar. Seperti berusaha mengingat sesuatu. Sedang Ronggur khusuk mendengarkan.

“Akhirnya bapak percaya bahwa ayahmu sudah menjadi korban atas kemurkaan dewata. Tenungku salah, Anakku. Tafsir tenungku tidak benar. Membuat salah seorang sahabatku menjadi korban.”

Suara orang tua itu menjadi tambah parau. Dari matanya meleleh titikan air bening. Kerongkongannya tersendat. Di antara isaknya dia masih mengatakan dengan suara parau:

“Maafkanlah kesalahanku, Anakku. Dan, sejak itulah bapak tidak pernah lagi dipanggil kerajaan mengadakan pertenungan. Tidak pernah lagi orang datang meminta bantuan. Bapak disisihkan dari pergaulan sehari-hari. Bapak terpencil. Tapi, pada upacara besar yang dilangsungkan di halaman perkampungan, bapak tetap juga mengikutinya. Tapi, tempat bapak di tengah rimbunan bambu duri agar orang tidak melihat bapak. Dari tempatku yang tersembunyi itulah bapak melihat dan mendengar usulmu, agar orang mencari tanah habungkasan mengikuti arus Sungai Titian Dewata. Bapak mendengar usulmu, Anakku.”

Orang tua itu menundukkan kepala.

Wajah Ronggur di samping merasakan perasaan duka, tapi bercampur baur dengan perasaan bangga dan gembira. Justru karena ada juga orang yang bisa atau turut merasakan apa yang dirasakannya. Turut memikirkan apa yang dipikirkannya. Dan, berusaha mencari tanah habungkasan. Memang mereka

menemui kegagalan. Tapi, apakah satu kegagalan harus dihukum dengan kutuk dan dendam?

‘Tidak’, sahut Rongur sendiri atas segala pertanyaan yang timbul dalam dirinya. Segala percobaan yang berusaha mendekati kebaikan dan mengupas kebenaran, walau menemui kegagalan sekali, lalu menimbulkan korban yang tidak kecil harus dihormati. Setelah memperoleh kesimpulan ini, Ronggur mengatakan:

”Bapak, jadi bapak mendengar usulku? Dan, telah lebih dulu memikirkannya bersama almarhum ayah?”

“Benar. Aku mendengar usulmu. Ah, yang tampak oleh mataku, waktu kau berbicara itu dengan suara yang lantang berani, seperti almarhum ayahmu sendiri, waktu dia dulu turut membela hasil tenungku. Agar kerajaan tidak menghalangi keberangkatan kami.”

“Bapak, aku menghormati pendapat bapak tentang perlunya tanah habungkasan. Kegagalan yang ditemui bapak, darinya atau padanya tidak sewajarnya dialamatkan dendam. Malah kegagalan itu harus dibuat menjadi batu loncatan. Ditoleh sedemikian rupa sehingga sumber kegagalan pertama dapat dilintasi. Sampai ditemui satu kemenangan.”

“Seharusnya begitu, Anakku. Tapi, orang yang ada di sekitar kita, yang punya kepercayaan bahwa Titian Dewata sungai dewata, kemudian mengetahui kegagalanku dan meninggalnya ayahmu, kepercayaan mereka tambah menebal juga. Malah bapak sendiri lalu disisihkan dari pergaulan. Hasil tenungku tidak diperlukan orang lagi.”

“Itu risiko, Bapak. Risiko yang harus kita terima. Tapi, janganlah karena itu kita lantas menanggalkan satu cita yang tumbuh dalam dada kita. Cita yang baik.”

“Apa maksudmu, Anakku?”

Ronggur menarik napas yang dalam. Lalu, dengan suara pasti dia mengatakan, “Sudah tiba saatnya, aku harus melanjutkan pekerjaan yang gagal itu. Aku harus dapat mengatasinya. Aku harus melanjutkannya.”

Orang tua itu menatapi dan membiarkan Ronggur berbicara.

“Kata Bapak, melayari sungai dengan biduk?”

“Ya.”

“Kalau begitu harus diusahakan melayarinya dengan perahu. Yang lebih besar dari biduk. Dasar perahu harus agak luas dibuat agar tidak mudah terbalik waktu melawan arus atau melalui arus.”

“Pikiran yang baik,” kata orang tua itu. “Tapi, ada baiknya kau pikirkan bahwa sesuatu sungai biasa, pada pangkalnya mempunyai arus yang kencang. Tapi, sungai ini lain. Pada pangkalnya tidak berapa deras arusnya. Tapi, lambat laun tambah ke hilir, menjadi deras arusnya. Bukankah itu pertanda bahwa sungai itu memang lain dari sungai biasa?”

Ronggur terdiam.

“Arus itu,” kata orang tua itu pula, “dapat dikatakan cukup menggila. Dinding batunya begitu keras. Kalau perahu terhantam ke sana pasti pecah. Dan, penumpangnya akan dihanyutkan arus tanpa ampun. Tidak sempat berenang ke tepian. Bukankah arus menggila itu memang satu pertanda bahwa sungai akhirnya memang jatuh ke satu tempat yang maha dalam, yang menurut kata orang di sekitar ialah ujung dunia?”

Ronggur masih terdiam. Keningnya berkerut. Lalu, dia mengaju tanya pula: “Jadi, apakah menurut pendapat bapak, setelah mengalami kegagalan bahwa Sungai Titian Dewata memang jatuh ke ujung dunia?”

Orang tua itu mendongakkan kepala.

“Tidak dapat kupastikan, Anakku. Karena hasil tenungku sampai saat ini tetap berpendapat bahwa sungai itu tidak jatuh ke ujung dunia. Karena pendapat ini jugalah membuat bapak disisihkan orang. Tapi, kenyataan keadaan sungai itu tidak dapat dipungkiri.”

“Nah, kalau begitu yang kita hadapi hanyalah arus sungai yang menggila. Boleh jadi arus menggila karena sungai melalui riam yang banyak ditemui pada sesuatu sungai.”

“Juga tidak dapat bapak jawab. Karena arus sesuatu riam tidak akan begitu kencang dan begitu menggila.”

“Boleh jadi riamnya lebih dalam.”

“Boleh saja kita berpendapat begitu.”

“Karena itulah, aku harus melayarinya dengan perahu yang jauh lebih besar dari biduk. Dan, sewaktu melintasi arus sungai harus menggunakan tenaga pembantu. Tidak cukup kemudi saja menahan kencangnya perahu. Tapi, harus menggunakan batu pemberat.”

“Maksudmu?”

“Batu sebesar kepala manusia atau sebesar kepala kerbau kita ikat. Talinya kita ikatkan pada buritan perahu. Setiap melintasi arus yang tambah kencang, setiap itu pula batu itu kita jatuhkan ke dalam air sebagai penahan. Agar perahu tidak dihanyutkan arus dengan sesuka hatinya.”

Orang tua itu menundukkan kepala. Mengiakan lalu mulutnya mengatakan: “Satu pikiran yang baik.”

“Nah, dengan akal begitulah aku bermaksud melayari Sungai Titian Dewata sampai ke muara. Dan, darimu, kumohonkan doa restu. Agar kami direstui dan diberkati para dewata dan arwah nenek moyang, begitu pula arwah almarhum ayah.”

“Bapak akan membantumu, Anakku,” kata orang tua itu seraya pundak Ronggur ditepuk-tepuk.

“Anakku, perjalanan ini tidak mudah. Kau akanmenghadapi rintangan kepercayaan orang yang ada di sekitarmu. Karena itu kekuatan jiwa dan tekad yang padu harus kau punyai dan kau pupuk selalu dalam hati.”

“Baik, Bapak. Tapi, doakanlah agar anakmu ini selamat dalam perjalanan.”

Orang tua itu merasa gembira bercampur bangga karena ada orang yang sependapat dengan dia. Karena, untuk pertama kali setelah bertahun-tahun ada orang meminta pertolongan doa restunya. Tenaga gaib yang dipunyainya. Matanya bersinar. Dadanya diangkat, sedang mulutnya mengatakan dengan suara pasti:

“Anakku, beritahukan pada bapak kelak, kapan kau hendak memulai perjalanan itu. Ah, kalaulah bapak masih muda, masih punya tenaga yang kuat, bapak akan turut bersamamu.”

“Doa Bapak yang akan mengiringi langkahku, kurasa lebih besar manfaatnya dari apa saja.” kata Ronggur. “Dan, aku mau mempersiapkan peralatan yang kuperlukan dulu. Sebuah perahu yang agak besar, yang punya dasar yang lebih datar dari perahu biasa. Beberapa gulungan tali ijuk yang kuat. Sesudah ini siap semua, perjalanan itu akan kumulai. Dan, aku akan datang memberitahukannya pada Bapak.”

Ronggur meminta diri. Orang tua itu melepaskannya menerjang kelam malam yang pekat. Mata orang tua menyinarkan cahaya kemenangan, berusaha menembus segala kegelapan yang menyungkup keadaan sekitar.

Si belang berlari-lari di samping Ronggur, sambil mengibaskan ekor.

Malam sudah jauh, dibaliknya pagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s