Bagian 1

Satu-satu para lelaki keluar rumah, memenuhi panggilan suara gong yang dipalu sesekali dekat unggun api yang ada di halaman perkampungan. Wajah para lelaki yang bermunculan di mulut pintu, memancarkan rasa marah dan mendendam. Senja baru saja berlalu. Di langit bintang gemerlapan. Tapi, tidak ada bulan. Hingga cahaya unggun api yang samar, cukup punya arti. Nyalanya meliuk ditiup angin. Para lelaki itu membentuk lingkaran seputar unggun api. Tapi, di sebelah hulu, belum seorang pun mengambil tempat. Sengaja dikosongkan.

Angin pegunungan berhembus. Lebih dulu meliukkan pucuk bambu duri yang ditanam orang sekitar kampung, langsung menjadi pagar kampung. Bambu duri itu, ditanam melingkar. Mengikuti lingkaran rumah dan di tengah dikosongkan. Halaman kampung menjadi luas, tempat penghuni kampung selalu berkumpul di saat yang perlu. Di saat Kerajaan Marga yang mendiami kampung itu mengadakan musyawarah.

Wajah para lelaki tambah jelas kelihatan, setelah cukup dekat unggun api. Wajah yang cukup matang dan keras, yang dimasak kerasnya hidup sehari-hari, wajah yang menampung sinar matahari penuh. Dan, memecahkan tanah batu untuk dijadikan persawahan.

Gong masih dipalu sesekali. Para lelaki tambah banyak berkumpul. Tapi, satu sama lain, tampaknya saling diam. Dari jauh kedengaran suara ratap para perempuan. Kemudian kelompok manusia itu menjadi tambah hening, tidak ada yang berkerisik, sewaktu enam orang lagi lelaki datang mendekat. Salah seorang di antaranya menyandang ulos-batak ragi¬hidup, kepalanya dibeliti bolat-an berwarna tiga jalin-menjalin: merah, putih, dan hitam. Tangan kanan memegang tungkotpanaluan, yang hulunya berukirkan wajah dan kepala manusia, serta dihiasi rambut manusia. Di pinggang, terselip

pisau gajah-dompak. Pertanda dia Raja Panggonggom, yang memegang kekuasaan adat dan hukum tertinggi di perkampungan itu, di marga yang mendiami kampung itu.

Yang berjalan di sebelah kanannya, memakai bolatan juga. Tapi, warnanya hanya merah dan putih berjalinan, pertanda dia Raja Ni Huta. Juga dia menyandang ulos-batak, tapi raginya berbeda dengan yang dipakai oleh Raja Panggonggom. Raja Ni Huta yang memakai bolatan ini, pengerah tenaga rakyat, dan langsung memimpin para Raja Ni Huta dari kampung lain, yang masih semarga dengan mereka.

Di sebelah kiri Raja Panggonggom, berjalan seseorang yang memakai bolatan warna merah saja, pertanda dia Raja Nabegu, pemegang pimpinan para panglima dan para hulubalang perkasa. Dia juga menyandang ulos-batak, tapi raginya berbeda dengan ragi yang disandang fyaja Panggonggom dan Raja Ni Huta. Sedang di tangannya, tergenggam tombak yang hulunya berukirkan kepala manusia.

Di belakang mereka bertiga, mengiring pula Raja Partahi, Raja Namora, dan Datu Bolon Gelar Guru Mafla-sak. Raja Partahi dan Raja Namora, memakai bolatan warna putih, pertanda mereka pemegang perbekalan marga. Sedang Datu Bolon Gelar Guru Marlasak menyandang kulit monyet yang sudah kering, sedang mulutnya terus-terusan menguyah sirih dan meludah. Mereka mengambil tempat di sebelah hulu, yang sejak tadi dikosongkan. Tempat mereka lebih tinggi dari yang lain. Di tangan kiri Raja Panggonggom, tergenggam sebilah pisau yang ujungnya berlumur darah merah. Sebelum duduk, lebih dahulu dia menancapkan tungkotpanaluan ke tanah. Semua mata diarahkan padanya berusaha mengikuti gerak-geriknya. Kuping sudah, siap mendengar yang hendak diucapkannya.

Setelah mengangkat tangan kanan, dia mengaju tanya, “Apakah sudah semua lelaki hadir di sini?”

Setiap suku kata ditekankan kuat-kuat. Suaranya yang beruntum keluar dengan cepat, pewarta bahwa dia sedang marah. Matanya merah nyala. Sedang dari kejauhan, tetap kedengaran sesayup sampai ratap perempuan, yang meratap kan kepiluan hati, hati yang berduka. Ratap inilah yang. membuat wajah para lelaki itu bermuraman, muram mengandung marah yang menuntut dibalaskan. Cepat saja diketahui bahwa tidak seorang pun perempuan hadir di antara para lelaki yang mengitari unggun api itu.

“Sudah semua,” sahut seseorang, yang langsung berdiri dari duduknya, kepalanya memakai bolatan warna hitan, tangannya menggenggam tombak berukirkan kepala manusia, tapi tidak berhiaskan rambut, pertanda dia panglima marga atau hulubalang marga.

“Apakah sudah berkumpul semua pemuda di sini?” tanyanya pula melanjut.

“Belum,” sahut seseorang, yang juga memakai bolatan warna hitam, dan menggenggam sebuah tombak, tapi bolatannya lebih kecil dari orang pertama. Pertanda dia, hulubalang muda.

“Siapa yang belum hadir?” tanya raja.

“Si Ronggur.”

“Si Ronggur belum hadir? Ke mana dia pergi?”

Tidak ada yang menyahut. Raja Panggonggom lalu mengatakan, “Ayoh, pergilah salah seorang dari kamu memanggilnya. Apakah harus aku yang pergi memanggilnya?”

Hulubalang Muda cepat berdiri. Terus pergi melaksanakan perintah. Dia berlari dengan langkah yang panjang dan cepat.

Kembali Raja Panggonggom duduk. Tongkat panaluan, pusaka nenek moyang turun-temurun dielusnya seketika. Tubuhnya yang sudah tua itu masih membayangkan bekas bentuk tubuh yang tegap di masa muda, disaputi kulit hitam

yang cukup matang. Wajahnya yang berkerut-kerut, keningnya yang lebar, dan sinar matanya masih tetap bercahaya, bernadakan kepercayaan akan diri sendiri.

Para lelaki yang duduk di sampingnya, juga sudah agak tua. Di hadapannya, para lelaki yang masih muda, punya otot tubuh yang tegap dan masih berada di puncak kekuatan. Walau ada di antara mereka yang agak kecil, namun garis di wajahnya, ototnya, kulitnya yang hitam, segumpal daging yang dapat dipercaya kesehatan dan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Sedang para pemuda, yang tubuhnya setiap hari masih terus membentuk sebuah tubuh yang wajar, dan dari wajahnya memancar kebeningan tapi bercampur-baur dengan kematangan, sesuatu pertanda ketangkasan.

Sambil duduk, Raja Panggonggom menggerutu, “Kita harus menunggu anak itu lagi.”

Tidak seorang pun yang berani menambahi cakapnya. Tapi, wajah Raja Nabegu, yang duduk sejajar dengannya, menjadi merah padam, seperti merasakan sesuatu kesalahan, kenapa Ronggur tidak bisa hadir sebelum golongan raja hadir di sana.

Dari jauh kelihatan dua orang pemuda mendekat.

“Apakah kau tidak mendengar gong dipalu? Apakah kau tidak mengetahui, apa arti gong yang dipalu dengan pukulan satu-satu? Apakah kau harus diajar untuk mendengar dan mengartikannya lagi? Bukankah kau sudah diajari Raja Nabegu?” tanya Raja Panggonggom cepat, ma-nyambut kehadiran mereka.

“Aku dapat mendengar dan mengartikannya, Paduka Raja,” jawab pemuda itu.

“Kenapa kau tidak terus mematuhi panggilan? Kenapa kau melalaikannya? Apakah tubuhmu itu tidak dialiri darah merah yang diwariskan Almarhum ayahmu lagi?”

“Masih, Paduka Raja.”

“Tahukah kau bahwa ayahmu tidak pernah mengabaikan panggilan gong pusaka ini? Terlebih bila gong dipalu satu-satu? Ataukah dengan sengaja kau melambatkan kedatanganmu karena kau bukan seorang lelaki? Jawab pertanyaanku dengan jujur. Supaya para arwah nenek moyang dan dewata tidak marah.”

“Paduka Raja, dalam tubuhku mengalir darah yang diwariskan ayahanda almarhum. Kupingku mendengarkan suara gong pusaka, malah langsung membakar semangatku.”

“Kalau begitu, kenapa kau terlambat datang? Atau, kau memang sengaja mengabaikan panggilannya?”

“Aku tidak mengabaikannya, Paduka Raja. Tapi, aku sedang memikirkan, bagaimana aku harus melaksanakan perintah yang akan ditugaskan padaku. Dan apa yang harus kuucapkan dalam pertemuan ini, bila saat musyawarah diadakan.”

“Nah, kalau begitu dengar dulu kataku.”

Raja Panggonggom menebarkan pandang ke sekitar. Menatap wajah demi wajah dengan pandang tajam, lalu,

“Semua lelaki yang ada di hadapanku, yang pada tiap tubuhmu mengalir darah merah warisan nenek moyang, merahnya, api semangat yang tidak boleh dipadamkan. Barulah kau dapat dikatakan seorang lelaki yang menghormati nama baik nenek moyangmu, nama baik rajamu, nama baik kampung, margamu, dan marga kita. Dan, barulah pula kau wajar dihormati sebagai seorang lelaki.”

Orang terdiam mendengarkan. Pada tiap wajah makin jelas kelihatan pancaran sesuatu cahaya yang tidak mau dipadamkan. Mata tiap orang menjadi merah dan gusar. Tubuh mereka berkeringat olehnya. Otot yang tegap itu menjadi mengencang, dibakar perasaan dalam hati.

“Pada tangan sebelah kiriku,” lanjut Raja Panggonggom, “tergenggam sebilah pisau, yang tadi pagi sengaja ditusukkan orang, orang dari marga lain, ke dada salah seorang dari antara kamu, dari antara kita, sehingga dia meninggal. Mayatnya sekarang terlentang kaku di Sopo Bolon. Sekitar mayatnya duduk melingkar para perempuan. Meratap berkepanjangan. Tentu kamu turut mendengar ratap mereka, ratap yang menangiskan sebuah perpisahan, perpisahan yang timbul karena perbuatan orang lain. Para perempuan itu berduka. Tapi, bagi kita para lelaki, tidak saja kepiluan mendatangi diri. Yang menekan hati, lebih berat mendatang dari penghinaan yang dengan sengaja diarahkan marga lain yang membunuh Ama ni Boltung itu. Penghinaan yang harus ditantang dengan sikap jantan, dengan darah merah yang memancarkan cahaya semangat yang tak akan padam pada tiap wajah kita. Ketahuilah, ratap para perempuan itu, sesuatu yang mengharapkan penuntutan balas. Kita terkutuk, bila kita tidak menuntut balas. Dan, kita tidak berhak lagi disebut dan dihormati sebagai lelaki, bila penghinaan yang sangat nista ini kita terima begitu saja.”

Suara mendengung pada kelompok yang ada di depan raja. Berakhir dengan meledaknya ucapan, “Perintahkan dengan cepat, apa yang harus kami perbuat. Sebuah penghinaan harus segera dilenyapkan. Supaya orang lain tidak berani mengulanginya terhadap marga kita!”

“Ya, memang untuk itu kita berkumpul malam ini.”

Ronggur berdiri. Matanya dilayangkan pada kelompok pemuda, kemudian pada kelompok para lelaki. Lalu tertumpu akhirnya ke tempat para raja.

“Ada yang hendak kau katakan?” tanya Raja Panggonggom.

“Ya. Kalau paduka raja mengijinkan aku berbicara,” suaranya tegas dan pasti. Kuat meledak. “Bicaralah____”

“Paduka Raja, dapatkah Paduka Raja menceritakan pada kami, kenapa marga lain itu menancapkan ujung pisaunya ke dada Ama ni Boltung?”

“Pisau itu mereka tancapkan ke dada Ama ni Boltung, karena persoalan pembagian air yang harus dialirkan ke sawah. Juga karena pertengkaran mengenai perbatasan sawah. Yang menyerang Ama ni Boltung, tidak seorang saja. Tidak kurang dari lima orang malah. Mereka menyerang sekaligus, hingga Ama ni Boltung yang sudah kita kenal keberanian dan ketangkasannya berkelahi, rubuh ke atas tanah. Tapi, janganlah kita beranggapan bahwa Ama ni Boltung terlalu lalai menghadapi musuhnya. Dia masih sempat membawa korban. Tidak kurang dari dua orang yang menyerang dirubuhkannya, dicabutnya nyawa mereka dengan ujung pisau. Dan, seorang lagi luka pada tangannya. Arwahnya tentu ditempatkan para dewata di tempat para hulubalang perkasa, tempat terhormat.”

“Kuhormati kepahlawanan Ama ni Boltung,” sahut Ronggur, “tapi yang paling perlu kita pikirkan sekarang, mula atau sebab timbulnya perkelahian itu. Dari keterangan Paduka Raja, dapatlah diketahui bahwa soalnya timbul karena pembagian air dan perbatasan sawah. Soal yang sudah terlalu sering menimbulkan pertengkaran, yang sudah terlalu sering mengakibatkan pecahnya perang antara satu marga dengan marga lain, antara satu lu hak dengan luhak lain. Yang menjadi pokok persoalan sekarang menurut pendapatku, hendaknya kita menelaah, kenapa persoalan begitu rupa tambah sering kita hadapi. Tambah sering mengganggu ketenteraman hidup? Mengganggu kerukunan hidup di pantai DanauToba ini?” Semua terdiam. Juga raja.

Ronggur melanjutkan, “Soalnya, karena semakin sempitnya tanah yang dapat kita garap. Tadi siang, aku jalan-jalan sampai ke kaki bukit, yang tanahnya bercampur batu. Sudah sampai ke sana perluasan sawah. Tanah batu yang cukup

keras itu mereka pecahkan dengan cangkul yang diayunkan kedua tangan mereka. Mereka melinggis pinggiran gunung batu, membangun sebuah parit saluran air. Lihatlah, betapa sungguhnya tiap orang dan marga yang ada di sekitar danau ini mempertahankan hidupnya. Mereka orang yang berani hidup. Yang taat melaksanakan pesan nenek moyang masing¬masing, melanjutkan hidup keluarga dan marga.”

 

“Cukup,” kata raja, “kami juga sudah mengetahui itu. Kami juga turut bekerja. Tangan kami juga turut lecet karena mengayun pacul ke tanah berbatu. Keringat kami juga turut membasahi tanah batu, supaya batu menjadi lumat agar bisa menghasilkan padi.”

“Paduka Raja,” kata Ronggur pula tak mau henti, “jadi, soal sebenarnya sudah kita ketahui. Tanah yang dapat kita kerjakan masih tanah yang dulu juga. Tidak bertambah luas. Tapi, tiap suku tambah berkembang biak. Berarti, tambah banyak mulut yang harus diberi makan dari hasil tanah yang itu juga. Ini sudah terang menambah kesulitan hidup. Karena itulah, setiap orang menggunakan akal licik untuk memperoleh setapak tanah. Orang tambah berebut pada air parit yang dangkal agar sawahnya lebih dan dapat lebih banyak menghasilkan padi. Inilah mula persoalan! Harus awal soal ini yang diatasi agar hal yang bisa menimbulkan perkelahian dan peperangan yang menumbuhkan luka dan duka di tiap hati dapat dihilangkan.”

“Apa maksudmu?” tanya Raja Panggonggom.

“Kita harus mencari -ya, mencari daerah baru tempat perluasan marga.”

Dengungan suara pun bangkit di tengah orang banyak.

“Usulmu memang bagus,” sahut Raja Panggonggom mengatasi dengung suara itu. “Tapi, ke mana kita harus mencari tanah garapan baru? Sekitar kita, melingkar gunung batu yang tandus lagi tinggi. Kita tidak tahu, berakhir di mana

gunung ini. Kita tidak dapat tahu, apakah masih ada tanah datar di seberang pegunungan ini. Pegunungan ini berlapis-lapis, pagar alam yang sengaja dibuat para dewata, supaya kita tidak melintasi dan melewatinya. Tiap puncak dijaga para dewata, yang menjelma menjadi binatang buas. Penjaga ini tidak senang pada orang yang berani melintas di sana, karena mengganggu ketenteraman para dewata yang tidak tampak oleh mata kita. Binatang buas akan membunuh tiap orang tanpa ampun. Siapa yang mau membunuh diri dengan pekerjaan sia-sia itu? Karena itu, bagaimanapun, kita harus mempertahankan tiap jengkal dan tiap tapak tanah yang kita pusakai dan kuasai. Dan, harus berusaha pula meluaskannya. Caranya terserah pada kekuatan kita. Habis perkara.”

Ronggur tidak langsung menyahut, namun sinar wajahnya masih tetap memancarkan sikap keyakinan. Lebih dulu ditatapinya wajah para raja, kemudian wajah para lelaki, beralih pula pada wajah pemuda sebayanya. Lalu katanya dengan suara perlahan tapi pasti: “Menurut cerita nenek moyang, yang dituliskan pada pustaka, setiap sungai akan bermuara ke tanah landai. Karena itu, kita akan mengikuti sungai.”

“Sungai mana?” cepat Raja Panggonggom memotong.

“Sungai Titian Dewata, yang bermula dari salah satu teluk danau.”

Dengung suara bangkit di tengah kelompok lebih gemuruh dari tadi. Wajah Raja Panggonggom memancarkan sinar kemarahan, apalagi orang tua yang duduk di belakangnya yang menyandang kulit kera yang sudah dikeringkan. Dan, yang juga sejak tadi terus-menerus mengunyah sirih. Sambil meludah merasa jijik atas ucapan Ronggur, dikenal bernama Datu Bolon Gelar Guru Marla-sak. Setiap orang jadi merasakan, telah dipermainkan Ronggur. Tapi, Datu Bolon itu lebih merasakan, Ronggur sudah memancing kemarahan para dewata. Kutuk dewata akan tiba.

Tapi, dengan sikap bijaksana yang melekat pada Raja Panggonggom, dia dapat mengatasi luapan marahnya, lalu mengatakan:

“Ronggur, kau masih terlalu muda, Anakku! Sungai Titian Dewata itu lain dari sungai biasa. Sungai Titian Dewata, berakhir di ujung dunia. Sengaja diciptakan dewata untuk Titian Para Dewata menuju matahari, tempat Mula Jadi Na Bolon bersemayam. Jadi, kita tidak dapat mengikuti Sungai Titian Dewata bila hendak mencapai tanah landai. Sungai Titian Dewata, jalan arwah kita kelak ke dunia lain, ke hidup lain, di mana para dewata dan arwah nenek moyang bersemayam di sekita/ Mula Jadi Na Bolon. Tempat terhormat. Hendaknya, semua rakyatku, tiba ke sana, agar hidupnya di dunia lain itu berbahagia.”

Sikap Ronggur masih mau berbicara lagi. Tapi, Raja Panggonggom memberi isarat, agar dia duduk. Tidak memberi kesempatan bicara lagi. Orang tambah merasa dipermainkan Ronggur. Karena perintah itu, Ronggur harus duduk, memendam semua yang ada di dalam hati. Gong sudah tidak dipalu orang lagi sehingga ratap perempuan dari Sopo Bolo tambah jelas kedengaran.

Raja Panggonggom kembali berbicara, “Kita tadi dengan sengaja telah membuka satu percakapan yang cukup panjang. Tapi, percakapan itu tidak langsung penyebab kita kumpul di sini, saat ini. Lihat, pisau yang tergenggam di tangan kiriku ini. Darah Ama ni Boltung masih melekat di sini, masih basah malah. Alangkah sia-sia, suatu kemurtadan, kalau kita tidak menuntut balas, kalau kita tidak menghapus corengan arang yang di buat orang di wajah marga kita. Karena kita tidak mau disebut orang murtad, orang yang dikutuk arwah nenek moyang, terutama pula setelah suruhan kita diusir oleh marga yang membunuh Ama ni Boltung itu, sidang kerajaan hari ini memutuskan: mengumumkan perang dengan marga yang membunuh Ama ni Boltung!”

“Huraa . . . .!” para lelaki dan pemuda bertempik sorak menyambut putusan raja, sehingga suara ratap perempuan tenggelam.

“Apakah seluruh rakyatku, seluruh hulubalangku, dapat menerima dan mendukung putusan ini?”

“Kami akan laksanakan dengan gigih,” jawab serentak.

Setelah Raja Panggonggom duduk, Raja Nabegu berdiri. Wajahnya lebih tegas dan ganas dari Raja Panggonggom. Sewaktu dia berbicara, wajahnya menjadi merah dan matanya menyinarkan cahaya marah yang tidak terpadam-kan. Suaranya deras mengalir dan mengguntur:

 

“Para hulubalang, pendukung kehormatan marga. Padamu sekarang terletak tugas untuk menghapus corengan arang dari wajah kita masing-masing. Tunjukkanlah kebe-ranianmu, tunjukkanlah kehulubalanganmu. Rapat kerajaan hari ini, Raja Partahi, Raja Namora, dan Raja Ni Huta, akan membantu para hulubalang marga dari bidang masing-masing. Janganlah sia¬siakan segala bantuan ini! Jadi, mulai malam ini, diumumkan awal peperangan dengan marga yang sangat angkuh itu. Tangkaplah mereka di mana saja berjumpa. Bunuh kalau melawan. Musnahkan kampungnya, rampas, lalu jadikan kampung perluasan bagi marga kita! Tawan rajanya! Jadikan budak setiap keturunannya . . . .!” Kelompok kembali bersorak.

“Para perempuan.” kata Raja Nabegu selanjutnya, “setelah mengebumikan mayat Ama ni Boltung besok pagi, akan dikerahkan Raja Ni Huta menyediakan batu sungai peluru ambalangmu. Raja Namora, akan menyediakan makanan bagimu. Raja Partahi, akan menyediakan alat peperangan untukmu. Sedang Raja ni Huta, dari kampung sekitar, kampung yang didiami marga kita juga sebagai kampung perluasan, sebentar lagi akan berkumpul di sini. Mereka sekarang sedang menyiapkan segala sesuatu mengumpulkan

pasukan untuk membantu kita. Mereka, adik-adik kita yang setia.”

Kelompok kembali bersorak dan bertepuk tangan.

“Ada di antara kalian yang tidak setuju dengan perintah ini, dengan putusan sidang kerajaan ini?”

Tidak ada sahutan. Ronggur menundukkan kepala. Pada bayang pandangnya, sudah tergambar darah merah basah menetes dari tiap tubuh, beberapa mayat bergelimpangan di tanah.

“Kau Ronggur!” tegur Raja Nagebu, “masihkah kau seorang pemuda?”

“Seperti tampak Paduka Tuan.”

“Kalau kau pemuda, tentu kau akan melaksanakan tugas pemuda.”

“Ya. Walaupun usulku ditolak, sebagai pemuda marga, aku akan turut melaksanakan tugas. Apa sekalipun!”

“Bagus, bagus, asahlah kapakmu! Tajamkan mata tombakmu! Perkuat tali ambalangmu. Perbaiki perisaimu!” Lalu, dia kembali duduk.

Raja Panggonggom kembali berdiri. Menatap bala tentara yang sudah penuh semangat. Raja Partahi dan Raja Namora sudah menyisih dari khalayak ramai. Pergi menyembelih beberapa ekor babi dan mengeluarkan alat perang dari tempat simpanan. Sedang Raja Ni Huta telah menyediakan peralatan gondang, lengkap dengan pemain. Raja Panggonggom lalu mengatakan:

“Bapa Paru Bolon Gelar Guru Marlasak. Tenunglah dengan kekuatan batinmu! Panggillah para arwah nenek moyang melalui kekuatan sihirmu agar mereka membantu kita dalam peperangan. Panggillah para dewata agar memberkati seluruh laskar kita. Supaya kita berada di pihak yang menang, bisa

mengalahkan musuh, dan supaya semangat terus mengapi tanpa mau padam sebelum musuh ditundukkan, dijadikan budak belian.”

Datu Bolon Gelar Guru Marlasak berdiri. Maju ke tengah khalayak dan di sana membuka parhalaan. Kemudian bersemadi entah beberapa lama, duduk bersila di atas tanah. Kemudian, ludahnya yang merah karena mengunyah sirih, disemburkan ke sekitar. Kemudian membaca jampi-jampi, mulutnya bergerak-gerak.

Di saat itu, Raja Partahi, Raja Namora, dan Raja Ni Huta, telah kembali duduk di tempat semula.

Setelah memberikan tanda, mulai berdiri, Datu Bolon meneriakkan dengan suaranya parau:

mahluk halus penjaga rumah,

mahluk halus penjaga tanah

yang tidak dapat dilihat mata

semangat poyang tujuh keturunan

kupanggil kau, datanglah bersama kami

bapak pargaul pargonci,

palulah gondang somba-somba

Gondang pun dipalu, gondang somba-somba. Orang pada berdiri, bersiap-siap mau manortor. Di belakang Datu Bolon, tempat kerajaan baru khalayak ramai. Kepala mereka menunduk-nunduk, memberi hormat pada arwah halus yang tadi dipanggil, Datu Bolon menemani mereka membasmi musuh. Tangan yang dua, dirapatkan dikening, bersujud.

Habis itu, Datu Bolon meminta agar dimainkan pula gondang Mula jadi na Bolon sebagai penghormatan yang mutlak terhadap pencipta asal kehidupan dan yang kepadanya akan kembali segala yang hidup. Cepat pula diiringi Gondang

Bataraguru, agar Dewata Bataraguru memberi kekuatan jiwa bagi mereka dalam menghadapi musuh, kekuatan jiwa dalam menghadapi saat yang genting, sehingga mereka tidak mengenal menyerah. Lalu menyusul Gondang Balabulan, agar Dewata Balabulan, memurkai dan mengutuk musuh. Melumpuhkan semangat musuh agar tidak berani menghadapi laskar mereka. Lalu Gondang Debata Sori mengikutinya agar dewata Sori memberi kebijaksanaan bagi para hulubalang dalam menyusun strategi perang. Dan, memberi keselamatan bagi mereka semua. Habis itu, menyusul Gondang Habo¬naran, yaitu yang menunjukkan bahwa mereka memang berada di pihak yang benar. Setiap yang berpihak pada kebenaran, pasti akan menang. Gondang Sitio-tio, memohon pada seluruh dewata, agar merahmati mereka, baik dalam pertempuran, begitu pula untuk selanjutnya. Sebagai penutup, dimainkan Gondang Husahatan, supaya tiba ke tempat yang dicitakan, sampai kepada kemenangan akhir.

Datu Bolon mengakhiri tortor itu dengan menjampikan pantun kemenangan:

Mendaratlah perahu meniti ombak ketanah landai berangkat kita ke medan perang pantang pulang sebelum menang Semua, baik kerajaan, begitu pula para hulubalang, dan laskar menyambut dengan sorak-sorai dan gemuruh.

Orang kembali duduk ke tempat masing-masing. Tapi, Datu Bolon masih di tengah lingkaran, kemudian mengatakan, “Bawalah ke mari seekor ayam jantan putih yang sudah bertaji.”

Raja Ni Huta cepat memberikan yang diminta Datu Bolon. Datu Bolon langsung menjampi ayam itu. Kemudian, dipulasnya leher itu, sehingga menitikkan darah. Cepat-cepat dia mendekati kelompok kerajaan, lalu menyuruh mereka mereguk darah ayam yang masih mentah itu, langsung dari leher ayam yang dipulasnya. Kembali sorak-sorai.

Bangkai ayam diletakkan di tengah kelompok. Kembali dia bersemadi, entah berapa lama. Dalam saat begitu, gondang dipalu orang perlahan-lahan, hampir tidak kedengaran. Di saat begitu ratap perempuan dari Sopo Bolon kembali terdengar. Meratapi mayat Ama ni Boltung.

Seperti tidak tersangkakan, Datu Bolon meloncat dari jongkoknya sambil berteriak dan memekik. Kemudian berdiri tegak lurus, lalu mengatakan:

“Besok pagi bila fajar pertama terbit, serbulah musuh. Seranglah mereka dari segala arah. Desak mereka sampai ke tepi kampung induk marganya. Kamu bisa menerobos pertahanan kampung induknya dari arah timur. Di sana bambu duri pagar desa, masih muda. Kamu bisa menyusup dari sana ke tengah kampung tanpa dihalangi duri bambu yang rapat dan keras. Kucar-kacirkanlah mereka! Tawan setiap lelakinya yang masih hidup! Begitu pula para perempuan, jadikanlah budak belian. Bunuh kalau melawan atau berusaha melarikan diri!” Orang kembali bertempik sorak.

Ayam jantan putih tadi, mereka bakar langsung dengan bulunya sekali ke dalam api unggun. Di saat dagingnya belum masak benar, Datu Bolon telah membagikannya pada golongan raja, sebagai wakil para dewata memakan daging sembahan.

Pada tengah malam, Raja Ni Huta dari kampung sekitar yang masuk pangkat adik, lengkap dengan pasukan, telah tiba di sana. Raja Panggonggom menyambut mereka, dengan basa-basi kerajaan.

Raja Ni Huta yang pangkat adik itu, kemudian melaporkan bahwa mereka sudah siap sedia melaksanakan perinlah dan pangkat abang mereka. Lalu mereka mengambil tempat. Para laskarnya bersatu dengan laskar yang sejak tadi ada di sana. Raja Ni Huta yang tujuh orang itu, yang berarti ada tujuh kampung lagi masuk lingkungan kerajaan marga itu, duduk dekat raja, di tengah lingkaran. Setiap Raja Ni Huta pangkat

adik itu, memakai bolatan juga, tapi warna putihnya lebih kecil dari Raja Ni Huta yang berdiam di induk kampung marga. Lalu, kedengaran Raja Panggonggom berkata:

Rotan ras rotan singorong mengikat keutuhan marga bersatu raja dan hulubalang menjunjung martabat marga Raja Ni Huta yang tertua menyahut: Berbaris kami seperti gajah di hutan balantara perintah raja menjadi suluh kami abdi abadi ‘.

Raja Panggonggom melanjutkan:

Tujuh sisiku

menghadap tiap penjuru

indah mimpiku

hulubalang perkasa punyaku

Khalayak ramai serentak menyahut:

Kami genggam tombak

tombak pusaka godang

bila raja bersama khalayak

bahagia rakyatnya

Lalu gondang pun kembali dipalu. Raja Ni Huta yang tujuh orang itu manortor bersama, yang diiringi oleh seluruh rakyat yang mereka bawa. Tortor yang menunjukkan kesetiaan. Lalu, Raja Panggonggom turun dari tempatnya, menyelempangkan ulos-batak ke tiap pundak Raja Ni Huta yang tujuh itu.

Pertemuan itu tidak bubar sampai pagi hari. Mereka terus margondang dan terus manortor. Para hulubalang, bersama Raja Nagebu, telah selesai menyusun strategi dan taktik peperangan sesuai dengan petunjuk Datu Bolon. Tuak dan daging babi terus dihidangkan sampai hampir setiap orang sempoyongan. Dalam bergembira itu, terlupa terjun besok pagi ke kancah pertempuran.

Ronggur selalu menyisih dan meminum tuak seperlunya saja, menghalau dingin dari tubuh sehingga keseimbangan pikirannya tetap terpelihara. Dia melihat orang yang sedang menari, orang yang sedang bernyanyi, orang yang sedang dibius semangat, untuk memasuki nasib yang tidak terduga. Dia tahu pasti, beberapa orang di antara mereka akan jatuh menjadi korban dalam peperangan. Mati! Semua bayangan kemungkinan ini mempengaruhi pikiran dan perasaannya. Tapi, semua itu harus ditekan. Dia harus turut, malah menjunjung putusan kerajaan. Usulnya ditolak! Tapi, semangat usul itu tetap berakar dalam hati.

Bersama terbitnya fajar pagi yang memancar dari balik puncak Dolok Simanuk-manuk, para lelaki yang marah itu, yang sudah dibius semangat itu, bergerak menuju sasaran, memusnahkan musuh. Sambil bertempik dan bersorak. Di depan sekali berjalan para hulubalang. Kemudian kerajaan. Di sayap kanan dan kiri para laskar. Mengisi seluruh lapangan terbuka, yang punya tanah tipis dan di bawahnya batu alam yang keras. Kemudian menurun ke sawah yang baru dibajak. Mereka dihadang musuh pada sebuah sungai kecil. Pasukan dari marga lain itu, juga membawa senjata seperti yang mereka bawa. Jarak antara kedua pasukan itu dipisah sebuah sungai kecil yang airnya dangkal. Kerajaan dari marga lain itu, turut bersama laskarnya. Tak ubah seperti kerajaan marga mereka sendiri. Lengkap dengan Datu Bolonnya. Manusia di seberang kali sana pun bertempik sorak. Mengacung-acungkan senjata tajam. Wajah manusia itu tak ubah seperti wajah mereka sendiri, marah, mendendam.

Batu yang dilemparkan ambalang, berterbangan di udara. Kemudian jatuh mencari sasaran, kepala manusia. Dari segala arah kedengaran pekik dan jeritan, hardik dan hasutan. Bercampur baur dengan udara yang terik. Seolah matahari mau membakar setiap tubuh manusia dan bumi. Debu mengepul ke udara di tempat kering. Lumpur berhamburan

lalu mengotori wajah manusia di tempat basah. Tempik dan sorak, pekik, hardik, dan hasutan terus menerus bergema.

Pasukan kedua marga yang sedang marah itu, sorong-menyorong. Tidak ada yang mau kalah. Jarak antara keduanya bertambah dekat. Ambalang tidak digunakan lagi. Langsung tombak, panggada, dan kampak dipukulkan dan ditangkis perisai. Siapa yang jatuh, jatuh tersungkur tanpa diperdulikan, malah menimbulkan kegembiraan bagi orang yang dapat merubuhkannya. Kedua pasukan marga itu sudah sama-sama terjun ke dalam sungai. Di sana mereka bersicucukan, bersihantaman, dan bersipu-kulan dengan segala macam taktik dan cara. Matahari terus bersinar terik. Pasukan kedua marga itu sama banyak, sama kuat, dan sama berani.

Sehari itu keadaan pertempuran tidak berobah. Beberapa orang yang luka di bawa ke garis belakang oleh para perempuan. Beberapa-orang yang mati dibawa ke garis belakang juga, tapi tidak sempat ditangisi. Anak-anak pun sudah turut serta. Mengumpulkan batu, yang segera diberikan pada para lelaki pemegang ambalang. Tapi, batu itu tidak sempat lagi dilemparkan dengan ambalang, langsung dilemparkan tangan. Dan terkadang tidak jarang, anak itu turut terjun ke tengah pertempuran untuk memukul atau dipukul.

Bila senja tiba, kedua pasukan marga itu saling meninggalkan daerah pertempuran. Mereka disambut gendang dan tortor para orang tua, para perempuan, para gadis di induk kampung. Daging babi, tuak, terus diedarkan membakar semangat bertempur. Datu Bolon terus-menerus menjampi. Lalu, memberi nasihat baru.

Dan, bila fajar terbit lagi, mereka kembali terjun ke daerah pertempuran. Di tengahnya, Ronggur mengamuk ke kiri dan ke kanan. Ronggur bersama beberapa pemuda menyusup ke depan, berusaha mengkucar-kacirkan daerah musuh. Susupan

mereka ini cepat diikuti gelombang kedua, ketiga, dan keempat, yang membuat pertahanan musuh tembus. Musuh kelabakan. Tapi, yang hendak dikucar-kacirkan itu, tidak mau menyerah begitu saja. Mereka juga mengadakan perbaikan pada pertahanannya dengan cepat. Lalu mengadakan pukulan balasan. Tapi, pasukan marga Ronggur mengadakan desakan yang terus-menerus, bertubi-tubi, sehingga garis pertahanan musuh mulai dipukul mundur. Sampai akhirnya mendekat ke kampung musuh.

Malam itu pasukan marga Ronggur tidak kembali ke induk kampung. Mereka terus mengepung induk kampung musuh. Pagi berikutnya pasukan marga Ronggur menyerbu induk kampung musuh dari sebelah timur, seperti yang dinasihatkan Datu Bolon. Melalui bambu duri yang masih muda, mereka menerjang ke tengah kampung, dengan pekikan yang melengking.

Dengan segala tenaga yang ada, marga yang diserbu itu mengadakan perlawanan. Ikut sudah para perempuan, baik yang tua begitu pula yang masih gadis. Tampaknya tidak akan habis perlawanan itu sebelum mereka mati semua. Mampus semua.

Dari tempat ketinggian, sekali waktu Ronggur melihat, anak gadis Raja Nabegu kampung yang mereka serbu, turut mengadakan perlawanan. Rambutnya yang panjang terurai lepas. Dibasahi oleh keringat. Dilihat biji mata Ronggur sendiri, sudah ada dua tiga orang pasukan marganya ditumbangkan anak gadis itu. Dengan satu loncatan jarak jauh, Ronggur sudah berada di hadapan perempuan itu. Mata perempuan itu memancarkan sinar merah, mengapi, hendak menelan Ronggur bulat-bulat. Perempuan itu memukulkan penggada ke arah Ronggur. Tapi, Ronggur mengelak dengan melompat, dan peng-gadanya sendiri mengenai tengkuk perempuan itu sampai jatuh ke tanah. Dalam hati Ronggur berucap

“Sungguh perempuan pemberani!”

Juga, sekali waktu menumbangkan seseorang yang sedang membidikkan tombaknya ke arah Raja Panggonggom marganya. Sewaktu Raja Panggonggom dan pengawalnya ke arah lain. Cepat Ronggur menyergap orang itu. Tapi, tangannya sendiri, lengannya, luka. Namun musuhnya dapat ditumbangkannya dengan menghantamkan penggada ke kepala musuh. Otak meleleh dari luka. Raja Panggonggom melihat ini semua.

Luka di lengannya cepat dibalut Ronggur. Lalu terjun lagi ke tengah pertempuran yang dahsyat itu.

Asap pun mulai mengepul. Rumah sudah mulai dibakar. Padi dari lumbung desa diangkut, juga harta rampasan perang. Para lelaki yang belum mati, begitu pula para perempuan yang belum mati, ditawan. Untuk dijadikan budak belian. Yang sampai keturunannya kelak akan tetap dan tidak bisa terangkat dari martabat budak. Tidak akan berhak lagi mengadakan pekerjaan adat. Harus patuh setiap saat mengerjakan apa saja yang diperintahkan tuannya.

Kampung berdekatan dengan induk kampung itu sudah dibakar. Perang sudah berakhir. Kekalahan dipihak marga yang diserbu. Para rakyatnya yang masih hidup sudah ditawan, dirantai.

Ronggur teringat pada perempuan yang ditumbangkannya. Cepat dia menuju ke sana. Keringat melelehi seluruh tubuhnya. Entah kenapa hatinya mengharapkan agar pukulannya hendaknya tidak terlalu keras. Dia mengharapkan, hendaknya perempuan itu masih hidup. Dia mau menawannya.

Merasa bersyukur dia, perempuan itu masih merintih. Cepat dia mengambil air lalu diusapnya wajah perempuan itu dengan air. Kemudian diberinya minum. Didengarnya suara gadis itu perlahan mengatakan:

“Aku harus bersama kalian, hai lelaki margaku. Pertahankan martabat marga kita. Sampai mati!”

Ronggur tersenyum mendengar rintihan itu. Dia dapat menghargai keberanian dan semangat perlawanan yang dipunyai perempuan itu.

Matahari sore dengan lembut memancarkan sinar, seperti sudah turut lesu menyaksikan peperangan yang baru saja berakhir dan banyak menimbulkan korban. Menjadi sumber rintihan, air mata, dan dendam. Dengan pekik kemenangan pasukan laskar marga Ronggur menuju pulang ke induk perkampungan. Sambil melangkah mereka lagukan nyanyi kemenangan. Tangan menarik para tawanan. Sebagian disuruh mengangkut harta rampasan.

Nanti akan dibagi-bagikan pada tiap keluarga, terutama pada keluarga yang suaminya atau anak lelakinya jatuh sebagai pahlawan di medan laga. Lebihnya akan dimasukkan ke dalam lumbung desa.

Ronggur menarik tali yang mengikat perempuan yang ditawannya. Perempuan itu selalu meronta dan ingin melepaskan diri. Ronggur tersenyum saja dan terus menarik tali dengan tabah.

Di gerbang kampung, para perempuan, lelaki yang sudah tua, dan lelaki yang luka menyambut mereka. Begitu pula anak-anak yang masih digendong, disuruh ibunya melambaikan tangan ke arah ayah, abang mereka yang pulang dari peperangan sebagai pemenang. Sedang para perempuan yang tidak dikunjungi suaminya lagi, tidak dikunjungi anak lelakinya lagi, karena mati dalam pertempuran, pergi bersama ke Sopo Bolon mengasingkan diri dari orang yang sedang bergembira. Di sana mereka meratap dengan lemah. Diusahakan agar tidak mengganggu kegembiraan para pahlawan yang menang perang. Agar tidak mengotori rasa gembira pada Mula Jadi Na Bolon dan seluruh para dewata serta arwah nenek moyang, karena mereka telah

dipilihnya menjadi pemenang, yang dengan sendirinya mengangkat martabat marga dan raja mereka. Sendirinya pula daerah taklukan mereka bertambah luas. Kampung marga yang mereka kalahkan, akan dijadikan kampung perluasan bagi marga mereka. Sawahnya akan diambil dan dibagi¬bagikan.

 

Upacara kemenangan pun diadakan. .Beberapa ekor babi dipotong lagi dan darahnya diminum bersama. Gondang dipalu dan tortor kemenangan ditarikan orang bersama-sama. Sebagai penutup upacara Raja Panggonggom mengucapkan terima kasih pada seluruh laskarnya. Baik yang sudah mati begitu pula pada yang masih hidup. Harta rampasan dibagi. Tanah persawahan rampasan juga ditentukan jatuh ke tangan siapa. Pun, dengan suka rela dimintakan pada setiap orang yang mau pindah ke kampung yang ditaklukkan itu. Diizinkan mereka mendirikan rumah di situ. Jadilah kemudian kampung itu menjadi kampung perluasan marga. Yang harus tunduk ke induk kampung. Pada tiap kampung sebagai pelaksana adat dan penyelenggara hukum, ditunjuk beberapa orang yang cukup berjasa menjadi Raja Ni Huta. Raja Panggonggom melirik secara khusus pada Ronggur, lalu, “Ronggur, dalam pertempuran kau telah menyelamatkan nyawa kami. Sekarang giliran kami membalas jasamu yang besar itu. Katakanlah, kehendakmu!”

Ronggur memohonkan agar padanya diberi kekuasaan untuk terus menawan tawanannya, menjadikannya sebagai budak untuk membantu ibunya yang sudah tua mengerjakan urusan rumah, mencabuti rumput sawah bila saatnya tiba. Justru karena Ronggur tidak punya adik perempuan. Dia anak tunggal.

Permintaan itu dikabulkan. Dikatakan pula, Raja Ni Huta induk kampung musuh yang ditaklukkan itu, dikuasakan pada Ronggur. Tapi, karena dia belum berumah tangga, jadi belum cukup dewasa dalam peralatan adat dan hukum, ditunjuk

seseorang menjadi walinya, yang disetujui Ronggur sendiri. Sawahnya yang ada dekat induk kampung marganya diserahkan pada kerajaan. Sebagai gantinya diberikan kepadanya sawah yang dulu dimiliki Raja Nabegu dari marga yang mereka kalahkan.

Sejak hari itu, Ronggur dikenal orang sebagai Raja Ni Huta Muda merangkap Hulubalang Muda.

Untuk beberapa hari, orang masih tetap dipengaruhi suasana kegembiraan menang perang. Pesta kemenangan dilangsungkan tiga hari tiga malam. Walaupun pesta sudah selesai, ingatan orang masih tetap terpaut ke sana. Di sana sini Ronggur mendengar orang mengatakan:

“Dengan cara beginilah kita harus menguasai tanah persawahan subur yang ada di sekitar danau untuk melanjutkan keturunan.”

Beberapa orang ampangardang, baik dari marga sendiri begitu pula dari marga lain yang masih banyak bertabur di sekitar danau, menghapal jalannya pertempuran lalu memindahkannya ke bentuk yang dapat dinyanyikan. Mereka tebarkan dari mulut ke mulut sambil memetik kecapi. Beberapa nama pahlawan timbul, menjadi tokoh keberanian dan ketangkasan serta kesetiaan termasuk nama Ronggur sendiri.

Tapi, Ronggur sendiri, sehabis pesta kemenangan itu cepat-cepat mengerahkan rakyat yang suka rela pindah ke induk kampung musuh yang dikuasakan padanya. Membangun perumahan baru di atas puing-puing reruntuhan. Oleh tugas yang banyak dan memang dia sendiri ingin cepat melupakan saat menanjakkan marganya ke tingkat yang lebih tinggi dan meningkatkan kedudukan dirinya sendiri, cepat dilupakannya.

Memang dia sudah menjadi Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda, orang tidak berani lagi atau tidak wajar lagi menyebut nama kecilnya. Orang selalu menyebut atau

memanggilnya dengan Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s